JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin masuk dalam bursa calon Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Indonesia mengajukan Budi sebagai salah satu kandidat prospektif untuk memperebutkan posisi tertinggi di organisasi kesehatan dunia tersebut.
Berdasarkan informasi resmi WHO yang dikutip Senin (24/8/2026), Budi tercantum dalam daftar prospective candidates bersama tiga nama lain, yakni Hanan Mohammed Al-Kuwari yang diusulkan Qatar, Hanan Balkhy dari Arab Saudi, serta Hans Henri P. Kluge yang diusulkan Belgia.
Namun, daftar tersebut belum menjadi daftar final kandidat. Proses pencalonan masih berlangsung hingga 24 September 2026. WHO menyatakan nama dan proposal pencalonan akan dipublikasikan setelah tahapan pencalonan resmi ditutup.
Pemilihan Direktur Jenderal WHO kali ini akan menentukan pengganti Tedros Adhanom Ghebreyesus. Masa jabatan kedua Tedros berakhir pada 15 Agustus 2027, sementara Direktur Jenderal terpilih dijadwalkan mulai menjalankan tugas pada 16 Agustus 2027.
Masuknya nama Budi menjadi perhatian karena latar belakangnya berbeda dari banyak figur yang selama ini memimpin organisasi kesehatan global. Ia tidak berasal dari profesi dokter, melainkan memiliki latar belakang pendidikan fisika nuklir serta pengalaman panjang di sektor perbankan, korporasi, dan pemerintahan.
Budi memulai karier profesionalnya di sektor swasta sebelum menduduki sejumlah posisi strategis di industri perbankan. Ia pernah menjadi Direktur Utama Bank Mandiri pada 2013 hingga 2016 dan kemudian memimpin PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), perusahaan induk pertambangan milik negara.
Setelah itu, Budi masuk pemerintahan sebagai Wakil Menteri BUMN sebelum dipercaya menjadi Menteri Kesehatan pada Desember 2020. WHO mencatat Budi memimpin respons Indonesia terhadap pandemi Covid-19, termasuk pelaksanaan program vaksinasi berskala besar.
Di bawah kepemimpinannya, Kementerian Kesehatan juga menjalankan berbagai agenda transformasi sistem kesehatan. WHO mencatat Budi melanjutkan kebijakan penguatan layanan kesehatan primer dan rujukan, kapasitas laboratorium serta surveilans genomik, integrasi kesehatan digital, hingga penguatan produksi farmasi dan alat kesehatan dalam negeri.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal Budi dalam kiprahnya di tingkat internasional. Ia saat ini tercatat memiliki sejumlah peran dalam organisasi dan inisiatif kesehatan global, termasuk sebagai anggota dewan Gavi, the Vaccine Alliance, yang mewakili kawasan WPRO-SEARO, serta menjadi salah satu ketua TB Vaccine Accelerator Council.
Budi juga pernah terlibat dalam forum internasional yang membahas pembiayaan dan ketahanan sistem kesehatan. Pengalaman di sektor keuangan dan pemerintahan dinilai relevan dengan tantangan yang dihadapi WHO, terutama dalam menjaga keberlanjutan pembiayaan organisasi dan program kesehatan global.
Meski demikian, pencalonan Budi masih berada pada tahap awal. Negara-negara anggota WHO masih memiliki kesempatan mengajukan kandidat hingga batas waktu 24 September 2026 pukul 18.00 waktu Eropa Tengah. Setelah seluruh proposal diterima, proses selanjutnya akan melibatkan Dewan Eksekutif WHO.
Dewan Eksekutif pada sidang ke-160 pada 2027 akan melakukan proses seleksi dan mengajukan maksimal tiga kandidat kepada World Health Assembly (WHA). Selanjutnya, WHA ke-80 yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2027 akan memilih Direktur Jenderal WHO melalui pemungutan suara.
Dengan demikian, empat nama yang saat ini tercantum sebagai kandidat prospektif belum otomatis menjadi empat kandidat final yang akan bertarung dalam pemilihan. Peta persaingan masih sangat mungkin berubah hingga pencalonan ditutup.
Proses pemilihan juga akan berlangsung dalam sejumlah tahapan terbuka. WHO telah menetapkan forum kandidat pertama mulai 18 November 2026 dan forum kandidat kedua pada 15 Maret 2027 apabila terdapat lebih dari satu kandidat.
Bagi Indonesia, pencalonan Budi Gunadi Sadikin membuka peluang lebih besar bagi negara berkembang, khususnya kawasan Asia Tenggara, untuk memainkan peran dalam kepemimpinan kesehatan global. Namun, perjalanan menuju posisi Direktur Jenderal WHO masih panjang dan akan ditentukan melalui mekanisme resmi organisasi.
Direktur Jenderal WHO memiliki peran sebagai pejabat teknis dan administratif tertinggi organisasi. Posisi tersebut bertanggung jawab memimpin agenda kesehatan global, mengawasi kerja WHO, mewakili organisasi di tingkat internasional, serta mendukung negara-negara anggota dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.
Karena itu, pencalonan Budi bukan hanya menjadi persaingan personal, tetapi juga membawa kepentingan diplomasi kesehatan Indonesia di tingkat global. Keputusan akhir mengenai siapa yang akan memimpin WHO akan ditentukan melalui proses pemilihan yang melibatkan negara-negara anggota pada 2027. (UM/09)










