Tukša: Ketika Ruang Putih Menjadi Cermin Kehampaan Manusia

Lionel Jaden Huang Tukša: Ketika Ruang Putih Menjadi Cermin Kehampaan Manusia
Lionel Jaden Huang, Siswa Kelas XI IPS, Calvin School Sunter. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Lionel Jaden Huang|Siswa Kelas XI IPS|Calvin School Sunter 

Aku ingin mati.

Telah berapa lama kuhabiskan waktuku di tempat terkutuk ini?

Di sini, hidupku terasa telah berlangsung selama satu abad. Ironisnya, aku baru saja menyadari bahwa waktu yang kuhabiskan di tempat hampa ini bahkan belum mencapai satu hari.

Aku berada di sebuah ruangan putih.

Semuanya putih.

Lampu neon di atas kepalaku berwarna putih. Dinding, lantai, bahkan pakaian yang melekat di tubuhku pun putih. Tidak ada jendela. Tidak ada pintu yang dapat kulihat. Tidak ada sudut ruangan yang bisa kutemukan. Seolah-olah tempat ini tidak memiliki awal maupun akhir.

Bagi sebagian orang, putih mungkin melambangkan kesucian. Surga. Kedamaian.

Bagiku, putih adalah neraka.

Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di sini. Yang kuingat hanyalah ketika aku membuka mata, aku sudah berada di dalam ruangan ini. Rambutku dicat putih. Aku mengenakan pakaian tahanan berwarna putih. Di dada pakaian itu terdapat sebuah kode: F000.

Aku bukan lagi manusia dengan nama.

Aku hanya sebuah nomor.

Sesekali terdengar suara langkah kaki dari luar, tetapi tidak pernah ada seorang pun yang masuk. Tidak ada percakapan. Tidak ada penjelasan. Hanya keheningan yang perlahan menggerogoti pikiranku.

Kemudian, suatu ketika, suara seorang penjaga terdengar dari balik dinding.

“Jangan lupa untuk berpikir mengapa bajingan seperti kau ada di sini, F000.”

Setelah itu, kembali sunyi.

Aku tidak tahu harus memikirkan apa.

Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih pantas disebut manusia.

Mungkin karena itu aku mulai membenturkan kepalaku ke dinding.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Aku terus melakukannya sampai rasa sakit menjalar ke seluruh kepalaku. Darah mengalir dari kening dan menetes ke lantai putih.

Namun, sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.

Dinding itu tetap putih.

Tidak ada noda darah. Tidak ada bekas benturan. Tidak ada retakan.

Seolah-olah semua yang kulakukan tidak pernah terjadi.

Aku berhenti.

Napas tersengal.

Untuk pertama kalinya, aku merasa takut pada ruangan ini.

Bukan karena tempat ini menyakitiku.

Melainkan karena tempat ini membuat semua penderitaanku terasa tidak berarti.

Aku kemudian duduk di lantai.

Menatap kosong ke depan.

Entah berapa lama aku berada dalam posisi itu sampai akhirnya terdengar suara lain.

“Sudah selesai?”

Aku menoleh.

Di sudut yang sebelumnya tidak pernah ada, berdiri seorang pria paruh baya.

Aku tidak tahu dari mana dia datang.

Wajahnya terlihat lelah. Kantung matanya begitu gelap, seolah-olah dia sudah bertahun-tahun tidak tidur. Bau alkohol tercium dari tubuhnya, bercampur dengan aroma rokok yang samar.

Di tangannya terdapat sebotol vodka.

Ia menatapku tanpa ekspresi.

“Kau siapa?” tanyaku.

Pria itu tidak menjawab.

Ia hanya duduk beberapa meter dariku dan meneguk minumannya.

Beberapa saat kemudian, terdengar tawa kecil.

Aku kembali menoleh.

Seorang pria lain telah muncul.

Rambutnya berantakan. Wajahnya penuh senyum yang sulit kuartikan. Berbeda dengan pria pertama, ia terlihat jauh lebih santai.

“Lukyan,” katanya.

Aku terdiam.

“Bagaimana kau tahu namaku?”

Ia tertawa.

“Kau sendiri yang memberitahuku.”

“Aku tidak pernah memberitahumu.”

“Benarkah?”

Ia berjalan mendekat, lalu duduk di hadapanku.

“Kalau begitu, mungkin kau hanya lupa.”

Aku memandang kedua pria itu bergantian.

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Aku mengenal mereka.

Entah dari mana.

Entah sejak kapan.

Tetapi semakin keras aku mencoba mengingatnya, semakin kepalaku terasa sakit.

“Kenapa aku ada di sini?” tanyaku.

Pria berambut berantakan itu tersenyum.

“Karena kau memilihnya.”

“Aku tidak memilih apa pun.”

“Semua orang mengatakan begitu.”

Ia tertawa lagi.

“Kau selalu merasa menjadi korban keadaan, Lukyan.”

Pria paruh baya itu akhirnya berbicara.

“Padahal kau hanya menyerahkan dirimu sendiri.”

Aku menatapnya.

“Menyerahkan diri kepada siapa?”

Ia menunjuk ke sekeliling ruangan.

“Ke tempat ini.”

Aku melihat kembali dinding putih di belakang mereka.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu.

Mungkin ruangan ini bukan penjara.

Mungkin aku sendirilah yang membuatnya.

Dan mungkin, kedua pria yang berdiri di hadapanku bukanlah orang asing.

Mungkin mereka adalah bagian dari diriku yang selama ini tidak pernah ingin kuakui.

Aku menelan ludah.

“Siapa kalian sebenarnya?”

Keduanya saling berpandangan.

Kemudian tersenyum.

Tidak ada yang menjawab.

Di ruangan putih itu, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa aku tidak benar-benar sendirian.

Dan entah mengapa, hal itu justru membuatku semakin takut.

Bagian 2 – Kabanov

Moscow.

Aku masih mengingat kota itu.

Dingin yang menusuk kulit, langit kelabu, dan gedung-gedung tua yang berdiri seperti saksi bisu atas kehidupan manusia yang tidak pernah benar-benar berubah.

Namun, tempat yang paling kuingat bukanlah jalanan Moscow.

Melainkan sebuah kantor.

Kantor itu selalu terasa pengap. Pendingin udara sudah lama rusak, sementara bau keringat, uang, dan keputusasaan bercampur menjadi satu.

BACA JUGA  Oase GRC di Tengah Gurun Obesitas Birokrasi: Rencana Menambah Mesin Percepatan Perumahan

Setiap pagi, aku datang dengan perasaan yang sama.

Lelah.

Bukan karena pekerjaan.

Aku lelah karena harus terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Di tempat itu, kami bekerja bukan untuk hidup.

Kami bekerja agar tidak kehilangan pekerjaan.

Dan di atas kami ada satu orang yang selalu memastikan ketakutan itu tetap hidup.

Namanya Kabanov.

Seorang pria botak dengan tubuh besar dan perut yang hampir selalu menonjol dari balik kemejanya. Wajahnya jarang menunjukkan keramahan. Jika berbicara, suaranya terdengar seperti perintah.

Hari itu, aku dipanggil ke ruangannya.

“Lukyan!”

Aku masuk.

Kabanov sedang duduk di balik meja. Sebuah laporan audit tergeletak di hadapannya.

Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.

“Kau yang membuat laporan ini?”

“Ya.”

“Bodoh.”

Aku diam.

“Bahkan anak magang bisa membuat laporan lebih baik daripada ini.”

Aku masih diam.

“Kenapa diam?”

“Apa yang harus saya katakan?”

Kabanov berdiri.

“Kau seharusnya tahu.”

Ia melempar laporan itu ke arahku.

Kertas-kertasnya berhamburan di lantai.

“Perusahaan membayar kalian untuk bekerja, bukan untuk berpikir.”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku bergerak.

Tetapi aku menahannya.

Aku sudah terlalu sering mendengar hinaan semacam itu.

Sudah terlalu sering menelan kemarahan.

Sudah terlalu sering mengatakan kepada diriku sendiri:

Besok akan lebih baik.

Namun, besok tidak pernah datang.

Yang datang hanya hari berikutnya dengan penghinaan yang sama.

Kabanov mendekat.

“Kalau laporan ini tidak selesai malam ini, jangan datang lagi besok.”

Aku menatapnya.

“Baik.”

“Keluar.”

Aku berbalik.

Namun, sebelum tanganku menyentuh gagang pintu, ia kembali berbicara.

“Dan jangan membuatku menyesal sudah mempertahankanmu.”

Aku berhenti.

Ada sesuatu yang pecah di dalam kepalaku.

Aku tidak tahu apa.

Mungkin kesabaran.

Mungkin harga diri.

Mungkin sesuatu yang jauh lebih dalam.

Mataku kemudian tertuju pada sebuah benda di atas lemari.

Patung beruang liar berwarna perak.

Aku tidak tahu mengapa benda itu menarik perhatianku.

Aku mengambilnya.

Kabanov menatapku dengan bingung.

“Lukyan?”

Aku tidak menjawab.

Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa sangat sunyi.

Kemudian semuanya terjadi begitu cepat.

Aku mengangkat patung itu.

Lalu menghantamkannya ke kepala Kabanov.

Sekali.

Tubuhnya terhuyung.

Aku kembali menghantamnya.

Setelah itu, semuanya diam.

Kabanov terjatuh.

Aku berdiri di sana sambil memandangi tubuhnya.

Tanganku gemetar.

Aku tidak merasa lega.

Aku juga tidak merasa marah.

Aku hanya merasa kosong.

Pintu ruangan terbuka.

Maska, sekretaris Kabanov, berdiri di ambang pintu.

Wajahnya pucat.

Ia menatap Kabanov.

Kemudian menatapku.

“Apa yang kau lakukan?”

Aku tidak menjawab.

Ia mundur beberapa langkah.

“Kau membunuhnya.”

Kalimat itu terdengar sangat jauh.

Seolah-olah bukan aku yang berada di ruangan itu.

Maska segera berlari keluar.

Aku masih berdiri di tempat yang sama.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari lorong.

Polisi datang.

Aku tidak melawan.

Tidak berusaha melarikan diri.

Aku hanya menyerahkan kedua tanganku ketika mereka memasang borgol.

Saat itu, aku berpikir mungkin semuanya akan berakhir.

Namun, ternyata aku salah.

Karena ketika aku menutup mata, dunia perlahan berubah menjadi putih.

Putih.

Putih yang sama.

Putih yang tidak memiliki ujung.

Dan sebelum kesadaranku benar-benar menghilang, aku mendengar suara yang sangat familiar.

“Jangan lupa untuk berpikir, Lukyan.”

Aku membuka mata.

Aku kembali berada di ruangan itu.

Ruangan putih.

F000.

Sendirian.

Atau setidaknya, begitulah yang kupikirkan.

Bagian 3 – Hari-Hari yang Hilang

Aku tidak tahu sudah berapa lama berada di ruangan putih itu.

Pada awalnya, aku mencoba menghitung hari.

Setiap kali aku terbangun, aku membuat satu goresan kecil di dinding.

Satu goresan untuk satu hari.

Setidaknya, itu yang kupercayai.

Namun, lama-kelamaan aku mulai kehilangan hitungan.

Goresan-goresan itu semakin banyak, sementara ingatanku semakin sedikit.

Aku bahkan mulai lupa kapan terakhir kali melihat warna selain putih.

Tidak ada matahari.

Tidak ada malam.

Lampu neon di atas kepalaku terus menyala dengan cahaya yang sama.

Aku tidak tahu apakah aku sedang tidur pada siang hari atau malam hari.

Aku hanya tahu bahwa aku masih ada.

Dan entah mengapa, keberadaan itu terasa seperti hukuman.

Setiap beberapa waktu, sebuah nampan makanan muncul begitu saja di lantai.

Tidak ada orang yang mengantarnya.

Tidak ada suara pintu.

Tidak ada penjelasan.

Hanya sebuah mangkuk berisi bubur berwarna abu-abu.

Aku membencinya.

Rasanya hambar.

Tidak ada garam.

Tidak ada bumbu.

Tidak ada sesuatu yang bisa membuatku mengingat makanan sebagai bagian dari kehidupan.

Pada hari-hari pertama, aku tidak menyentuhnya.

Aku masih memiliki sedikit harga diri.

Aku berpikir, kalau mereka ingin membuatku menderita, aku tidak akan memberi mereka kepuasan.

BACA JUGA  OC Kaligis: Lagi-lagi Kasus Garuda

Aku membiarkan mangkuk itu tetap berada di lantai.

Satu jam.

Dua jam.

Entah berapa lama.

Namun, rasa lapar tidak peduli pada harga diri.

Perutku mulai terasa sakit.

Tubuhku melemah.

Akhirnya, aku mengambil mangkuk itu.

Aku makan.

Tidak ada rasa.

Aku kembali makan.

Dan semakin sering aku memakannya, semakin aku menyadari sesuatu yang sederhana:

Manusia dapat menerima hampir apa pun ketika tubuhnya sudah terlalu lapar.

Bahkan sesuatu yang sebelumnya dianggap menjijikkan.

Aku menghabiskan bubur itu sampai tidak tersisa.

Kemudian aku meletakkan mangkuk kosong di sampingku.

Aku menatapnya lama.

Entah mengapa, aku merasa sedih.

Bukan karena makanannya.

Melainkan karena aku mulai terbiasa.

Aku mulai terbiasa dengan ruangan ini.

Terbiasa dengan cahaya putih.

Terbiasa dengan kesunyian.

Terbiasa dengan makanan abu-abu.

Terbiasa dengan tidak adanya manusia.

Dan mungkin, itulah hal yang paling menakutkan.

Bukan ketika manusia disiksa.

Melainkan ketika manusia mulai terbiasa dengan penderitaannya.

Aku kembali membuat goresan di dinding.

Satu.

Dua.

Tiga.

Aku berhenti.

Aku tidak tahu goresan ke berapa yang sedang kubuat.

Aku menatap tanganku sendiri.

“Kapan ini akan berakhir?”

Tidak ada jawaban.

Aku tertawa kecil.

Bahkan aku sendiri tidak yakin kepada siapa pertanyaan itu kutujukan.

Kemudian, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku mencium sesuatu.

Bukan bau ruangan.

Bukan bau bubur abu-abu.

Melainkan aroma yang sangat familiar.

Aroma kaldu.

Rempah.

Dan sesuatu yang membuat dadaku terasa sesak.

Borscht.

Aku membeku.

Tidak mungkin.

Aroma itu semakin jelas.

Bersamaan dengan aroma kopi yang baru diseduh.

Aku menutup mata.

Dan tiba-tiba, untuk pertama kalinya sejak berada di ruangan putih itu, aku tidak lagi melihat warna putih.

Aku melihat Vladivostok.

Aku melihat salju.

Aku melihat seseorang yang pernah membuatku percaya bahwa hidup masih layak dijalani.

Alya.

Bagian 4 – Alya

Vladivostok.

Suhu saat itu mencapai minus dua puluh derajat Celsius.

Salju turun perlahan, menutupi jalanan dan atap rumah dengan warna putih yang hampir sama dengan ruangan tempatku berada.

Namun, putih yang ini berbeda.

Putih ini terasa hidup.

Aku masih mengingat hari ketika pertama kali bertemu Alya.

Saat itu tubuhku sedang tidak baik-baik saja. Aku terbaring di tempat tidur, menggigil karena demam. Kepalaku terasa berat dan seluruh tubuhku lemas.

Alya datang membawa semangkuk borscht dan secangkir kopi.

“Minum dulu,” katanya.

Aku mengambil cangkir itu.

Tanganku gemetar.

“Kau tidak perlu datang.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa datang?”

Ia tersenyum.

“Karena aku mau.”

Sederhana.

Tetapi entah mengapa, kalimat itu masih kuingat sampai sekarang.

Alya selalu seperti itu.

Tidak banyak bicara, tetapi setiap perkataannya terasa memiliki arti.

Kami berbicara tentang banyak hal.

Tentang pekerjaan.

Tentang rumah kecil yang ingin kami miliki.

Tentang perjalanan yang ingin kami lakukan.

Dan tentang pernikahan.

Kami bahkan mulai menyisihkan uang untuk mewujudkannya.

Namun, aku selalu punya alasan untuk menunda.

“Nanti saja.”

“Besok kita pikirkan.”

“Kalau pekerjaanku sudah lebih baik.”

“Kalau uang kita sudah cukup.”

Selalu ada kata besok.

Selalu ada kata nanti.

Aku berpikir bahwa waktu akan selalu tersedia.

Aku pikir kebahagiaan bisa ditunda tanpa batas.

Sampai suatu hari Alya berkata kepadaku,

“Orang-orang yang selalu menunda kebahagiaan mereka demi kata besok itu mirip seperti orang yang sudah mati di kubur. Mereka masih berharap untuk hidup kembali.”

Aku tertawa kecil saat mendengarnya.

“Kau terlalu serius.”

“Aku serius.”

Ua menatapku cukup lama.

Kemudian berkata, “Hidup ini ada batasnya, tapi ambisimu tidak.”

Aku tidak menjawab.

Saat itu aku mengira kata-katanya hanya sebuah nasihat.

Sekarang, aku mengerti bahwa mungkin ia sedang memperingatkanku.

Kenangan itu perlahan memudar.

Warna Vladivostok kembali berubah menjadi putih.

Aku membuka mata.

Aku kembali berada di ruangan itu.

Ruangan putih.

Lantai putih.

Dinding putih.

Lampu putih.

Di hadapanku terdapat sebuah mangkuk.

Aku menatapnya.

Bubur abu-abu.

Aku menghela napas.

Aku tidak tahu apakah Alya benar-benar pernah datang ke tempat ini atau hanya pikiranku yang sedang berusaha melarikan diri dari kenyataan.

Namun, aku masih bisa mencium aroma borscht.

Masih bisa mengingat rasa kopi.

Dan masih bisa mendengar suaranya.

“Jangan selalu menunggu besok, Lukyan.”

Aku menutup mata.

“Alya?”

Tidak ada jawaban.

Aku membukanya kembali.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya mangkuk bubur yang sudah dingin.

Aku mengambilnya.

Untuk pertama kalinya, makanan itu tidak lagi terasa hambar.

Mungkin karena aku tidak lagi makan untuk menghilangkan rasa lapar.

Aku makan untuk mengingat.

Mengingat bahwa pernah ada kehidupan sebelum ruangan ini.

Pernah ada seseorang yang menungguku.

Dan mungkin, pernah ada kesempatan untuk memilih jalan yang berbeda.

BACA JUGA  Mendamba Kedamaian di Bumi Papua

Namun, seperti biasa, aku terlambat menyadarinya.

Bagian 5 – Ruang Putih

Aku tidak tahu berapa lama lagi aku harus berada di sana.

Hari-hari kehilangan bentuk.

Aku berhenti menghitung goresan di dinding.

Aku juga berhenti bertanya kapan semua ini akan berakhir.

Kedua sosok itu masih sesekali datang.

Mereka tidak pernah mengatakan dari mana mereka berasal.

Tidak pernah menjelaskan mengapa mereka mengenalku.

Mereka hanya muncul, berbicara, kemudian menghilang.

“Sudah berapa lama?” tanyaku suatu hari.

Pria berambut berantakan itu tersenyum.

“Tiga puluh hari.”

“Tiga puluh hari?”

“Kurang lebih.”

“Apa maksudmu?”

Ia tidak menjawab.

Pria paruh baya yang duduk di sebelahnya hanya meneguk vodka.

Aku menatap mereka.

“Kenapa kalian terus datang?”

Pria itu meletakkan botolnya.

“Karena kau membutuhkan kami.”

“Aku tidak membutuhkan siapa pun.”

“Kau selalu mengatakan itu.”

Aku terdiam.

Mereka memang selalu mengatakan hal yang sama.

Seolah-olah mengenalku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri.

Hari demi hari berlalu.

Atau mungkin tidak.

Aku mulai kehilangan kemampuan membedakan kenyataan dan ingatan.

Suatu ketika aku mendengar suara Alya.

Di lain waktu, aku mendengar suara Kabanov.

Kadang-kadang aku mendengar suara sendiri.

Namun, perlahan-lahan suara itu pun menghilang.

Awalnya hanya terdengar samar.

Kemudian semakin jauh.

Sampai akhirnya aku tidak dapat mendengar suaraku sendiri.

Aku mencoba berteriak.

Tidak ada suara.

Aku membuka mulut.

Tidak ada apa-apa.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa kosong.

Bukan kosong seperti sebelumnya.

Ini berbeda.

Aku seperti hanya tubuh yang masih bernapas tanpa sesuatu di dalamnya.

Aku menatap kedua tanganku.

Kemudian menatap dinding putih.

Mungkin inilah yang dimaksud mereka.

Aku bukan berada di dalam ruang putih.

Aku sudah menjadi bagian dari ruang itu.

Tidak ada lagi Lukyan.

Tidak ada F000.

Tidak ada Kabanov.

Tidak ada Alya.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya putih.

Putih yang tidak berujung.

Aku menutup mata.

Lalu terdengar suara langkah kaki.

Satu langkah.

Dua langkah.

Semakin dekat.

Aku membuka mata.

Seseorang berdiri di hadapanku.

Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Bangun.”

Aku terdiam.

“Lukyan, bangun.”

Aku mencoba bergerak.

Kemudian—

Aku membuka mata.

Aku berada di sebuah kantor.

Bukan ruangan putih.

Bukan penjara.

Bukan tempat tanpa sudut.

Aku duduk di depan meja kerja.

Di hadapanku terdapat sebuah laporan audit.

Aku melihat sekeliling.

Komputer.

Kursi.

Dokumen.

Jendela.

Semuanya terlihat normal.

Aku memegang kepalaku.

Napas masih tersengal.

“Apa yang terjadi?”

Aku melihat ke arah pintu.

Kabanov berdiri di sana.

Masih hidup.

Aku membeku.

Ia menatapku dengan wajah yang sama seperti yang kuingat.

“Laporan itu belum selesai?”

Aku tidak menjawab.

Mataku tertuju pada tangannya.

Kemudian pada kepalanya.

Tidak ada luka.

Tidak ada darah.

Tidak ada patung beruang.

Aku berdiri perlahan.

“Kabanov?”

Ia mengerutkan kening.

“Kenapa kau memanggilku seperti itu?”

Aku mundur selangkah.

Tidak mungkin.

Aku melihat kedua tanganku.

Tidak ada darah.

Aku melihat pakaian yang kukenakan.

Bukan pakaian tahanan.

Aku melihat sekeliling.

Semuanya nyata.

Setidaknya terlihat nyata.

Namun, aku masih bisa merasakan dinding putih itu.

Masih bisa mencium aroma borscht.

Masih bisa mendengar suara Alya.

Dan masih mengingat kedua sosok yang mengatakan bahwa aku sendiri yang memilih ruangan itu.

Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri.

Apakah semua itu hanya mimpi?

Apakah aku benar-benar membunuh Kabanov?

Apakah aku pernah dipenjara?

Apakah Alya benar-benar ada?

Atau justru kantor inilah yang merupakan bagian dari khayalanku?

Aku tidak tahu.

Mungkin manusia memang tidak pernah benar-benar tahu kapan dirinya sedang bermimpi.

Kalian pikir ini hanyalah sebuah khayalan?

Sebuah cerita tentang seseorang yang kehilangan akal sehatnya?

Mungkin.

Tetapi coba tanyakan kepada diri kalian sendiri.

Apakah kalian benar-benar yakin bahwa kalian sedang hidup di dunia nyata?

Atau jangan-jangan kalian juga berada di sebuah ruangan putih yang sama?

Ruangan yang tidak memiliki sudut.

Tidak memiliki pintu.

Tidak memi

liki jalan keluar.

Hanya menunggu giliran untuk disiksa oleh pikiran sendiri.

Dan mungkin, pada akhirnya, yang paling mengerikan bukanlah ketika seseorang kehilangan kebebasannya.

Melainkan ketika ia tidak lagi tahu apakah dirinya pernah benar-benar bebas.

*Penulis adalah Siswa Kelas XI IP, Calvin School Sunter Jakarta