SUDUTPANDANG.ID – Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth mendapat sorotan dalam sidang Komite Alokasi Anggaran Senat AS setelah dicecar mengenai strategi pemerintahan Presiden Donald Trump dalam perang melawan Iran.
Seperti dilansir dari Reuters, Hegseth menghadapi pertanyaan tajam dari sejumlah senator terkait arah kebijakan Washington dalam konflik yang masih berlangsung.
Sidang yang digelar pada Selasa (21/7/2026) itu dihadiri Hegseth bersama Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine untuk mempertahankan permintaan tambahan anggaran militer yang diajukan Gedung Putih.
Dalam persidangan, Senator Partai Demokrat Gary Peters mempertanyakan apakah pemerintahan Trump memiliki strategi politik dan militer yang jelas untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Menurut Peters, hingga kini pemerintah belum menunjukkan rencana jangka panjang untuk membawa konflik menuju penyelesaian.
Peters juga menilai posisi Amerika Serikat saat ini tidak lebih baik dibandingkan ketika perang dimulai.
Ia meminta pemerintah memberikan kepemimpinan yang disertai strategi yang terukur dalam menghadapi konflik tersebut
Menanggapi kritik tersebut, Menteri Perang AS Pete Hegseth tidak memaparkan secara rinci peta jalan untuk mengakhiri perang.
Sebaliknya, ia menuding Partai Demokrat menghambat pendanaan yang dibutuhkan Departemen Perang AS.
Hegseth menyatakan sejumlah anggota Demokrat dinilai tidak mendukung pengesahan anggaran militer, padahal pendanaan tersebut diperlukan untuk menjaga kesiapan pasukan Amerika Serikat.
Perdebatan Menteri dengan Senator itu berlangsung di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap biaya perang dan tujuan operasi militer AS di Timur Tengah.
Sejumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat maupun Republik sebelumnya juga mempertanyakan transparansi pemerintah terkait perkembangan konflik.
Dalam sidang yang sama, Hegseth mengungkapkan perang melawan Iran telah menghabiskan sekitar 37,5 miliar dolar AS hingga saat ini.
Angka tersebut mencakup biaya yang telah dikeluarkan serta proyeksi kebutuhan operasi hingga akhir tahun fiskal AS pada 30 September 2026.
Pemerintahan Trump juga meminta tambahan anggaran sekitar 87,6 miliar dolar AS, dengan sekitar 67,15 miliar dolar AS di antaranya dialokasikan bagi Departemen Perang.
Dana tersebut direncanakan untuk mendukung kelanjutan operasi militer, mengganti amunisi dan peralatan yang telah digunakan, serta menjaga kesiapan tempur pasukan AS.
Hegseth memperingatkan bahwa tanpa tambahan anggaran tersebut, Pentagon berpotensi mengurangi pelatihan dan sejumlah kegiatan militer lainnya karena meningkatnya beban pembiayaan operasi di Timur Tengah.(red/01)










