Marciano Dorong Pencak Silat Tembus Olimpiade

Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman menegaskan dukungannya terhadap upaya menjadikan pencak silat sebagai cabang olahraga Olimpiade melalui peningkatan kualitas kompetisi, pengembangan atlet, serta penguatan kapasitas wasit dan penyelenggaraan kejuaraan nasional. (Foto: ist/SP)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, menegaskan komitmennya untuk mendukung pencak silat menembus panggung Olimpiade.

Menurutnya, salah satu langkah strategis yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas kompetisi pencak silat di dalam negeri secara berkelanjutan.

Dukungan tersebut disampaikan Marciano dalam pertemuan dengan penyelenggara kejuaraan pencak silat nasional. Ia menilai pencak silat sebagai warisan budaya bangsa yang memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi cabang olahraga yang semakin mendunia dan diakui dalam ajang olahraga paling bergengsi di dunia, yakni Olimpiade.

Menurut Marciano, perjalanan menuju Olimpiade membutuhkan kerja keras, konsistensi, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan olahraga nasional. Tidak hanya atlet, tetapi juga pelatih, wasit, organisasi olahraga, dan penyelenggara kompetisi harus terus meningkatkan kualitas agar mampu memenuhi standar internasional.

“Pencak silat jika ingin dipertandingkan di Olimpiade harus bekerja keras meningkatkan kualitas penyelenggaraan event, kualitas wasit yang memimpin pertandingan, serta kualitas atlet yang bertanding. Semua itu dapat dicapai melalui kompetisi yang lebih banyak dan berkelanjutan,” ujar Marciano.

Ia menjelaskan bahwa kompetisi merupakan fondasi utama dalam pembinaan olahraga prestasi. Semakin sering atlet mengikuti pertandingan yang berkualitas, semakin besar pula peluang mereka untuk meningkatkan kemampuan teknis, mental bertanding, serta pengalaman menghadapi berbagai lawan dengan karakter berbeda.

Tidak hanya bagi atlet, kompetisi juga menjadi sarana penting untuk meningkatkan kualitas perangkat pertandingan, termasuk wasit dan juri. Menurut Marciano, kredibilitas sebuah kejuaraan sangat dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinan pertandingan yang objektif, profesional, dan adil.

BACA JUGA  CdM Bayu Tinjau Pelatnas Pencak Silat Jelang SEA Games 2025

“Kehormatan suatu kejuaraan salah satunya ditentukan oleh wasit yang memimpin secara objektif dan adil. Karena itu peningkatan kapasitas wasit juga harus menjadi perhatian bersama,” katanya.

Marciano menilai keberhasilan pencak silat menembus Olimpiade tidak dapat dicapai hanya dengan mengandalkan prestasi atlet semata. Diperlukan sistem kompetisi yang kuat dan berjenjang sehingga mampu menciptakan ekosistem olahraga yang sehat dan berkesinambungan.

Melalui kompetisi yang rutin, atlet-atlet muda dapat memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka sekaligus menjadi bagian dari proses regenerasi atlet nasional. Dengan demikian, pembinaan pencak silat tidak hanya berorientasi jangka pendek, tetapi juga mampu menjaga kesinambungan prestasi dalam jangka panjang.

Sebagai organisasi yang menaungi pembinaan olahraga prestasi di Indonesia, KONI Pusat berkomitmen mendukung berbagai inisiatif yang bertujuan meningkatkan kualitas kompetisi nasional. Marciano menegaskan pihaknya siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan kejuaraan pencak silat yang lebih profesional dan berkualitas.

“KONI Pusat akan berusaha semaksimal mungkin untuk berkolaborasi demi penyelenggaraan kompetisi yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi perkembangan pencak silat nasional,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Marciano juga menyambut positif wacana penyelenggaraan kejuaraan pencak silat yang memperebutkan Piala Ketua Umum KONI Pusat. Menurutnya, kejuaraan semacam itu dapat menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan frekuensi pertandingan sekaligus memacu semangat atlet dalam berprestasi.

BACA JUGA  Tetap Berprestasi di Tengah Pandemi, Ini Harapan Ketua Umum KONI Pusat

Namun demikian, ia menegaskan bahwa penyelenggaraan kompetisi harus tetap mengikuti mekanisme organisasi olahraga yang berlaku, termasuk memperoleh rekomendasi dari Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) sebagai induk organisasi cabang olahraga pencak silat di Indonesia.

“Saya mendukung wacana penyelenggaraan kejuaraan pencak silat yang memperebutkan Piala Ketua Umum KONI Pusat. Yang penting penyelenggara mendapatkan rekomendasi dari PB IPSI sehingga kegiatan dapat berjalan sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Marciano.

Sementara itu, pihak penyelenggara menjelaskan bahwa kompetisi yang selama ini mereka gelar telah terintegrasi dengan sistem pembinaan olahraga nasional melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Integrasi tersebut memberikan nilai tambah bagi peserta karena hasil yang diperoleh dalam kejuaraan dapat menjadi bagian dari rekam jejak prestasi atlet untuk mendukung pengembangan karier maupun pendidikan.

Menurut penyelenggara, antusiasme peserta terhadap kompetisi pencak silat terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada penyelenggaraan sebelumnya, kejuaraan tersebut berhasil diikuti lebih dari 2.000 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Peserta datang dari belasan provinsi dengan latar belakang yang beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga atlet yang telah berpengalaman mengikuti kejuaraan tingkat nasional. Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa pencak silat masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah masyarakat Indonesia.

Marciano menilai tingginya minat generasi muda terhadap pencak silat merupakan modal besar dalam upaya memperluas pengaruh olahraga asli Indonesia tersebut di tingkat internasional. Dengan pembinaan yang tepat dan kompetisi yang berkualitas, Indonesia memiliki peluang besar untuk terus melahirkan atlet-atlet pencak silat yang mampu berprestasi di berbagai ajang dunia.

BACA JUGA  KONI Pusat Lantik PB PSTI Periode 2025-2029 di Makassar, Regenerasi Atlet Sepak Takraw Jadi Fokus

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pencak silat bukan hanya olahraga prestasi, tetapi juga bagian dari identitas budaya bangsa yang harus dijaga dan dikembangkan. Karena itu, upaya menjadikan pencak silat sebagai cabang olahraga Olimpiade merupakan langkah strategis untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia melalui olahraga.

Dengan dukungan pemerintah, organisasi olahraga, penyelenggara kompetisi, serta masyarakat pencak silat di seluruh Indonesia, Marciano optimistis cita-cita menghadirkan pencak silat di Olimpiade dapat terwujud pada masa mendatang.

Menurutnya, perjalanan menuju Olimpiade memang membutuhkan waktu dan proses panjang. Namun melalui pembinaan yang berkelanjutan, peningkatan kualitas kompetisi, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, pencak silat memiliki peluang besar untuk semakin diakui dan menjadi bagian dari keluarga besar olahraga Olimpiade dunia. (09/AGF).