Konglomerat Vs Negara: Siapa Lebih Kaya, Sebenarnya?

Kaya
Kemal H Simanjuntak adalah Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)

“Singkatnya, para taipan ini bukan sekadar kaya mereka adalah “APBN berjalan”. Bedanya, yang satu hasil pajak 270 juta rakyat, sementara yang lain hasil bisnis segelintir orang supervisioner”

Oleh: Dr Kemal H Simanjuntak, MBA

Kalau kekayaan bisa dijadikan cabang olahraga, para konglomerat Indonesia jelas sudah langganan emas olimpiade. Pada awal November 2025, daftar orang paling tajir di negeri ini masih diisi nama-nama yang sama ibarat sinetron panjang yang pemerannya tak pernah ganti, hanya saldo rekeningnya saja yang makin tebal. Di podium tertinggi berdiri Prajogo Pangestu, sang maestro Barito Pacific, dengan kekayaan US$43 miliar atau sekitar Rp718 triliun.

Beliau bukan hanya puncak di Indonesia, tapi juga nongkrong manis di posisi ke-38 orang kaya dunia. Dalam seminggu saja, kekayaannya naik US$501 juta alias sekitar Rp8,3 triliun cukup buat beli satu kota kecil lengkap dengan jalan tol dan minimarket.

BACA JUGA  Kemal H Simanjuntak: Danantara dan Panggung Birokratik

Menyusul di posisi kedua, Low Tuck Kwong, bos besar Bayan Resources, masih kokoh dengan harta US$25,1 miliar (Rp419 triliun). Kalau kekayaan ini ditimbun dalam bentuk batu bara, mungkin seluruh Kalimantan sudah jadi taman batu raksasa.

Posisi ketiga dan keempat ditempati duet maut Robert Budi Hartono (US$21,7 miliar / Rp362 triliun) dan Michael Hartono (US$20,9 miliar / Rp349 triliun) dua bersaudara yang menjadikan Djarum dan BCA bukan sekadar merek, tapi juga mesin pencetak uang kelas dunia.

Lalu berderet di bawahnya:

  • 5 Tahir & family – US$12 miliar (Rp200 triliun).
  • 6 Otto Toto Sugiri – US$11,3 miliar (Rp188 triliun).
  • 7 Sri Prakash Lohia – US$8,5 miliar (Rp141,9 triliun).
  • 8 Marina Budiman – US$8,2 miliar (Rp136,9 triliun).
  • 9 Haryanto Tjiptodihardjo – US$6,2 miliar (Rp103,5 triliun).
  • 10 Han Arming Hanafia – US$5,3 miliar (Rp88,5 triliun).
BACA JUGA  Kemal H Simanjuntak: Pendidikan Terjebak Proyek Instan

Kalau kita jumlahkan seluruh kekayaan 10 besar orang terkaya Indonesia, hasilnya mencapai US$162,2 miliar, alias sekitar Rp2.706 triliun.
Sekarang mari kita bandingkan dengan APBN Indonesia 2025 yang nilainya sekitar Rp3.325 triliun. Artinya, sepuluh orang ini bersama-sama hampir bisa menyaingi seluruh anggaran negara dari gaji ASN, pembangunan jalan, subsidi BBM, sampai beli kertas untuk rapat DPR atau dengan kata lain, kalau sepuluh orang ini patungan, Indonesia bisa “libur bayar pajak” selama beberapa bulan. Tapi tentu saja, itu hanya angan-angan di negeri di mana uang para konglomerat bergerak lebih cepat daripada pembangunan trotoar.

Singkatnya, para taipan ini bukan sekadar kaya mereka adalah “APBN berjalan”. Bedanya, yang satu hasil pajak 270 juta rakyat, sementara yang lain hasil bisnis segelintir orang supervisioner. Dunia memang tidak adil, tapi setidaknya menarik untuk dihitung.

BACA JUGA  Pilar Keempat yang Terluka

*Penulis Kemal H Simanjuntak adalah Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)