Berita, NTT  

Tragedi Anak SD Diduga Bunuh Diri di NTT, Diana Thoha Soroti Keadilan Sosial

Avatar photo
Tragedi Anak SD Diduga Bunuh Diri di NTT, Diana Thoha Soroti Keadilan Sosial
Diana Thoha, S.H.(Foto: Dok. Sudutpandang.id)

“Peristiwa ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa korban harusnya tidak muncul baru kemudian ada tindakan. Perlindungan dan perhatian terhadap anak harus dilakukan secara proaktif.”

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Praktisi hukum yang juga pengamat sosial Diana Thoha menanggapi tragedi memilukan di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana seorang anak SD berusia 10 tahun berinisial YBR diduga bunuh diri. Peristiwa ini diduga berkaitan dengan tekanan ekonomi dan beban biaya sekolah yang tidak mampu ditanggung keluarga.

Pandangan Diana Thoha itu disampaikan di Jakarta melalui keterangan tertulis, Kamis (5/2/2026). Advokat perempuan itu menyampaikan duka yang mendalam atas kejadian tersebut sekaligus menyoroti berbagai tantangan dalam perlindungan sosial di Indonesia, khususnya terkait anak SD NTT, yang masih perlu diperkuat agar kasus serupa dapat dicegah di masa depan.

Menurut Diana Thoha, peristiwa memilukan yang menimpa anak SD di NTT ini menunjukkan bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana tertuang dalam sila kelima Pancasila, masih belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.

BACA JUGA  Turut Serta Membangun NTT, Kasad Terima Gelar Kehormatan Adat Sonbai

“Kemiskinan yang masih melanda sebagian warga turut meningkatkan tekanan psikologis pada anak-anak, yang bisa berujung pada tindakan tragis seperti kasus ini. Itulah pentingnya kinerja instansi pemerintah, kepala desa, serta aparat terkait dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara optimal untuk melindungi masyarakat, khususnya anak-anak,” katanya.

Diana Thoha juga menyoroti peran Kementerian Sosial yang dinilai belum sepenuhnya memantau perkembangan masyarakat, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang perlu memperkuat pengawasan di daerah rawan sosial-ekonomi.

“Selain itu, partisipasi warga sekitar, yang seharusnya menjadi sistem gotong royong dan saling membantu, masih terbatas karena kondisi ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Diana juga menekankan perlunya tindakan preventif dan perlindungan sosial yang lebih nyata bagi anak-anak. Ia mengingatkan bahwa setiap pihak pemerintah, aparat desa, maupun masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman, mendukung, dan melindungi anak dari tekanan sosial maupun ekonomi.

“Peristiwa ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa korban harusnya tidak muncul baru kemudian ada tindakan. Perlindungan dan perhatian terhadap anak harus dilakukan secara proaktif,” pungkasnya.

BACA JUGA  HUT ke-79 Bhayangkara, Rehab 10 Rumah Tidak Layak Huni di Sidoarjo

Tekanan Ekonomi

Sebagai informasi, siswi kelas IV SD berinisial YBR merupakan warga Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026). Peristiwa ini diduga terkait tekanan ekonomi yang dialami keluarga, setelah orang tua YBR disebut tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah, seperti buku tulis dan alat tulis.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Sudutpandang.id, pada Rabu (28/1/2026) malam, YBR sempat menyampaikan kepada ibunya, MGT, permintaan untuk dibelikan buku dan pena guna keperluan sekolah. Permintaan itu menjadi komunikasi terakhir sebelum peristiwa tragis terjadi.

YBR bersama sejumlah siswa lain juga disebut kerap dimintai pembayaran oleh pihak sekolah dengan total mencapai Rp1,2 juta. Selama ini, ia tinggal dan diasuh oleh neneknya.

Jenazah korban ditemukan tak jauh dari rumah sang nenek sekitar pukul 11.00 WITA. Peristiwa ini telah menimbulkan keprihatinan luas di masyarakat setempat.(01)


Disclaimer: Informasi mengenai bunuh diri dalam berita ini disajikan semata-mata untuk kepentingan pemberitaan dan tidak dimaksudkan untuk menginspirasi atau mendorong siapa pun melakukan tindakan serupa. Apabila Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala depresi atau memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, segera cari bantuan profesional melalui psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental terdekat.