Daerah  

7 Hari 7 Malam Kerjakan Skripsi, Mahasiswa ITB Meninggal

Jehuda Christ Wahyu/Twitter/@Jechriswa

Bandung, Sudut Pandang.id-Demi sebuah gelar, tak heran bila setiap mahasiswa berlomba-lomba berpacu dengan waktu. Deadline dan revisian agar skripsi yang diharapkan selesai secepat mungkin. Namun terkadang, jalan yang ditempuh para mahasiswa menyelesaikan skripsi sering mengabaikan masalah kesehatan.

Mereka rela jam tidurnya jadi tidak teratur demi merangkai sebuah kalimat di lembaran skripsi. Jam makan yang tak sesuai jadwalnya membuat tubuh rentan terserang penyakit.

IMG-20220125-WA0002

Kisah yang dialami oleh seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama lengkap Jehuda Christ Wahyu ini dapat menjadi pembelajaran untuk kita semua. Tak hanya bagi mahasiswa akhir yang berpacu dengan waktu untuk mendapatkan gelar, tapi untuk semua orang yang bersekolah atau bekerja agar selalu menjaga kesehatan.

Seorang mahasiswa dikabarkan tumbang dan akhirnya meninggal dunia setelah sebelumnya memaksakan diri mengerjakan skripsi hingga 7 hari 7 malam viral di media sosial. Jehuda diduga mengidap komplikasi hingga akhirnya meninggal dunia. Sebelum meninggal, ia sempat menuliskan di akun Twitternya Jechriswa, yang diberi judul “Anemia of chronic disease, skripsi, dan wisuda ITB”.

Di awal tulisannya, Jehuda mengaku bahwa ia mengerjakan skripsi selama tujuh hari tujuh malam. Skripsi ini membuatnya tak tidur malam dan hanya tidur di siang hari. Perjuangan Jehuda mengerjakan skripsi dengan tak tidur ini akhirnya berbuah manis. Jumat, 13 September 2019 lalu, ia dinyatakan lulus dari ITB. Namun, kebahagiaan yang dirasakan Jehuda tak berlangsung lama setelah ia sidang. Ia mulai merasakan ada yang beda dari tubuhnya.

Sakit

Jehuda Christ Wahyu (kaos merah) semasa hidup saat dibesuk teman-temannya di rumah sakit/ Twitter/@Jechriswa

Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni, dan Komunikasi, Miming Miharja membenarkan sosok di media sosial tersebut mahasiswanya. Almarhum merupakan mahasiswa jurusan Rekayasa Kehutanan, Fakulas Sekolah Ilmu dan Teknil Hayati ITB.

“Berdasarkan keterangan orang tuanya, mahasiswa tersebut saat itu tengah menderita penyakit. Di sisi lain, ia harus menyelesaikan skripsinya di tengah melawan penyakit,” tutur Miming

“Sebetulnya keadaan tidak dikehendaki saja memang almarhum sakit. Kebetulan dia punya penyakit itu, kondisinya melemah kebetulan fase tugas akhir juga. Menang rata-rata menuju tugas akhir agak berat bebannya,” sambungnya.

Dia mengatakan almarhum sebelum meninggal sudah dinyatakan lulus hanya tinggal wisuda. Namun, takdir berkata lain, almarhum terpaksa harus dirawat di rumah sakit hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

“Sudah siap diwisuda. Jadi saat wisuda almarhum keburu sakit, jadi dirawat gak sampai wisuda. Tapi sudah sarjana, sudah selesai semuanya,” ujar Miming.Red/Den

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.