Opini  

Muharram dan Tantangan Hijrah di Era Modern

Muharram dan Tantangan Hijrah di Era Modern
Foto: Dok. Sudutpandang.id

“Muharram mengajarkan bahwa perubahan besar tidak lahir dari retorika, melainkan dari refleksi yang jujur dan tindakan yang konsisten.”

Oleh Umi Sjarifah

Setiap kali Tahun Baru Islam tiba, umat Muslim di berbagai penjuru dunia memperingatinya dengan doa, pengajian, pawai atau sekadar saling mengucapkan selamat. Namun, di balik berbagai bentuk perayaan tersebut, terdapat pertanyaan mendasar yang patut direnungkan, sejauh mana semangat hijrah benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari?.

Muharram bukan sekadar penanda pergantian kalender Hijriah. Bulan ini menyimpan makna historis dan spiritual yang sangat penting dalam perjalanan Islam. Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan hanya perpindahan geografis, melainkan transformasi besar yang mengubah arah peradaban. Dari peristiwa itulah lahir masyarakat yang dibangun di atas fondasi keimanan, keadilan, persaudaraan dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Karena itu, makna hijrah seharusnya tidak berhenti pada romantisme sejarah. Hijrah perlu dibaca sebagai panggilan untuk terus melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Dalam konteks kekinian, pesan tersebut justru semakin relevan ketika masyarakat dihadapkan pada berbagai tantangan sosial, budaya dan teknologi yang terus berkembang.

Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah kecenderungan manusia untuk sibuk menilai orang lain, tetapi lupa mengevaluasi dirinya sendiri. Padahal, setiap perubahan yang berkelanjutan selalu berawal dari kesediaan melakukan refleksi.

BACA JUGA  Tata Kelola Kesehatan Indonesia: Saat Suara Guru Besar Diabaikan

Muharram mengingatkan pentingnya muhasabah, yakni keberanian menengok kembali perjalanan hidup, mengakui kekurangan dan memperbaiki kesalahan.

Muhasabah bukanlah sikap pesimistis atau meratapi masa lalu. Sebaliknya, ia merupakan fondasi bagi pertumbuhan. Individu yang mampu melakukan evaluasi diri secara jujur akan lebih mudah membangun karakter yang tangguh, terbuka terhadap kritik dan siap menghadapi perubahan.

Dalam kehidupan sosial, sikap seperti ini juga menjadi modal penting untuk memperkuat budaya dialog dan mengurangi kecenderungan saling menyalahkan.

Namun, hijrah tidak cukup dimaknai sebagai urusan pribadi. Nilai-nilai keagamaan menemukan makna yang lebih luas ketika menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Kesalehan tidak hanya tercermin dalam hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dalam cara seseorang memperlakukan sesama manusia.

Di tengah menguatnya polarisasi sosial dan berbagai bentuk intoleransi, semangat hijrah dapat diwujudkan melalui penguatan solidaritas, penghormatan terhadap perbedaan dan kesediaan membangun ruang kebersamaan.

Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang bebas dari perbedaan, melainkan masyarakat yang mampu mengelola perbedaan secara dewasa dan beradab.

Optimisme

Muharram juga mengajarkan pentingnya optimisme. Sejarah hijrah Rasulullah SAW menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari situasi yang penuh keterbatasan. Ketika tekanan dan tantangan datang silih berganti, harapan justru menjadi kekuatan yang menjaga arah perjuangan.

BACA JUGA  Kerja Sama Interpol Kian Diperlukan untuk Berantas Kejahatan Transnasional

Optimisme yang dimaksud tentu bukan sikap menunggu keajaiban tanpa usaha. Optimisme harus bertumpu pada kerja keras, ilmu pengetahuan dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dalam konteks pembangunan bangsa, sikap optimistis diperlukan agar masyarakat tidak terjebak dalam pesimisme yang melemahkan daya saing dan kreativitas.

Lebih jauh, semangat hijrah seharusnya mendorong lahirnya peradaban yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga kokoh secara moral. Kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi dan berbagai pencapaian pembangunan akan kehilangan makna apabila tidak disertai penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Peradaban yang berkeadaban adalah peradaban yang menempatkan manusia sebagai pusat perhatian. Di dalamnya terdapat keadilan, penghormatan terhadap hak-hak dasar, pengembangan ilmu pengetahuan, serta komitmen untuk menjaga harmoni sosial. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya sejalan dengan pesan hijrah yang diwariskan Rasulullah SAW lebih dari 14 abad lalu.

Momentum Pembaruan

Karena itu, peringatan Tahun Baru Islam sebaiknya tidak berhenti pada seremoni dan simbol. Muharram perlu menjadi momentum untuk memperbarui komitmen dalam memperkuat kualitas diri, memperluas manfaat sosial, menumbuhkan optimisme, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

BACA JUGA  Satu Dekade Menjaga Perjalanan Majalah Sudut Pandang

Hijrah bukanlah peristiwa yang selesai dalam satu waktu. Ia merupakan proses yang terus berlangsung sepanjang kehidupan. Selama manusia masih memiliki kemauan untuk belajar, memperbaiki diri dan menghadirkan kebaikan bagi sesama, selama itu pula semangat hijrah akan tetap hidup.

Muharram 1448 H mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dari refleksi lahir perbaikan, dari perbaikan tumbuh harapan, dan dari harapan terbentuk peradaban yang lebih bermartabat. Di situlah esensi hijrah menemukan maknanya.

Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Mari menjadikan Muharram sebagai awal memperkuat iman, memperluas kepedulian sosial dan menyalakan harapan untuk masa depan yang lebih baik, damai dan penuh keberkahan.

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi Media Sudut Pandang