“Mathla’ul Anwar harus berani melakukan lompatan kuantum untuk ‘Naik Level’ dalam segala lini manajerialnya.”
Oleh Ocit Abdurrosyid Siddiq
Hari ini, tepat di hamparan penanggalan 10 Agustus, ingatan saya melayang jauh ke masa silam, menyusuri kembali jalan setapak di pesisir Binuangeun, sebuah daerah yang berlokasi di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Sebagai seorang alumnus Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah Mathla’ul Anwar Binuangeun, rahim intelektual dan spiritual ini adalah tempat di mana benih nalar filsafat dan komitmen keumatan saya pertama kali disemaikan.
Bau amis garam laut yang berpadu dengan lantunan selawat di surau-surau madrasah pesisir kala itu bukan sekadar memori masa kecil, melainkan sebuah lanskap eksistensial yang membentuk cara saya memandang dunia. Di sanalah saya belajar membaca aksara kehidupan, memahami bahwa madrasah adalah suluh bagi gulitanya ketidaktahuan.
Perjalanan panjang ini kemudian membawa langkah kaki saya pada momentum-momentum krusial pengabdian organisasi, sebuah takdir institusional yang menguji ketahanan mental dan ketajaman berpikir.
Saya berkesempatan berdiri di mimbar persidangan tertinggi, memegang palu kepemimpinan sebagai Pimpinan Sidang pada dua perhelatan monumental, yakni Muktamar XX di Puncak Bogor 2021 dan Muktamar XXI di Kota Serang 2026.
Dua fase tersebut adalah fragmen sejarah yang penuh dialektika, sebuah ruang di mana ketegangan gagasan sejatinya diuji demi melahirkan konstitusi transisional yang bermartabat.
Kini, ketika amanah tersebut berlanjut ke ruang eksekutif sebagai bagian dari Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) Periode 2026-2031, refleksi ini menjadi sebuah kewajiban moral untuk menakar arah haluan bahtera organisasi ke depan.
Jika kita menengok kembali lembar sejarah, Mathla’ul Anwar lahir di Menes, Pandeglang, pada 10 Syawal 1334 Hijriah, bertepatan dengan 10 Agustus 1916 Masehi.
Didirikan oleh para ulama agung seperti KH Moh. Tb. Soleh, Kiai Entol, H. Moh. Yasin, Kiai Tegal, KH Abdul Mu’ti, KH Soleman Cibinglu, KH Daud, KH Rusydi, E. Danawi, KH Mustagfiri, Ki Mas Abdurrahman, dan para kiai lainnya, lembaga ini berdiri sebagai respons profetik terhadap kebodohan dan penindasan kolonial.
Nama Mathla’ul Anwar sendiri, yang secara harfiah bermakna tempat terbitnya cahaya, bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan sebuah doa kosmologis agar organisasi ini senantiasa memancarkan fajar pencerahan ke seluruh penjuru bumi.
Lahir dari rahim kultur kepesantrenan, gerakan ini sejak awal telah meletakkan landasan khittah perjuangan yang mandiri, lurus, dan tidak terafiliasi pada kekuatan politik praktis mana pun.
Khittah Mathla’ul Anwar tersebut dimanifestasikan secara konkret melalui pergerakan Tiga Pilar utamanya, yakni Pendidikan, Dakwah, dan Sosial. Pilar pendidikan mewujud dalam ribuan madrasah dan sekolah yang tersebar dari hulu hingga hilir, menjadi kawah candradimuka bagi anak-anak bangsa yang mendambakan ilmu pengetahuan.
Pilar dakwah bergerak merawat moralitas umat melalui mimbar-mimbar yang sejuk, inklusif, dan berorientasi pada paham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sementara pilar sosial menjadi bukti keterlibatan aktif organisasi dalam mengentaskan kemiskinan, merawat anak yatim, dan hadir secara nyata di tengah bencana yang menimpa masyarakat.
Ketiga pilar ini adalah satu kesatuan pergerakan yang tidak boleh dipisahkan, menjadi kaki-kaki kokoh yang menopang eksistensi organisasi selama seratus sepuluh tahun perjalanan sejarahnya.
Namun, kejayaan masa lalu tidak boleh membuat kita terlena dalam romantisme sejarah yang statis dan menjebak nalar kritis kita. Guna menyongsong tantangan zaman yang kian kompleks, Mathla’ul Anwar harus berani melakukan lompatan kuantum untuk “Naik Level” dalam segala lini manajerialnya.
Kita tidak boleh lagi mengelola organisasi besar ini dengan metodologi tradisional yang konvensional, melainkan harus bertransisi menuju tata kelola modern yang berbasis pada digitalisasi, transparansi, dan meritokrasi.
Proses kaderisasi formal dan informal harus didesain ulang agar mampu melahirkan kader-kader pemikir dan penggerak yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus ketajaman konseptual.
Hanya melalui pembenahan sistem perkaderan yang terukur, cita-cita luhur untuk mewujudkan Mathla’ul Anwar sebagai ormas Islam ketiga terbesar di Indonesia dapat menjadi kenyataan yang objektif.
Ikhtiar besar untuk membesarkan organisasi ini menuntut sebuah transformasi mentalitas kolektif dari seluruh pengurus dan jajaran kader di semua level (semua tingkatan).
Kita harus dengan tegas membuang jauh-jauh tabiat buruk ego sektoral yang berbunyi “ku sorangan teu bisa, ku batur ulah”, sebuah penyakit mental di mana seseorang yang tidak mampu berbuat kebaikan, justru menghalangi orang lain untuk maju.
Sikap dengki dan destruktif seperti ini adalah racun yang dapat menggerogoti kohesi sosial dan merusak silaturahmi kelembagaan dari dalam. Mathla’ul Anwar adalah milik umat, sebuah ladang pengabdian yang sangat luas, sehingga setiap potensi kebaikan dari mana pun datangnya harus diakomodasi, didukung, dan diapresiasi dengan lapang dada.
Sebaliknya, mari kita gelorakan kembali prinsip hidup yang penuh kearifan dan bernada anjuran luhur, yaitu “ulah mareuman obor boga batur, caangan bae obor boga sorangan”.
Falsafah ini mengajarkan kepada kita untuk tidak perlu sibuk menjatuhkan, meremehkan, atau memadamkan prestasi dan kontribusi yang telah dirintis oleh orang lain demi mengangkat diri sendiri.
Fokus terbaik bagi setiap kader saat ini adalah menyalakan dan memperbesar obor pengabdian masing-masing melalui karya nyata di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.
Jika setiap madrasah, setiap pengurus daerah, dan setiap badan otonom berlomba-lomba memperterang cahaya obornya, maka akumulasi cahaya tersebut akan mengusir kegelapan dan menerangi seluruh tubuh organisasi.
Langkah strategis berikutnya yang tidak kalah krusial dalam transformasi ini adalah keberanian untuk keluar dari belenggu psikologis “Menes Sentris”. Kita tentu sangat menghormati Menes sebagai tanah suci tempat ari-ari organisasi ini ditanam, sebuah pusat spiritual yang memori historisnya akan selalu kita rawat dengan takzim.
Namun, untuk menjadi kekuatan global, Mathla’ul Anwar harus memperluas cakrawala pandangnya, merambah ruang-ruang nasional dan internasional secara masif.
Kita harus memastikan bahwa struktur kepengurusan, jangkauan program kerja, dan pengaruh pemikiran organisasi tidak lagi bercorak lokal, melainkan mampu mewarnai kebijakan publik di tingkat nasional serta berkontribusi dalam diskursus perdamaian dunia di level global.
Komitmen untuk menjadi organisasi yang kosmopolitan menuntut keterbukaan kita untuk berkolaborasi dengan berbagai elemen strategis, baik pemerintah, swasta, maupun dunia internasional.
Jaringan sekolah dan perguruan tinggi Mathla’ul Anwar harus mulai beradaptasi dengan standar global, melahirkan riset-riset yang berdampak, dan membangun kemitraan internasional.
Transformasi mekanisme pemilihan pengurus, lebih khusus calon Ketua Umum di berbagai tingkatan melalui sistem musyawarah, adalah modal politik yang sangat berharga.
Sistem ini akan memastikan bahwa kepemimpinan di masa depan lahir dari rahim musyawarah yang teduh, bebas dari konflik pragmatis, sehingga energi organisasi dapat sepenuhnya dicurahkan untuk ekspansi kemajuan.
Di bawah nakhoda kepengurusan PBMA Periode 2026-2031, saya mengajak dengan setulus hati kepada segenap warga, kader, simpatisan, dan para cendekiawan Mathla’ul Anwar untuk merapatkan barisan.
Mari kita hilangkan segala sekat perbedaan pandangan masa lalu yang tidak produktif, lalu mengubahnya menjadi energi kolaborasi yang kreatif dan konstruktif.
Perahu besar ini membutuhkan banyak pendayung yang tangguh, pemikir yang jernih, dan pekerja keras yang ikhlas untuk mengarungi samudra peradaban baru.
Kita memiliki tanggung jawab sejarah untuk membuktikan kepada dunia bahwa cahaya yang terbit dari barat Jawa seratus sepuluh tahun lalu kini telah bertransformasi menjadi matahari yang menyinari semesta.
Sebagai penutup dari tulisan reflektif ini, mari kita hayati kembali esensi terdalam dari setiap derap langkah perjuangan kita di organisasi ini. Mathla’ul Anwar bukanlah sekadar tempat berkumpulnya sekumpulan orang, melainkan sebuah gerakan moral yang membawa misi suci risalah kenabian.
Di atas pundak kita semua, harapan jutaan murid madrasah di pelosok-pelosok daerah, termasuk anak-anak pesisir seperti di Binuangeun dahulu, dititipkan demi masa depan yang lebih baik.
Dengan senantiasa memohon pituduh, kekuatan, dan rida dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mari kita langkahkan kaki dengan panceg (mantap), membawa Mathla’ul Anwar Naik Level, berjaya di pentas nasional, dan berkibar di kancah global. Wallahu’alam.
*Penulis adalah Ketua Bidang Humas dan Publikasi Digital Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA); alumnus MI dan MTs Mathla’ul Anwar Binuangeun, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten; alumnus IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.










