Fanny Ghassani Ajak Anak Muda Kenali Diri, Bukan Diagnosis Sendiri

Fanny Ghassani bersama psikolog Samanta Clara Elsener saat menjadi pembicara dalam sesi Mengenal Diri, Bukan Mendiagnosis Diri pada Indonesia Youth Summit 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (30/10/2026). (Foto: Kemenpora/SP)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain di media sosial hingga mencari diagnosis kesehatan mental secara mandiri menjadi perhatian dalam pembahasan kesehatan mental generasi muda. Aktris sekaligus pembawa acara Fanny Ghassani mengingatkan pentingnya mengenali diri sendiri tanpa terjebak dalam kebiasaan menghakimi kondisi pribadi.

Pesan tersebut disampaikan Fanny bersama psikolog Samanta Clara Elsener dalam sesi bertajuk Mengenal Diri, Bukan Mendiagnosis Diri pada Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Jumat (30/10/2026) malam.

Dalam diskusi tersebut, keduanya menyoroti tantangan kesehatan mental yang dihadapi generasi muda di tengah derasnya arus informasi, perkembangan teknologi, serta tekanan kehidupan sosial. Mereka mengajak anak muda membangun kesadaran diri, memahami emosi, dan tidak terburu-buru menyimpulkan kondisi psikologis hanya berdasarkan informasi yang ditemukan di internet.

Fanny menilai media sosial menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Paparan terhadap pencapaian, gaya hidup, dan kehidupan pribadi orang lain sering kali membuat seseorang merasa kehidupannya tidak sebaik yang terlihat di layar.

Kebiasaan membandingkan diri tersebut dapat memunculkan perasaan tertinggal, kurang berhasil, bahkan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dicapai.

“Pada saat kita membandingkan diri dengan orang lain, akhirnya kita merasa tertinggal. Kok aku merasa kurang sukses, kok aku tidak seberhasil dia? Akhirnya merasa tidak pernah cukup,” ujar Fanny.

BACA JUGA  Jojo Waspadai Popov di Babak Perempatfinal

Menurutnya, setiap orang memiliki perjalanan hidup, kemampuan, dan waktu perkembangan yang berbeda. Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang tidak seharusnya selalu ditentukan berdasarkan pencapaian orang lain.

Fanny menyarankan generasi muda untuk sesekali mengambil jeda dari media sosial. Langkah tersebut dapat membantu seseorang mengurangi tekanan akibat perbandingan sosial sekaligus memberikan ruang untuk lebih memperhatikan kebutuhan dan kondisi dirinya sendiri.

Ia juga mengingatkan bahwa apa yang ditampilkan seseorang di media sosial tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupan sebenarnya. Kehidupan yang terlihat sempurna di ruang digital belum tentu mencerminkan situasi yang sesungguhnya.

Karena itu, anak muda perlu membangun batasan dalam menggunakan media sosial. Memanfaatkan teknologi tetap penting, tetapi jangan sampai aktivitas digital justru membuat seseorang kehilangan penghargaan terhadap proses dan pencapaian pribadinya.

Di sisi lain, psikolog Samanta Clara Elsener menyoroti kecenderungan generasi muda menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mencari jawaban atas persoalan pribadi, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan mental.

Menurut Samanta, kemudahan memperoleh informasi melalui internet dan AI perlu diimbangi kemampuan memilah informasi. Teknologi dapat membantu menyediakan pengetahuan awal, tetapi tidak dapat menggantikan proses asesmen dan pendampingan yang dilakukan tenaga profesional.

“ChatGPT ataupun machine learning, itu bukan psikolog. Mereka hanya meniru, mereka tidak akan mengevaluasi,” ungkap Samanta.

BACA JUGA  Gotong Royong, Babinsa Purwosari Bedah Rumah Warga

Ia menjelaskan bahwa mengenali diri sendiri merupakan proses yang lebih luas daripada sekadar mengetahui kelebihan dan kekurangan. Seseorang juga perlu belajar menerima berbagai sisi dirinya sebagai bagian dari perjalanan untuk berkembang.

Dalam konteks kesehatan mental, kemampuan memahami perasaan dan mengenali perubahan kondisi emosional menjadi langkah penting. Namun, proses tersebut tidak seharusnya dilakukan dengan memberikan diagnosis sendiri berdasarkan gejala yang dibaca atau konten yang beredar di media sosial.

Samanta mengingatkan bahwa penilaian terhadap kondisi psikologis membutuhkan pemahaman dan evaluasi yang tepat. Oleh sebab itu, ketika seseorang mengalami persoalan yang mengganggu kesehariannya, konsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan.

Selain membangun kesadaran diri, Fanny dan Samanta juga memperkenalkan journaling sebagai salah satu cara sederhana untuk memahami emosi. Melalui kebiasaan menuliskan perasaan, pengalaman, maupun pikiran yang muncul setiap hari, seseorang dapat mengenali hal-hal yang memengaruhi kondisi dirinya.

Bagi mereka yang kesulitan mengungkapkan perasaan melalui tulisan, proses refleksi juga dapat dilakukan dengan cara kreatif, seperti menggambar atau membuat kolase. Media tersebut dapat menjadi alternatif untuk mengekspresikan pengalaman dan emosi yang sulit disampaikan melalui kata-kata.

Keduanya juga menekankan pentingnya membangun empati dalam hubungan sosial. Generasi muda diharapkan tidak mudah memberikan penilaian terhadap persoalan yang dialami orang lain, melainkan belajar mendengarkan dan memberikan ruang bagi sesama untuk bercerita.

BACA JUGA  Harga Cabai Mulai Turun, Polres Pasuruan Jamin Stok Pangan Aman

Sikap saling memahami dinilai penting karena setiap individu memiliki pengalaman dan tantangan yang berbeda. Dukungan lingkungan dapat membantu seseorang merasa lebih aman ketika menghadapi persoalan pribadi maupun kesehatan mental.

Pada akhir sesi, Fanny menegaskan bahwa mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan atau sesuatu yang perlu disembunyikan. Sebaliknya, keputusan untuk berkonsultasi dengan psikolog merupakan bentuk kesadaran seseorang terhadap kebutuhan dirinya.

“Kalau mental kita perlu bantuan, kita ke psikolog. Itu adalah bagian dari self-awareness dan juga progres kita sebagai manusia,” pungkas Fanny.

Melalui diskusi di Indonesia Youth Summit 2026 tersebut, Fanny dan Samanta berharap generasi muda semakin terbuka dalam memahami kesehatan mental. Mengenali diri, menerima proses kehidupan, serta berani mencari bantuan profesional menjadi bagian penting dalam membangun pribadi yang lebih sehat dan mampu menghadapi tekanan kehidupan. (AGF)