Guru SMPN 4 Pasuruan Raih Silver Ambassador Intel SFI, Integrasikan AI dalam Pembelajaran PKWU

SMPN 4 Pasuruan
Guru SMPN 4 Pasuruan Raih Silver Ambassador Intel SFI, Integrasikan AI dalam Pembelajaran PKWU (Foto: SP)

PASURUAN, SUDUTPANDANG.ID – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan SMPN 4 Pasuruan. Nurul Mawaridah, M.Pd., guru Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU), berhasil meraih predikat Silver Ambassador Intel® Skills for Innovation (SFI) melalui partisipasinya dalam komunitas pendidik Intel® SFI.

Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa inovasi pembelajaran berbasis teknologi dapat dikembangkan dari lingkungan sekitar dan diterapkan secara kontekstual di ruang kelas.

Intel® Skills for Innovation merupakan inisiatif pengembangan profesional dan aktivitas pembelajaran berbasis teknologi yang dirancang untuk membantu pendidik menciptakan pengalaman belajar sekaligus membangun keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Program tersebut juga menyediakan berbagai Starter Pack yang dapat diadaptasi dan diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran.

Sebagai Silver Ambassador, Nurul menjadi bagian dari komunitas pendidik yang didorong untuk mengembangkan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran serta berbagi praktik baik dengan komunitas pendidikan yang lebih luas.

Salah satu praktik inovatif yang dikembangkan Nurul diterapkan dalam pembelajaran PKWU kelas IX melalui Starter Pack “Flora Forensics”.

Dalam kegiatan ini, siswa memanfaatkan Google Teachable Machine untuk mempelajari cara mengenali kondisi kesehatan tanaman pandan, yang juga menjadi salah satu bahan baku produk olahan lokal.

Proses pembelajaran dimulai dengan pengumpulan sampel daun pandan. Para siswa kemudian mengidentifikasi dan mengelompokkan daun yang sehat serta daun yang menunjukkan gejala penyakit.

BACA JUGA  Babinsa dan Warga Bersihkan Jalan Pasca Banjir di Desa Sukorejo

Sampel tersebut selanjutnya didokumentasikan menggunakan kamera atau webcam laptop sebagai data visual.

Data yang terkumpul digunakan untuk membuat model machine learning sederhana melalui Google Teachable Machine.

Setelah model selesai dibuat, siswa menguji kemampuan sistem dengan memindai daun pandan baru menggunakan kamera laptop.

Antusiasme siswa terlihat ketika mereka dapat menyaksikan secara langsung model AI memberikan hasil deteksi. Dari proses tersebut, siswa tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga memahami hubungan antara data, AI, dan proses pengambilan keputusan.

Penerapan “Flora Forensics” tidak berhenti pada pengenalan artificial intelligence (AI) dan machine learning.

Dalam pembelajaran PKWU, hasil identifikasi tanaman dikaitkan dengan berbagai aspek yang lebih dekat dengan dunia nyata, seperti kualitas bahan baku, pengendalian mutu atau quality control, kewirausahaan, hingga ketahanan pangan.

Siswa diajak menganalisis bagaimana kondisi bahan baku dapat memengaruhi kualitas produk olahan berbahan pandan.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi menjadi bagian dari proses pembelajaran Intel® SFI yang mendorong pemanfaatan teknologi untuk membangun keterampilan siswa agar lebih siap menghadapi tantangan masa depan.

Hal menarik dari praktik pembelajaran yang dilakukan Nurul adalah pemanfaatan objek yang dekat dengan kehidupan siswa.

BACA JUGA  Sinergi TNI dan Umat, Danramil Hadiri Manaqib Akbar di Desa Pager

Tanaman pandan yang tersedia di lingkungan sekitar tidak sekadar dijadikan objek pengamatan, tetapi diubah menjadi sumber data untuk mempelajari teknologi AI.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada pemahaman bahwa AI tidak selalu harus dipelajari melalui teknologi yang rumit.

Teknologi kecerdasan buatan dapat diperkenalkan melalui persoalan sederhana di lingkungan sekitar, termasuk untuk membantu identifikasi tanaman, pengendalian kualitas bahan, budidaya, hingga pengembangan produk yang memiliki nilai ekonomi.

Nurul Mawaridah menilai pembelajaran berbasis teknologi seharusnya tetap berangkat dari persoalan nyata dan memberikan ruang kepada siswa untuk aktif mencari solusi.

“Teknologi bukan sekadar alat untuk membuat pembelajaran lebih menarik, tetapi menjadi sarana bagi murid untuk menemukan masalah, mengolah data, mencoba solusi, dan menciptakan nilai dari potensi yang ada di lingkungan mereka.”

Predikat Silver Ambassador Intel® SFI tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap inovasi yang dilakukan Nurul Mawaridah, tetapi juga membuka kesempatan untuk terus mengembangkan dan membagikan praktik pembelajaran kepada pendidik lainnya.

Intel® SFI menyediakan lingkungan belajar dan komunitas yang memungkinkan para pendidik untuk belajar, berbagi, berkolaborasi, serta terhubung dengan pendidik lain melalui berbagai sumber daya dan konten komunitas.

Melalui peran tersebut, Nurul berharap pengalaman menerapkan “Flora Forensics” dapat menjadi inspirasi bagi guru lain yang ingin mulai mengintegrasikan AI ke dalam pembelajaran.

BACA JUGA  Koramil Krejengan Monev APBDes Tahun 2025

Menurutnya, pemanfaatan AI dapat dimulai dari hal sederhana, dekat dengan kehidupan siswa, kontekstual, sekaligus tetap dilakukan secara bertanggung jawab.

Bagi SMPN 4 Pasuruan, pencapaian Nurul Mawaridah menjadi bagian dari komitmen sekolah untuk mendorong para guru terus belajar, berinovasi, berbagi pengalaman, dan menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi.

Praktik “Flora Forensics” menunjukkan bahwa pembelajaran AI tidak harus selalu dilakukan melalui perangkat atau persoalan yang kompleks.

Dari tanaman pandan yang ada di sekitar sekolah, siswa dapat belajar mengumpulkan data. Dari teknologi AI, mereka belajar menganalisis dan menemukan solusi. Sementara dari guru yang terus berbagi dan berinovasi, lahir inspirasi untuk menghadirkan pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.(ACZ/04)