Megaproyek Teater Imersif Wangsakara Resmi Dimulai, Tangerang Raya Gaungkan Kebangkitan Sejarah

Peluncuran The Tangerang Heritage Theatre Project: Episode 1 – Epos Raden Aria Wangsakara (1628–1681) (Foto Istimewa)

TANGERANG SELATAN, SUDUT PANDANG.ID – Gelombang kebangkitan sejarah lokal mulai menggema dari Tangerang Raya. Megaproyek kebudayaan bertajuk The Tangerang Heritage Theatre Project: Episode 1 – Epos Raden Aria Wangsakara (1628–1681) resmi diluncurkan sebagai gerakan monumental untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif, khususnya di kalangan generasi muda.

Diinisiasi oleh Balai Adat Kearifan Tangerang, proyek teater imersif kolosal ini tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, melainkan sebuah gerakan budaya yang dirancang sebagai respons atas kian memudarnya kesadaran sejarah di tengah derasnya arus modernisasi.

Peluncuran perdana digelar di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, dan berlanjut di Kota Tangerang Selatan pada Minggu (27/9/2026) di kawasan Taman Hutan kota Jombang, Ciputat. Selanjutnya, rangkaian pementasan akan diperluas ke Kota Tangerang, sebagai bagian dari ekspansi besar yang menargetkan 49 kecamatan di wilayah Tangerang Raya.

Mengusung konsep teater keliling berbasis “Mesin Waktu Nusantara”, proyek ini menargetkan lebih dari 1,2 juta pelajar sebagai penonton utama. Melalui pendekatan imersif, penonton diajak tidak hanya mempelajari sejarah, tetapi juga “mengalami” langsung peristiwa penting masa lalu.

BACA JUGA  Meletus Lagi, Gunung Semeru Lontarkan Letusan 600 Meter di Atas Puncak

Pertunjukan ini menghadirkan berbagai fase penting perjalanan Raden Aria Wangsakara, mulai dari pembukaan Kadu Agung, dinamika kekuasaan lokal, hingga peran strategisnya dalam percaturan geopolitik Nusantara abad ke-17. Sosoknya ditampilkan sebagai figur berpengaruh lintas wilayah yang memiliki kontribusi besar terhadap sejarah peradaban lokal.

Dimensi emosional juga menjadi kekuatan utama pementasan ini. Konflik batin di masa akhir kehidupan Raden Aria Wangsakara dihadirkan secara dramatis, termasuk ketika ia harus memimpin penaklukan tanah kelahirannya sendiri demi menyelamatkan wilayah dari hegemoni kolonial—sebuah potret kemanusiaan yang kuat dan menggugah.

Dengan dukungan teknologi produksi modern seperti panggung megah, tata cahaya teatrikal, sistem audio surround, hingga layar digital raksasa, pertunjukan ini dirancang setara dengan produksi kelas dunia, namun tetap berpijak kuat pada nilai dan identitas budaya lokal.
Lebih dari sekadar pertunjukan, megaproyek ini juga diproyeksikan menjadi fondasi pengembangan pariwisata berbasis narasi (storytelling tourism) sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah. Kabupaten Tangerang bahkan disiapkan sebagai titik awal lahirnya model teater imersif berskala nasional.

BACA JUGA  Hakim Pengawas PT DKI Rutin Lakukan Pembinaan di PN Jakarta Pusat

Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari berbagai elemen seni budaya. Yayasan Balai Kesenian Nusantara bersama Teater Tanah Pucung menyatakan komitmen penuh dalam mendukung dan mengawal keberlangsungan proyek tersebut.

Seorang wanita kebudayaan dari kota Tangerang Hanifah dari Balai Kesenian Nusantara Tangerang Selatan, menegaskan bahwa pihaknya siap menjadi motor penggerak kolaborasi lintas sektor. Ia menilai, gerakan kebudayaan sebesar ini tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan kuat dari pemerintah.

“Ini bukan sekadar pertunjukan, ini adalah gerakan kebudayaan. Kami mendukung penuh dan mendorong agar pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun kota di Tangerang Raya, hadir dan memberikan dukungan secara total,” tegas Hanifah.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas lembaga dalam memastikan keberlanjutan program. “Kami akan menjalin kolaborasi strategis dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII, Kementerian Kebudayaan, serta Kementerian Pariwisata agar gerakan ini memiliki dampak luas dan berkelanjutan,” tambahnya.

BACA JUGA  Solid dan Berdaulat, Kodim 0819/Pasuruan Peringati Hari Juang TNI AD dengan Doa Bersama

Balai Adat Keariaan Tangerang optimistis megaproyek ini akan menjadi tonggak penting dalam kebangkitan budaya lokal, sekaligus menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia untuk menghidupkan kembali sejarah, memperkuat identitas, dan membangun masa depan melalui kekuatan budaya.