Wow! Ekonomi Kreatif YouTube Berkontribusi Rp 8,4 Triliun bagi PDB Indonesia

Avatar photo
Wow! Ekonomi Kreatif YouTube Berkontribusi Rp 8,4 Triliun bagi PDB Indonesia
Peluncuran Laporan dan Diskusi Google AI dan YouTube untuk Ekonomi Kreatif di Jakarta, Kamis (23/7/2026). (Foto: ist)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Ekosistem kreatif YouTube memberikan kontribusi sebesar Rp 8,4 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sepanjang 2025.

Berdasarkan hasil penelitian Oxford Economics, aktivitas ekonomi yang tumbuh melalui platform tersebut juga mendukung sekitar 190.000 lapangan kerja setara penuh waktu di Indonesia.

Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, mengatakan, perkembangan ekosistem kreatif di YouTube menunjukkan bahwa konten digital tidak lagi sekadar menjadi sarana berbagi karya, tetapi telah berkembang menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan bagi para kreator.

“Ekosistem kreatif YouTube di Indonesia sudah berkontribusi lebih dari Rp 8,4 triliun terhadap PDB Indonesia. Ekosistem ini juga membantu 81 persen kreator di Indonesia memperoleh pendapatan dari YouTube untuk menjangkau audiens internasional,” ujar Veronica dalam acara “Google & YouTube Ekonomi Kreatif” di Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Menurut Veronica, banyak kreator yang awalnya hanya mengelola kanal pribadi kini berkembang menjadi pelaku usaha yang mampu membuka lapangan kerja.

BACA JUGA  Luar Biasa, Festival GMC Angkat Ekonomi Kreatif Tanjungpinang

Dampak ekonomi tersebut turut dirasakan berbagai sektor pendukung, mulai dari studio produksi, pemasok perlengkapan, hingga penyedia jasa lokal.

Data penelitian juga menunjukkan sekitar 75 persen usaha kecil dan menengah (UKM) yang memiliki kanal YouTube mengaku platform tersebut membantu mereka menjangkau pasar internasional.

Sebelumnya, sebagian besar pelaku usaha menghadapi tantangan untuk memperluas akses ke konsumen di luar negeri.

Selain itu, lebih dari seperempat kanal YouTube yang menghasilkan pendapatan tercatat memperoleh pemasukan tahunan mencapai Rp1 miliar atau lebih.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menilai besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia menjadi peluang bagi pertumbuhan ekonomi kreatif.

Namun, menurut dia, keberhasilan industri kreatif tidak hanya diukur dari besarnya pasar digital, melainkan juga kemampuan mengembangkan produk ke sektor ekonomi riil.

BACA JUGA  Dekranasda Kota Bekasi Siap Dongkrak Kesejahteraan Masyarakat

Ia mencontohkan kanal Baba Lili Tata (BaLiTa) yang memiliki lebih dari 17 juta pelanggan di YouTube.

Meski memiliki basis penggemar besar secara digital, pengembangnya tetap memperluas jangkauan melalui kegiatan luring dan kerja sama lisensi.

Irene mengungkapkan, kolaborasi BaLiTa dengan Plaza Indonesia pada tahun lalu mampu menarik antusiasme tinggi masyarakat.

Pengalaman tersebut, menurutnya,vmenunjukkan bahwa popularitas di platform digital dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi di dunia nyata.

Ia juga menyinggung keberhasilan film animasi Jumbo yang meraih lebih dari 10 juta penonton di bioskop dan kemudian memperluas pemanfaatan kekayaan intelektual melalui berbagai kerja sama lisensi, termasuk kolaborasi dengan Discovery Hotel Ancol.

Menurut Irene, pengembangan bisnis dari platform digital ke sektor luring menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat daya saing industri kreatif Indonesia serta memperluas nilai ekonomi yang dihasilkan.

BACA JUGA  IPTI Tolak Revisi Sejarah Tragedi Mei 1998: Jangan Hapus Luka Bangsa

Ia berharap semakin banyak kreator dan pemilik kekayaan intelektual yang mampu melakukan diversifikasi usaha melalui berbagai bentuk kolaborasi di luar platform digital.(PR/01)