JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan pentingnya penerapan program pemusatan latihan nasional (pelatnas) multiyears sebagai fondasi pembinaan atlet Indonesia.
Menurutnya, sistem pembinaan jangka panjang menjadi kunci untuk meningkatkan prestasi olahraga nasional sekaligus mempersiapkan atlet menghadapi berbagai ajang internasional, termasuk Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang.
Pernyataan tersebut disampaikan Erick Thohir usai menggelar rapat bersama Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026, Todotua Pasaribu, beserta jajaran tim di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Kemenpora membahas berbagai aspek persiapan kontingen Indonesia menuju Asian Games yang akan berlangsung pada September 2026. Pembahasan mencakup kesiapan atlet, pola pembinaan, dukungan anggaran, hingga strategi peningkatan prestasi olahraga nasional.
Erick menilai sistem pelatnas yang berlangsung sepanjang tahun merupakan langkah strategis untuk menciptakan pembinaan atlet yang lebih terarah dan berkesinambungan. Ia menegaskan bahwa pencapaian prestasi internasional tidak bisa diperoleh hanya melalui program latihan jangka pendek menjelang pertandingan.
Menurutnya, atlet membutuhkan proses pembinaan yang konsisten, didukung fasilitas yang memadai, serta kepastian program latihan agar mampu bersaing dengan negara-negara lain yang telah menerapkan sistem pembinaan modern.
“Tidak mungkin atlet dituntut tampil maksimal dan diminta meraih medali emas kalau pemerintah tidak hadir mendukung pelatnas jangka panjang. Karena itu, kami mendorong agar pembinaan dilakukan secara berkesinambungan, bukan lagi program yang berganti setiap tahun,” ujar Erick.
Ia menjelaskan bahwa pelatnas multiyears memungkinkan atlet menjalani program latihan yang terstruktur tanpa terganggu perubahan kebijakan atau keterbatasan anggaran tahunan.
Dengan sistem tersebut, pelatih dapat menyusun program latihan berdasarkan target jangka menengah dan panjang sehingga perkembangan performa atlet dapat dipantau secara lebih optimal.
Menurut Erick, perubahan pola pembinaan tersebut juga menjadi bagian dari reformasi tata kelola olahraga nasional yang saat ini terus dilakukan pemerintah.
Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap rupiah anggaran yang dialokasikan untuk olahraga benar-benar menghasilkan peningkatan prestasi atlet sekaligus memperkuat sistem pembinaan nasional.
Ia mengatakan Presiden Prabowo Subianto memberikan dukungan penuh terhadap penerapan pelatnas multiyears sebagai strategi jangka panjang dalam meningkatkan daya saing olahraga Indonesia.
Dukungan tersebut menjadi sinyal bahwa pembangunan olahraga nasional kini diarahkan pada pembinaan yang lebih sistematis dan berorientasi pada hasil.
Selain pemerintah, sejumlah induk organisasi cabang olahraga juga menyatakan dukungan terhadap sistem pembinaan jangka panjang tersebut.
Beberapa di antaranya adalah Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), Pengurus Besar Akuatik Indonesia, serta sejumlah federasi olahraga lainnya yang menilai pelatnas berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak dalam mencetak atlet berprestasi.
Erick mengatakan keberhasilan Indonesia dalam berbagai kejuaraan internasional selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pembinaan yang konsisten memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan program yang bersifat sementara.
Karena itu, pemerintah akan terus mendorong seluruh cabang olahraga menyusun perencanaan pembinaan berbasis target prestasi dan evaluasi yang terukur.
Selain membahas sistem pembinaan, Menpora juga menekankan pentingnya penggunaan anggaran secara bijaksana oleh seluruh pemangku kepentingan yang menerima dukungan dana dari pemerintah.
Menurut Erick, efisiensi anggaran tidak berarti mengurangi kualitas pembinaan, melainkan memastikan seluruh pengeluaran memiliki manfaat yang nyata terhadap peningkatan prestasi atlet.
“Kami ingin setiap anggaran yang diberikan benar-benar digunakan secara efektif untuk kepentingan pembinaan atlet dan peningkatan prestasi olahraga nasional,” katanya.
Ia mengungkapkan Kemenpora sebelumnya telah melakukan penyesuaian anggaran agar kebutuhan keberangkatan kontingen Indonesia menuju Asian Games 2026 dapat terpenuhi.
Melalui proses efisiensi dan realokasi anggaran tersebut, pemerintah berhasil menghimpun dana sebesar Rp61 miliar yang kemudian disalurkan kepada Komite Olimpiade Indonesia (KOI) atau tim Chef de Mission sebagai dukungan operasional kontingen.
Anggaran tersebut akan digunakan untuk mendukung keberangkatan lebih dari 450 atlet Indonesia yang akan berlaga di Asian Games 2026.
Menurut Erick, dukungan anggaran tersebut sangat penting karena persiapan mengikuti ajang multicabang olahraga berskala internasional membutuhkan perencanaan yang matang sejak jauh hari.
Berbagai kebutuhan seperti akomodasi, transportasi, konsumsi, logistik, pusat konsolidasi kontingen, hingga koordinasi teknis tidak dapat dipersiapkan dalam waktu singkat.
Oleh sebab itu, pemerintah ingin memastikan seluruh kebutuhan kontingen dapat dipenuhi secara tepat waktu sehingga para atlet dapat fokus menjalani latihan dan tampil maksimal saat bertanding.
Erick optimistis melalui sistem pelatnas multiyears, pengelolaan anggaran yang lebih efektif, serta sinergi antara pemerintah, Komite Olimpiade Indonesia, dan induk organisasi cabang olahraga, prestasi Indonesia di tingkat internasional akan terus meningkat.
Ia berharap perubahan paradigma pembinaan tersebut tidak hanya berdampak pada Asian Games 2026, tetapi juga menjadi fondasi dalam menyiapkan atlet menghadapi Olimpiade, SEA Games, dan berbagai kejuaraan dunia di masa mendatang.
Menurutnya, keberhasilan olahraga Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kualitas atlet, tetapi juga oleh konsistensi pembinaan, kepastian program, tata kelola yang baik, serta dukungan pemerintah yang berkelanjutan terhadap seluruh ekosistem olahraga nasional. (09/AGF).










