Hukum  

Pengacara Wanita Ini Mengaku Miris Soal Ajakan Pelaku Perkosaan untuk Menikahi Korban

Diana Thoha

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Praktisi hukum Diana Thoha mengaku miris dan menyayangkan jika korban perkosaan di Bekasi melaksanakan pernikahan dengan pelaku, anak dari anggota DPRD.

“Dampak perkosaan yang dilakukan pelaku tidak dapat diselesaikan dengan perkawinan begitu saja, dan tidak akan menghentikan proses hukum yang berjalan, baik pidana maupun UU Perlindungan Anak,” ujar Diana Thoha kepada Sudutpandang.id, Minggu (30/5/2021).

Menurut Diana, pernikahan tersebut akan menambah beban trauma korban dalam proses pemulihannya.

“Korban pemerkosaan anak di bawah umur akan mengakibatkan selain trauma juga kekerasan secara fisik, psikis maupun seksual,” kata Diana.

BACA JUGA  Ahli Hukum Pidana UI: Setiap Tindakan Melanggar Hukum Harus Ada Pertanggungjawaban

Ia menegaskan, korban anak usia di bawah umur wajib dilindungi dan dipulihkan kondisi psikologisnya.

“Bahwa di dalam konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan konvensi hak anak, dalam UU Konstitusi, UU HAM dan UU Perkawinan yaitu hak seseorang memasuki perkawinan hanya dapat dilaksanakan berdasarkan pilihan bebas dan persetujuan kedua mempelai,” jelas advokat wanita berparas cantik ini.

BACA JUGA  Wawali Harris Bobihoe Berikan Pesan ke Wisudawan INSIDA

Ia pun mengimbau semua pihak, khususnya orangtua agar membekali putra putrinya dengan akhlak dan moral sejak dini.

“Sebagai orangtua tidak hanya cukup memberikan materi, namun harus ditanamkan budi pekerti, akhlak, dan moral serta mengawasi tumbuh kembang anaknya, terlebih di era kemajuan teknologi yang sangat pesat, tak dipungkiri banyak hal negatif yang mempengaruhi perkembangan anak,” tutur Diana.

BACA JUGA  TP PKK dan Dinkes Kota Bekasi Dorong Penguatan 6 Layanan SPM

Terpisah, pihak keluarga korban menolak ajakan menikah dari tersangka. Selain korban yang masih di bawah umur, pihak keluarga tidak ingin kasus kekerasan yang dilakukan tersangka kepada korban berulang jika keduanya menikah.

“Kalaupun dinikahkan, ini kan kita menjaga supaya trauma dari korban tidak berkelanjutan. Makanya ada pernyataan yang mengatakan kalau memang dinikahi, ini ke depannya seperti apa? Bisa menambah trauma, terus habis itu KDRT. Kalau sudah berkeluarga, KDRT itu terjadi lagi,” terang Tekda Beko Bagarri Tita, pengacara keluarga korban.

BACA JUGA  Tawuran, Polisi Ringkus 6 Pemuda di Tamansari

Sementara itu, AT (21), anak anggota DPRD Bekasi Ibnu Hajar Tanjung, yang berniat menikahi korban menepis anggapan niatannya demi bebas dari jeratan hukum.

Kuasa hukum AT, Bambang Sunaryo mengatakan, niat menikahi korban tersebut datang dari kliennya. Ia membantah anggapan bahwa Ibnu Hajar Tanjung- yang menyuruh anaknya AT menikahi korban.

“Ya dari AT. Karena mereka itu sudah kumpul lama, begitu. Mereka kan saling sayang, udah kumpul lama,” ungkapnya.

BACA JUGA  Pelapor Perkara Dugaan Kekerasan Anak di Bawah Umur Adukan Jaksa ke Komjak

Terkait perkara ini, pihak kepolisian menegaskan proses hukum terhadap AT masih tetap berjalan.

“Yang pasti, Polres Metro Bekasi Kota tetap sesuai prosedur hukum, dilanjutkan,” tegas Kasubbag Humas Polres Metro Bekasi Kompol Erna Ruswing, dalam keterangannya, Jumat (28/5/2021).(her/fad)

BACA JUGA  Kasus di Muba, KPK Akan Dalami Dugaan Keterlibatan DPRD

Tinggalkan Balasan