TANGSEL-BANTEN, SUDUTPANDANG.ID – Sinergi kerja sama antara lembaga konservasi satwa “ex-situ” (di luar habitat alami) Aviary Park Indonesia dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berhasil menyelamatkan cedera patah kaki seekor burung hantu ketupu (ketupa ketupu) yang juga dikenal dengan “Buffy Fish Owl”.
“Melalui penyelamatan, rehabilitasi, dan program penangkaran, Aviary Park Indonesia bersama BKSDA berupaya memastikan spesies luar biasa ini tetap lestari untuk generasi mendatang,” kata Presiden Direktur Aviary Park Indonesia, Michael Sumampau melalui melalui Manajer Marketing Communications Aviary Park Indonesia, Fajar Muharram dalam taklimat media yang diterima sudutpandang.id di Tangerang Selatan (Tangsel), Provinsi Banten, Selasa (18/8/2026).
Burung hantu ketupu, merupakan predator yang hidup di sekitar sungai, rawa, dan kawasan perairan.
Di dunia burung hantu, kebanyakan spesies dikenal sebagai pemburu tikus atau hewan kecil di daratan. Namun, ada satu spesies yang memiliki kebiasaan berbeda dan cukup unik dibandingkan kerabatnya. Burung tersebut adalah ketupa ketupu, yang dikenal sebagai pemburu di wilayah perairan.
Secara kronologi, Michael Sumampau menjelaskan bahwa pihaknya pada bulan April 2026, melalui tim medis Aviary Park Indonesia, menerima seekor burung hantu ketupu muda dari BKSDA Jakarta, yang dinamai “Buka”.
Dengan berat hanya 710 gram, kata dia, “Buka” datang dalam kondisi memrihatinkan karena satwa itu kondisinya hanya bisa berbaring dengan kaki kiri yang menggantung lemas.
“Tidak semua satwa cedera yang datang ke kami dalam kondisi masih mampu bertengger,” katanya.
Setelah ditelaah, katanya, ternyata masalahnya lebih serius dari dikira.
“Hasil pemeriksaan X-ray menunjukkan bahwa tulang tibia (tulang kering utama) ‘Buka’ patah total, sementara tulang fibulanya mengalami retak,” katanya.
Ia menegaskan bahwa bagi seekor burung hantu pemburu ikan, kaki adalah segalanya. Cakar mereka digunakan untuk menangkap ikan, katak, hingga kepiting di alam liar.
“Tanpa kaki yang berfungsi dengan baik, peluang bertahan hidup hampir tidak ada,” katanya.
Tim, kata dia, saat itu langsung berpikir atas satu pertanyaan besar yang muncul, yakni apakah bisa “Buka” dapat berdiri kembali?

Dilakukan Operasi
Atas kondisi itu, katanya, maka diputuskan bahwa tindakan operasi harus segera dilakukan.
Melalui operasi kecil dengan pekerjaan yang sangat presisi, tambahnya, selama kurang lebih satu jam, tim dokter hewan melakukan operasi ortopedi menggunakan dua teknik sekaligus.
Pertama, “internal pin”, yaitu pin logam yang dipasang di dalam tulang untuk menyambungkan kembali bagian yang patah dan kedua, “external fixation”, yaitu rangka penyangga dari luar yang menjaga posisi tulang tetap stabil selama proses penyembuhan.
Hasilnya, kata dia, begitu sadar dari anestesi, “Buka” langsung mampu berdiri sehingga momen kecil itu membuat seluruh tim tersenyum lega.
Lalu, selama beberapa pekan berikutnya, “Buka” menjalani proses pemulihan yang tidak mudah. Ia harus beristirahat di kandang khusus agar tulangnya tidak kembali bergeser.
Setiap hari tim memberikan obat, membersihkan luka, memantau berat badan, hingga memastikan setiap pin tetap dalam kondisi baik.
Kemudian, sedikit demi sedikit “Buka” mulai kembali menggenggam ranting menggunakan kaki kirinya, di mana setiap perkembangan kecil menjadi kabar baik dinantikan.
Selanjutnya, pada pertengahan Mei, seluruh perjuangan itu mulai membuahkan hasil, di mana tulangnya menyatu dengan baik, pin logam berhasil dilepas dan berat badannya meningkat menjadi 761,9 gram.
Yang paling membahagiakan, menurut dia, “Buka” kembali berdiri tegak, bertengger, dan menggunakan kedua kakinya seperti burung hantu sehat pada umumnya.
“Ini sulit dipercaya bahwa beberapa pekan sebelumnya ia bahkan tidak mampu berdiri,” katanya.

Namun karena mengalami human imprinting (terlalu terbiasa dengan manusia), “Buka” tidak dapat dilepas-liarkan kembali, sehingga “Buka” menjadi bagian dari keluarga besar Aviary Park Indonesia dan akan dirawat sebagai bagian dari program konservasi dan penangkaran. FOTO: HO-Marcomm Aviary Park Indonesia
Kesempatan Kedua
Dalam perkembangannya, pada 18 Juni 2026, “Buka” dinyatakan sehat dan resmi diserahkan kembali kepada BKSDA Jakarta.
Namun karena mengalami human imprinting (terlalu terbiasa dengan manusia), “Buka” tidak dapat dilepas-liarkan kembali.
Kini, katanya, “Buka” menjadi bagian dari keluarga besar Aviary Park Indonesia dan akan dirawat sebagai bagian dari program konservasi dan penangkaran.
“Bagi kami, konservasi bukan hanya menyelamatkan satwa yang terluka, tetapi juga memastikan mereka tetap memiliki masa depan,” demikian Michael Sumampau.
Aviary Park Indonesia merupakan lembaga konservasi “ex-situ” satwa dan juga destinasi wisata edukasi dan keluarga bertema “Bird & Butterfly Sanctuary”, yang menghadirkan pengalaman rekreasi, edukasi, dan interaksi satwa dalam suasana alam yang nyaman.
Berlokasi di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Aviary Park Indonesia menjadi pilihan wisata keluarga untuk menikmati keindahan burung, kupu-kupu, dan berbagai aktivitas menarik di area taman burung.(Red/02)







