MATARAM, SUDUTPANDANG.ID – Sembilan tahun masa kepemimpinan Suherman, S.Pd., sebagai Kepala SMPN 3 Mataram meninggalkan beragam perubahan yang dirasakan langsung oleh warga sekolah. Selama periode tersebut, SMPN 3 Mataram mengalami kemajuan menyeluruh, mulai dari penataan lingkungan sekolah, peningkatan prestasi non-akademik, hingga penguatan jejaring kerja sama dengan berbagai pihak eksternal.
Perubahan fisik sekolah menjadi salah satu hal yang paling menonjol. Guru senior SMPN 3 Mataram, Salhaini, mengungkapkan bahwa wajah sekolah mulai berubah sejak awal Suherman memimpin. Area yang sebelumnya dipenuhi pepohonan kini tertata dengan baik dan dilengkapi fasilitas pendukung pembelajaran.
“Dulu kawasan sekolah sangat rimbun dengan pohon bunut. Sekarang lingkungan sekolah lebih terbuka dan tertata. Beliau juga sangat aktif menjalin komunikasi dengan anggota dewan, sehingga sekolah memiliki lapangan basket yang layak, gedung UKS, hingga gedung PIK,” ujar Salhaini.
Kemajuan juga terlihat pada bidang pengembangan minat dan bakat siswa. Staf Humas SMPN 3 Mataram, Mita Sintia Apriliya, S.Pd., menjelaskan bahwa di bawah kepemimpinan Suherman, sekolah berhasil membangun ciri khas melalui program ekstrakurikuler unggulan.
“SMPN 3 Mataram menjadi satu-satunya SMP di Kota Mataram yang memiliki ekstrakurikuler barongsai. Kegiatan ini bahkan menjadi ciri khas sekolah. Kami kerap diundang dalam berbagai acara resmi tingkat dinas maupun kota, dan sempat masuk nominasi lomba tingkat nasional,” kata Mita.
Selain barongsai, sejumlah cabang olahraga bela diri seperti silat, taekwondo, dan karate turut mengharumkan nama sekolah lewat prestasi yang diraih secara berkelanjutan.
Inovasi siswa dalam pengelolaan lingkungan pun menghasilkan prestasi membanggakan melalui karya ecoprint berbahan dasar dedaunan yang berhasil meraih juara pertama.
Di sisi lain, Suherman juga dikenal sebagai sosok pemimpin yang humanis dan humoris. Karakter tersebut dinilai mempermudah komunikasi internal sekaligus memperkuat hubungan sekolah dengan berbagai stakeholder, mulai dari perangkat lingkungan hingga aparat keamanan.
“Beliau sangat humanis dan mudah bergaul. Hubungan dengan stakeholder luar, termasuk rekan-rekan wartawan, terjalin sangat baik. Kondisi ini sangat membantu kami, khususnya di bidang humas, dalam menjaga suasana sekolah tetap kondusif,” ujar Mita.
Para guru juga menyoroti penerapan sistem lima hari sekolah atau full day school yang berjalan selama masa kepemimpinan Suherman. Meski memberikan waktu akhir pekan bagi tenaga pendidik, tantangan tetap muncul pada jam belajar siang hari.
“Sebagian besar peserta didik kami berasal dari keluarga pedagang dan nelayan. Tantangan terbesar ada pada rentang waktu pukul 12.00 hingga 15.00 Wita, ketika energi anak-anak mulai menurun. Guru dituntut kreatif dengan permainan edukatif dan metode role playing agar pembelajaran tetap efektif,” tutur Layla, salah satu staf sekolah.
Menjelang berakhirnya masa tugas kepala sekolah, keluarga besar SMPN 3 Mataram berharap kepemimpinan selanjutnya dapat melanjutkan dan mengembangkan fondasi yang telah dibangun.
“Kami berharap kepala sekolah yang baru tetap mampu mengayomi, merangkul seluruh guru, serta terus memotivasi peserta didik. Keberhasilan sekolah sangat bergantung pada kemampuan pimpinan dalam mengelola dan menyatukan seluruh elemen sekolah,” kata Salhaini.(PR/04)










