JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Integritas ASEAN Football Federation (AFF) dan penyelenggaraan Hyundai ASEAN Cup 2026 kembali menjadi sorotan setelah muncul dugaan pengaturan skor, suap, dan perjudian ilegal yang melibatkan sejumlah anggota tim nasional Laos.
Kasus tersebut mencuat setelah Federasi Sepak Bola Laos (LFF) meminta kepolisian melakukan penyelidikan.
Permintaan penyelidikan itu menambah perhatian terhadap penyelenggaraan Hyundai ASEAN Cup 2026, terutama setelah sebelumnya muncul kontroversi keputusan wasit dalam pertandingan Indonesia melawan Singapura pada 7 Agustus 2026.
LFF belum menyatakan adanya pemain tertentu yang terbukti melakukan tindak pidana. Identitas pihak yang disebut masuk dalam radar pemeriksaan juga belum diumumkan.
Karena proses hukum masih berlangsung, seluruh dugaan tersebut perlu ditempatkan dalam koridor asas praduga tak bersalah.

Meski demikian, kasus Laos dinilai berpotensi menjadi ujian serius bagi AFF sebagai federasi sepak bola regional.
Penanganan kasus dugaan match-fixing akan menjadi perhatian publik karena menyangkut kredibilitas kompetisi dan mekanisme pengawasan terhadap pertandingan.
Dugaan tersebut mencuat setelah Laos mengakhiri kiprahnya di fase grup Grup B dengan empat kekalahan beruntun. Laos kalah 0-5 dari Thailand pada 25 Juli, kemudian 0-4 dari Malaysia pada 28 Juli.
Setelah itu, Laos takluk 1-4 dari Filipina pada 1 Agustus dan kalah 2-7 dari Myanmar pada 4 Agustus.
Rentetan kekalahan dengan skor besar tersebut memunculkan pertanyaan di tengah publik. Namun, hasil pertandingan maupun skor telak semata tidak dapat dijadikan bukti bahwa pertandingan telah diatur.
Pengamat sepak bola dan Founder Save Our Soccer (SOS), Akmal Marhali, mengatakan persoalan yang dihadapi AFF tidak hanya berkaitan dengan dugaan pelanggaran integritas pertandingan.
Menurut dia, perhatian publik juga dapat melebar pada kualitas pengambilan keputusan perangkat pertandingan.
“Ujian bagi AFF bukan hanya menemukan pihak yang mungkin bertanggung jawab. Sorotan terhadap integritas turnamen itu justru bisa melebar ke kualitas pengambilan keputusan di lapangan,” kata Akmal di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Akmal mengaitkan situasi tersebut dengan kontroversi pertandingan Indonesia melawan Singapura pada laga penutup Grup A, 7 Agustus 2026. Pertandingan tersebut dipimpin wasit asal Oman, Abdullah Salim Khalfan Al-Amouri.
Salah satu keputusan yang menjadi sorotan terjadi sekitar menit ke-20. Ketika itu, Mitchell Baker terjatuh di kotak penalti Singapura saat berusaha menguasai atau memenangkan bola.
Pemain Indonesia meminta hadiah penalti karena menilai terjadi kontak dengan pemain Singapura.
Namun, wasit tidak menunjuk titik putih dan pertandingan tetap dilanjutkan.
Kontroversi berikutnya terjadi pada menit ke-62. Kiper Singapura, Mohamad Izwan Mahbud, menangkap bola menggunakan tangan setelah bola datang dari sentuhan kaki pemain Singapura.
Wasit kembali membiarkan permainan berlanjut tanpa memberikan tendangan bebas tidak langsung kepada Indonesia.
Menurut Akmal, situasi tersebut perlu diperhatikan berdasarkan Laws of the Game. Ia menjelaskan bahwa penjaga gawang tidak diperbolehkan menangkap bola dengan tangan apabila bola sengaja ditendang kepadanya oleh rekan setim.
“Padahal, menurut Laws of the Game, penjaga gawang tidak boleh menangkap bola apabila bola sengaja ditendang kepadanya oleh rekan setim,” ujarnya.
Akmal mengatakan, apabila sentuhan tersebut dinilai sebagai deliberate back-pass, Indonesia seharusnya memperoleh tendangan bebas tidak langsung.
Terlebih, kejadian berlangsung di dalam area penalti Singapura sehingga keputusan tersebut berpotensi menciptakan peluang bola mati berbahaya.
Dua insiden tersebut memang tidak dapat secara otomatis dikaitkan dengan dugaan pengaturan pertandingan. Keputusan wasit merupakan bagian dari aspek teknis pertandingan dan harus dinilai berdasarkan fakta serta aturan permainan.
Namun, menurut Akmal, kontroversi tersebut menjadi alasan bagi AFF untuk melakukan evaluasi terhadap kualitas dan konsistensi perangkat pertandingan.
“Meski keputusan wasit tetap merupakan bagian dari penilaian teknis pertandingan, kontroversi itu memperkuat tuntutan agar AFF mengevaluasi kualitas dan konsistensi perangkat pertandingan,” katanya.
Ia menegaskan dugaan match-fixing yang sedang diselidiki di Laos dan kontroversi pertandingan Indonesia kontra Singapura merupakan dua persoalan berbeda.
Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa keduanya berkaitan secara langsung.
Meski demikian, kedua isu tersebut bertemu pada satu persoalan penting, yakni kepercayaan terhadap tata kelola kompetisi sepak bola regional.
Karena itu, Akmal meminta AFF memberikan respons yang transparan terhadap setiap persoalan yang muncul selama Hyundai ASEAN Cup 2026.
Menurutnya, transparansi penting untuk memastikan kompetisi tetap dipercaya publik dan seluruh peserta.
“AFF perlu merespons secara transparan dan memastikan bahwa Hyundai ASEAN Cup 2026 berlangsung jujur, kompetitif, serta diawasi melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Kasus dugaan pengaturan skor di Laos kini masih dalam tahap penyelidikan.
Hasil pemeriksaan kepolisian dan langkah yang akan diambil LFF serta AFF akan menjadi faktor penting untuk menentukan perkembangan kasus tersebut.
Bagi AFF, persoalan ini menjadi momentum untuk memperkuat mekanisme pencegahan match-fixing, pengawasan pertandingan, serta evaluasi perangkat pertandingan.
Langkah yang terbuka dan berbasis bukti diperlukan agar setiap tuduhan tidak berkembang menjadi spekulasi sekaligus memastikan integritas Hyundai ASEAN Cup 2026 tetap terjaga. (09/AGF).










