JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN) mendorong penyusunan solusi konkret dan terukur untuk mengatasi berbagai persoalan Kabupaten Demak, mulai dari banjir rob, pemulihan lahan pertanian, penguatan ekonomi rakyat, hingga peningkatan daya saing daerah menuju 2045.
Hal tersebut mengemuka dalam forum daring Rembuk Bintoro bertajuk “Demak 2045” yang digelar PDBN pada Minggu (11/10/2026) pukul 19.30-21.00 WIB.
Diskusi tersebut melibatkan akademisi, praktisi, pengusaha, pemerhati pembangunan, masyarakat, serta diaspora Demak.
Ketua Umum PDBN yang juga Anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, HM Fathan Subchi, menegaskan bahwa forum tersebut harus menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti, bukan sekadar menjadi ruang bertukar gagasan.
Menurut Fathan, persoalan banjir rob di Kecamatan Sayung dan sekitarnya membutuhkan penanganan menyeluruh untuk melindungi warga, mencegah kerugian berulang, serta menjaga lahan dan mata pencaharian masyarakat.
Ia juga mendorong pengembangan potensi lokal, seperti bawang, melon, dan semangka, melalui penguatan akses pasar serta pelibatan petani dan pelaku usaha.
Strategi pembangunan Demak, lanjut Fathan, perlu diarahkan untuk membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat kemandirian ekonomi. Dalam upaya tersebut, diaspora Demak diharapkan berkontribusi melalui jejaring, pengetahuan, investasi dan pendampingan usaha.
Pemulihan Ekonomi dan Penguatan Pertanian
Guru Besar Universitas Terbuka sekaligus Ketua Dewan Pakar dan Litbang PDBN, Prof. Dr. Hanif Nurcholis, M.Si., menekankan pentingnya mengalihkan fokus penanganan bencana menuju pemulihan ekonomi masyarakat.
“Keberhasilan penanganan rob tidak cukup diukur dari pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari pulihnya produktivitas sawah dan tambak serta meningkatnya pendapatan warga,” kata Hanif.
Ia mengusulkan program percontohan “Demak Produktif” yang mencakup pertanian adaptif, perikanan, pengolahan hasil, dan pemasaran.
Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan, didukung data dan evaluasi, serta melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat dan media.
Wakil Ketua Umum PDBN sekaligus pemerhati peluang usaha, H. Abdullah Taqwim, menyoroti pentingnya membangun akses pasar sebelum meningkatkan produksi pertanian.
Menurutnya, petani perlu memperoleh kepastian permintaan, pembeli, standar kualitas, dan distribusi agar hasil produksi terserap pasar dan pendapatan meningkat. Penguatan sektor pascapanen dan logistik juga dinilai penting untuk mendukung keberlanjutan usaha pertanian.
Sementara itu, pengusaha yang juga Sekretaris Jenderal PDBN, Edy Sayudi, S.T., M.H., mendorong Demak menjadi daerah yang mampu melahirkan wirausaha dan pelaku ekonomi berdaya saing.
Ia menilai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu diperkuat melalui peningkatan kualitas produk, sertifikasi, digitalisasi dan akses pasar agar dapat masuk ke dalam rantai pasok industri.
Terkait rencana pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa, Edy menekankan pentingnya menghubungkan pembangunan infrastruktur dengan pengembangan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Ketua PGSI Kabupaten Demak, Noor Salim, S.Pd.I., Gr., C.PLA, menambahkan bahwa rencana tersebut perlu dikaji secara menyeluruh. Kajian itu mencakup potensi dampak terhadap lingkungan pesisir, mata pencaharian nelayan, mobilitas warga, dan akses pendidikan bagi anak-anak.
Perencanaan Pembangunan Berbasis Data
Rektor Universitas Terbuka sekaligus anggota Dewan Pakar dan Litbang PDBN, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, M.Si., menekankan perlunya penanganan persoalan Demak secara terintegrasi dari hulu hingga hilir melalui perencanaan yang komprehensif, terukur, dan berkelanjutan.
Ali mendorong penyusunan prioritas pembangunan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, termasuk program quick win yang manfaat awalnya dapat segera dirasakan masyarakat.
Ia juga mengusulkan penguatan kajian melalui seminar, simposium, diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD), dan publikasi ilmiah.
Langkah tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang didasarkan pada data dan kajian yang memadai.
Diskusi tersebut turut menghadirkan Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof. Dr. Purwanto; Kiai Fatkhur Rahman, alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) yang berkecimpung dalam bidang pondok pesantren dan pertanian; serta Kepala Biro BP Batam, Dr. Siswanto, sebagai penanggap.
Rembuk Bintoro menegaskan pentingnya sinergi pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan diaspora dalam menyelesaikan persoalan Demak.
Perencanaan yang terukur, penetapan program prioritas, serta tindak lanjut yang konsisten diharapkan dapat menerjemahkan berbagai gagasan menjadi solusi nyata bagi kesejahteraan dan kemandirian masyarakat Demak menuju 2045.(red)











