“Danantara hadir di tengah dahaga akan sumber pembiayaan alternatif. Secara kriteria, ia dirancang sebagai Super Holding sekaligus instrumen finansial. Masalahnya, mencampuradukkan peran sebagai pengelola aset (yang harus efisien) dengan penyuntik dana proyek”
Oleh: Dr.Kemal H Simanjuntak, MBA
Hidup itu memang penuh drama. Kita lahir tanpa buku manual, menghadapi cuaca yang lebih labil dari perasaan mantan, tapi anehnya kita tetap berani bangun pagi dan membuat rencana. Dalam dunia kebijakan negara, keberanian ini sering kali mewujud dalam bentuk institusi megah, lali ini namanya Danantara.
Sebuah ambisi besar untuk menciptakan mesin uang di luar APBN. Namun, seperti halnya kencan buta, kita perlu membedakan mana “peluang emas” dan mana “jebakan batman.”
Secara konteks, Danantara hadir di tengah dahaga akan sumber pembiayaan alternatif. Secara kriteria, ia dirancang sebagai Super Holding sekaligus instrumen finansial. Masalahnya, mencampuradukkan peran sebagai pengelola aset (yang harus efisien) dengan penyuntik dana proyek (yang sering kali politis) itu ibarat mencoba memasak rendang tapi menggunakan bumbu pasta hasilnya bisa jadi unik, tapi kemungkinan besar bikin sakit perut.
Mari kita bicara risiko dengan sedikit kerendahan hati. Pendekatan berbasis risiko bukan berarti kita jadi penakut yang hobi sembunyi di bawah selimut. Ini adalah bentuk kecerdasan untuk bertanya, “Apa yang bisa salah?” Sebelum Danantara melangkah terlalu jauh, ia harus sadar bahwa masa depan bukan garis lurus yang bisa diprediksi dengan Excel semata.
Fokus pada risiko memaksa kita membangun ekosistem, bukan sekadar menumpuk modal. Ingat, yang bertahan di hutan rimba ekonomi bukan yang paling berotot, tapi yang paling lincah beradaptasi dan punya banyak teman (kolaborasi).
Di sisi lain, ada pendekatan berbasis peluang yang biasanya penuh optimisme meluap-luap. Ini tipe yang kalau melihat jurang, malah fokus pada pemandangan indahnya. Pendekatan ini penting untuk pertumbuhan, tapi kalau overdosis, ia melahirkan overconfidence. Lihat saja kasus suntikan modal ke Garuda.
Mengguyur triliunan rupiah ke model bisnis yang sudah usang tanpa mengubah struktur intinya itu seperti menyiram tanaman plastik; tetap tidak akan tumbuh, cuma basah saja. Garuda seharusnya banting setir ke logistik kargo di tengah e-commerce boom, bukan malah terus-terusan memaksakan diri jadi maskapai penumpang premium di pasar yang dompetnya lebih suka kelas ekonomi.
Agar Danantara tidak menjadi “kanal konsentrasi risiko” yang sistemik, lingkup kerjanya harus diperjelas. Jika ia terlalu agresif mengejar peluang, ia akan rapuh. Jika terlalu kaku menghitung risiko, ia akan jadi fosil sebelum sempat bergerak. Solusinya?
Pertama, bangun model bisnis berspektrum luas yang memanfaatkan keunggulan geopolitik kita. Kita punya empat selat strategis (Malaka, Sunda, Lombok, Makassar) yang merupakan “jalan tol” perdagangan dunia. Jadikan Indonesia hub logistik internasional, bukan cuma jadi penonton di pinggir jalan.
Kedua, Danantara wajib hukumnya menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas. Jangan sampai institusi ini jadi “kotak hitam” yang hanya bisa diakses oleh segelintir elit. Ia harus terhubung dengan ekosistem keuangan global agar dipercaya oleh investor kelas berat seperti Sovereign Wealth Fund dari Norwegia atau Timur Tengah. Tanpa tata kelola yang bersih, modal Rp1.000 triliun itu bukannya jadi pengungkit ekonomi, malah bisa jadi magnet buat para pemburu rente.
Akhirnya, keberhasilan Danantara tidak diukur dari seberapa besar aset yang ia kumpulkan, tapi seberapa disiplin ia mengelola risiko. Peluang tanpa manajemen risiko itu bukan kekuatan, melainkan kerentanan yang menyamar. Kita ingin Danantara menjadi fondasi ekonomi yang kokoh, bukan sekadar panggung sirkus bagi ambisi jangka pendek. Risiko memang tidak untuk dihindari, tapi untuk dikelola dengan hati-hati supaya peluang yang dikejar tidak berakhir menjadi air mata bagi kas negara.
*Penulis Kemal H Simanjuntak adalah Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)










