Perbasi Dorong Ekosistem Basket Perkuat Pemain Lokal

Sekjen DPP Perbasi Nirmala Dewi bersama pemangku kepentingan bola basket membahas penguatan ekosistem, pembinaan pemain lokal, kompetisi, dan prestasi timnas Indonesia. (Foto: IST/SP).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) mendorong penguatan ekosistem bola basket nasional dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari federasi, liga, klub, pemain, hingga media.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memperbaiki kesinambungan pembinaan pemain sekaligus memperbesar peluang lahirnya atlet berkualitas yang dapat memperkuat tim nasional bola basket putra Indonesia di masa depan.

Sekretaris Jenderal DPP Perbasi Nirmala Dewi mengatakan, pembangunan ekosistem bola basket tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Hubungan yang terjalin antara federasi, kompetisi, klub, pemain, dan media menjadi bagian penting dalam menjaga perkembangan olahraga tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Nirmala setelah mengikuti diskusi bertema “Satu Ekosistem Bola Basket Indonesia: Pembinaan, Liga, Industri, dan Prestasi” yang digelar komunitas Jurnalis Suka dan Peduli Olahraga (Jusraga) di Jakarta.

Menurut Nirmala, forum diskusi seperti itu dibutuhkan karena dapat menjadi ruang pertukaran informasi sekaligus tempat bagi berbagai pihak untuk menyampaikan pandangan mengenai masa depan bola basket Indonesia.

“Karena tidak ada organisasi yang sukses kalau komunikasinya tidak baik,” kata Nirmala.

Ia berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi mampu menghasilkan gagasan yang dapat ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan. Masukan dari IBL, Perbasi, klub, media, dan pelaku bola basket dinilai dapat membantu menemukan persoalan yang perlu dibenahi bersama.

Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah perkembangan kompetisi profesional dan jumlah klub peserta Indonesian Basketball League (IBL). Berkurangnya jumlah klub dalam beberapa tahun terakhir dinilai berpotensi memengaruhi kesempatan pemain lokal untuk mendapatkan ruang berkembang di level profesional.

BACA JUGA  Sejarah! Timnas NBA2K Indonesia Lolos GEG 2026

Kondisi tersebut membuat pembangunan ekosistem bola basket Indonesia perlu dilihat secara menyeluruh. Pembinaan pemain usia muda harus memiliki hubungan yang jelas dengan kompetisi profesional sehingga atlet yang berkembang di kelompok usia junior mempunyai jalur untuk naik ke level yang lebih tinggi.

Nirmala menilai hubungan antara pembinaan, liga, klub, industri, federasi, dan tim nasional perlu dibangun secara berkesinambungan. Dengan ekosistem yang lebih kuat, jumlah pemain berkualitas yang tersedia untuk kompetisi dan timnas diharapkan semakin besar.

Penguatan jalur pemain lokal juga menjadi perhatian dari pihak liga. Direktur Utama IBL Junas Miradiarsyah mengatakan, berbagai masukan yang muncul dalam diskusi dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan kompetisi.

Salah satu fokusnya adalah memperbesar kesempatan bermain bagi pemain lokal. Menurut Junas, kompetisi profesional perlu menjadi bagian dari sistem yang mampu menghasilkan pemain untuk kebutuhan klub maupun tim nasional.

Ia juga menilai kelompok usia 18-22 tahun perlu memperoleh perhatian lebih besar. Rentang usia tersebut dianggap penting karena berada pada fase transisi dari pembinaan menuju kompetisi profesional.

“Kelompok usia 18 sampai 22 tahun itu kalau bisa lebih dimaksimalkan, baik dari programnya maupun dari kompetisinya, supaya bisa menyuplai lebih banyak pemain ke liga profesional,” ujar Junas, yang menjabat sebagai Dirut IBL sejak 2019.

BACA JUGA  Coach Amin Pilih 15 Pemain Timnas Basket U18 Putri untuk SEABA Qualifiers 2026

Pengembangan kelompok usia tersebut dinilai tidak cukup hanya melalui latihan. Pemain juga membutuhkan kompetisi yang teratur agar mendapatkan pengalaman bertanding dan memahami tuntutan permainan di level yang lebih tinggi.

Isu ekosistem menjadi semakin penting setelah perjalanan prestasi tim nasional bola basket putra Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami dinamika. Ketua Panitia Diskusi Jusraga Muhammad Naufal mengatakan, forum tersebut digelar salah satunya untuk membedah perkembangan prestasi timnas setelah meraih medali emas SEA Games 2021 di Vietnam.

Setelah pencapaian tersebut, performa tim putra Indonesia kemudian menjadi perhatian hingga SEA Games 2025 Thailand. Dalam diskusi itu, peserta juga menyinggung kekalahan Indonesia dari Malaysia pada Kualifikasi FIBA Asia Cup 2029 serta hasil yang kurang memuaskan pada Asian Games 2026.

Sejumlah peserta kemudian mengaitkan persoalan prestasi dengan sistem kompetisi yang berjalan. Konsep dan regulasi IBL turut menjadi bahan pembahasan karena dianggap memiliki hubungan dengan ruang bermain serta perkembangan pemain lokal.

Namun, penguatan ekosistem tidak hanya menjadi tanggung jawab liga. Klub, federasi, pembina usia muda, pemain, pelatih, sponsor, media, dan komunitas juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan bola basket.

BACA JUGA  Timnas 3X3 Putra Berharap Bisa Try Out ke Jepang

Diskusi Jusraga tersebut dihadiri puluhan jurnalis media arus utama. Sejumlah pemilik dan pengelola klub juga hadir, di antaranya dari RANS Simba Bogor dan Hangtuah.

Selain itu, hadir mantan pelatih tim nasional bola basket putra Indonesia Fictor Roring dan Wahyu Widayat Jati. Pegiat bola basket seperti Augie Fantinus serta Djoni Permato atau Udjo Project Pop turut mengikuti forum tersebut.

Pertemuan lintas pemangku kepentingan itu memperlihatkan bahwa persoalan prestasi tim nasional tidak berdiri sendiri. Ketersediaan pemain, kualitas pembinaan, kesempatan bertanding, keberlangsungan klub, serta desain kompetisi merupakan bagian yang saling berkaitan.

Karena itu, penguatan ekosistem bola basket Indonesia menjadi pekerjaan bersama. Jika jalur pembinaan usia muda dapat terhubung dengan kompetisi profesional secara konsisten, peluang pemain lokal untuk berkembang dan menjadi bagian dari tim nasional diharapkan semakin terbuka.

Bagi Perbasi dan IBL, tantangan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan mencari formula kompetisi yang dapat menjaga keseimbangan antara prestasi liga, keberlangsungan klub, serta kebutuhan regenerasi pemain nasional. (09/AGF).