“Dari desa, harapan itu tumbuh dan tanpa banyak suara, ia menjangkau dunia.”
SUDUTPANDANG.ID – Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF) Indonesia meluncurkan program Happiness Golden Hope Account (HGHA) sebagai upaya menyalakan harapan dari desa bagi perempuan berkebutuhan khusus yang menjadi tulang punggung keluarga.
Pendiri MMLWF Indonesia, Natalia Tjahja, dalam keterangan tertulis kepada Sudutpandang.id, Minggu (12/4/2026), mengungkapkan, program HGHA ini berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi keluarga di berbagai wilayah, khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan dan menghadapi tantangan berlapis. Perempuan berkebutuhan khusus kerap berada di posisi paling rentan, namun sekaligus memikul tanggung jawab besar dalam menopang kehidupan keluarga.
Dari ruang-ruang seperti itulah MMLWF Indonesia memulai langkahnya. Sebuah langkah yang tidak sekadar memberi, tetapi mencoba memahami.
Melalui program HGHA, MMLWF menghadirkan pendekatan yang sederhana namun berdampak panjang, membantu kebutuhan dasar sekaligus membuka akses tabungan emas sebagai simbol harapan yang terus tumbuh.
Program ini lahir setelah momentum penting dalam gerakan kemanusiaan global, yakni penyelenggaraan 100 CTFP Card of Honor 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Asian Paralympic Committee, Majid Rashed, menyampaikan pesan 100 Celebrities Talk for Paralympic (100 CTFP) yang menggugah kesadaran 45 negara di Asia akan pentingnya perdamaian melalui solidaritas kemanusiaan.
Dukungan terhadap gerakan ini datang dari berbagai penjuru dunia. Mulai dari International Paralympic Committee, ASEAN Para Sports Federation, Komite Olahraga Indonesia, hingga National Paralympic Council Singapore dan Perhimpunan Insan Maritim Andalan Indonesia (PIMA).
Di dalam negeri, dukungan juga mengalir dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Perempuan di Garis Depan Kehidupan
HGHA menjadi program charity ke-19 MMLWF sekaligus yang pertama dalam rangkaian 100 CTFP Indonesia. Fokusnya jelas, perempuan berkebutuhan khusus dari keluarga kurang mampu yang harus berdiri di garis depan kehidupan.
Realitas di lapangan menunjukkan, tidak sedikit keluarga berkebutuhan khusus kehilangan sosok ibu yang juga berkebutuhan khusus yang selama ini menjadi tulang punggung. Ketika itu terjadi, anak-anak menghadapi kehidupan yang semakin berat.
Natalia Tjahja, menyebut pendekatan program ini berangkat dari mendengar.
Kami menanyakan kebutuhan paling mendesak dari keluarga berkebutuhan khusus, lalu menghadirkannya secara langsung. Kami juga mengajak para ibu untuk membuka tabungan emas sebagai bentuk harapan jangka panjang,” ujar Natalia, sosok humanis yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial bagi penyandang kebutuhan khusus.
Bagi Natalia, harapan bukan sekadar konsep. Ia harus bisa disentuh. Langkah pertama program ini dimulai di Bali. Empat perempuan berkebutuhan khusus menjadi penerima manfaat awal. Dari sana, perjalanan itu meluas Parung, Pekalongan, Langsa, Banda Aceh, Sleman, hingga wilayah lain di Indonesia.
Di Banda Aceh, seorang perempuan bernama Rosma yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung mengungkapkan rasa syukurnya dengan sederhana.
“Ini adalah kebahagiaan dari Tuhan. Saya sangat bersyukur bisa terpilih dalam program ini,” ucapnya.
Kalimat itu mungkin singkat, tetapi cukup untuk menggambarkan betapa besar arti sebuah perhatian.
Menjangkau Dunia, Menyatukan Kepedulian
Tak berhenti di dalam negeri, program ini perlahan menjangkau dunia. Kroasia, Italia, hingga Kazakstan menjadi bagian dari peta baru gerakan ini menunjukkan bahwa kepedulian yang lahir dari desa dapat melintasi batas negara.
Di balik perjalanan itu, ada peran generasi muda yang menjadi penggerak senyap. Jadrianna Aletta Sutrisno, misalnya, menjadi Lead Youth Leader 100 CTFP Indonesia sekaligus sosok pertama yang memberikan dukungan bagi program ini.
Ia merupakan putri dari Jenny O penerima penghargaan Women of Influence 100 CTFP Indonesia dan Sarjono Sutrisno, pemilik Stro World. Dari langkah awal itu, keterlibatan generasi muda berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
Nama-nama seperti Ricardo Ryo, Maira Shasmeen, Nathan K. Christanto, Warren G. Sebastian (Taiwan), Daren Zhang (Melbourne), Kaylee Allison Yap (Medan), hingga Laetitia Purawinata (Amerika Serikat) menjadi bagian dari jejaring kepedulian lintas negara.
Kisah Kecil yang Mengubah Hidup
Namun, mungkin justru dari anak-anaklah makna gerakan ini terasa paling jernih.
Allesandra, 11 tahun, dari Italia-Kroasia, bersama ibunya Enza, memilih untuk berbagi. Dari tangan kecilnya, bantuan mengalir kepada Ruk dan Sita, dua penerima manfaat yang membutuhkan lebih dari sekadar bantuan materi.
Enza menyampaikan refleksi yang sederhana, namun dalam. Kebahagiaan sejati dimulai ketika tubuh dirawat dan jiwa dikuatkan, karena tanpa kesehatan, bahkan momen paling indah pun kehilangan maknanya.
Dari kepedulian itu, Ruk, seorang lansia berkebutuhan khusus kini mendapatkan akses obat-obatan dan asupan gizi selama satu tahun penuh, serta tabungan emas bagi keluarganya. Sementara Sita memperoleh harapan baru untuk melanjutkan pengobatan.
Inspirasi Allesandra kemudian menjalar. Aiden Setiawanto (11) di Singapura dan Jasmine Dzakyra Kurniawan (7) di Jakarta turut tergerak untuk ambil bagian.
Dukungan terhadap program ini terus mengalir. Nama-nama seperti Rita Pusponegoro, Jenny O, Karin Linggrid Koh, Dewi S. Hartati, hingga Mepi Lin menjadi bagian dari lingkaran yang memperkuat gerakan ini.
Namun, di balik semua itu, program ini tetap berjalan dalam kesederhanaan. Tidak selalu terlihat, tidak selalu terdengar keras.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi hiruk-pikuk, Happiness Golden Hope Account hadir sebagai pengingat bahwa perubahan besar dapat tumbuh dari perhatian kecil yang konsisten.
Dari desa, harapan itu tumbuh. Dan perlahan, tanpa banyak suara, ia menjangkau dunia.(PR/01)










