SUDUTPANDANG.ID – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo memaparkan inovasi digital dan program kemitraan petani dalam ajang Sawit Indonesia Expo (SIEXPO) 2026 di SKA Convention and Exhibition, Pekanbaru. Perusahaan juga memperkenalkan sejumlah penerapan teknologi dari sektor hulu hingga hilir.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, strategi perusahaan diarahkan pada pengembangan industri kelapa sawit yang berbasis teknologi, berkelanjutan, dan inklusif. Keikutsertaan PalmCo dalam SIEXPO 2026 menjadi bagian dari implementasi strategi tersebut.
“Melalui ajang SIEXPO 2026 di Pekanbaru ini, kami membawa semangat keberlanjutan, transformasi, dan kemitraan. Secara kebijakan, industri sawit di bawah naungan PalmCo diarahkan untuk berkembang lebih dari sekadar operasional kebun dan pabrik,” kata Jatmiko melalui keterangan tertulis, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, pemanfaatan inovasi digital, mekanisasi, dan fasilitasi UMKM dikembangkan dalam satu ekosistem untuk mendukung program ketahanan pangan dan energi nasional.
Di area pameran, PalmCo menampilkan tandan buah segar (TBS) varietas 540 hasil riset Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dengan bobot sekitar 50 kilogram.
Perusahaan juga memperkenalkan teknologi pendukung operasional perkebunan presisi, seperti drone sprayer dan drone geospasial.
Selain itu, PalmCo memperkenalkan ‘PalmCo Business Cockpit’, sistem digital yang digunakan untuk memantau operasional perusahaan secara terintegrasi dan real-time.
Pada sisi pemberdayaan masyarakat, stan PalmCo juga memfasilitasi pelaku UMKM pandai besi yang menjadi mitra binaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Produk peralatan pertanian hasil produksi UMKM tersebut turut dipamerkan dalam kegiatan.
Perkuat Kemitraan Petani
Direktur SDM dan Umum PTPN IV PalmCo Suhendri yang mewakili Direktur Utama dalam sesi seminar SIEXPO 2026 memaparkan program kemitraan petani yang dijalankan perusahaan.
Menurut Suhendri, program tersebut diarahkan untuk memperkecil kesenjangan produktivitas antara perkebunan rakyat dan perkebunan perusahaan.
Ia menyebut sekitar 6,9 juta hektare perkebunan sawit nasional saat ini dikelola petani. Karena itu, peningkatan produktivitas perkebunan rakyat dinilai berpengaruh terhadap ketersediaan bahan baku sawit, termasuk untuk mendukung kebutuhan energi melalui program biodiesel B50.
“Peningkatan produktivitas sawit nasional menjadi tugas utama di hulu. PTPN IV PalmCo secara teknis mengintensifkan program kemitraan ini, karena jika produktivitas petani meningkat, target ketahanan pangan dan energi lebih mudah direalisasikan,” ujar Suhendri.
Ia menjelaskan, secara kalkulasi teknis, peningkatan produktivitas sebesar 1,3 ton CPO per hektare di perkebunan rakyat berpotensi menambah produksi nasional sekitar 8,97 juta ton CPO.
Tambahan produksi tersebut dinilai dapat memperkuat pemenuhan kebutuhan domestik tanpa mengganggu alokasi ekspor.
Untuk mencapai target tersebut, PalmCo menjalankan lima program utama kemitraan. Program itu mencakup penyediaan benih dan percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pendampingan agronomis, fasilitasi pembiayaan dan sarana produksi, penyerapan TBS dengan sistem grading yang transparan, serta penguatan koperasi dan sistem ketertelusuran atau traceability.
Hingga Mei 2026, luas lahan kemitraan sawit rakyat PalmCo mencapai 52.480 hektare. Luasan tersebut mencakup program revitalisasi perkebunan, konversi karet ke sawit, serta PSR yang mendapat dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Berdasarkan peta jalan perusahaan, luas lahan kemitraan tersebut ditargetkan meningkat menjadi 64.176 hektare pada 2029.
Produktivitas Petani
Suhendri mengatakan, implementasi program kemitraan terus didorong di unit operasional dan regional. Pendampingan diarahkan agar petani mitra memperoleh dukungan agronomis sekaligus akses penyerapan hasil panen.
Salah satu capaian tercatat pada sejumlah koperasi binaan di Kabupaten Rokan Hulu. Produktivitas kebun petani di wilayah tersebut disebut telah mencapai lebih dari 20 ton per hektare.
“Implementasi dari lima program utama tersebut terus kami dorong ke unit operasional dan regional. Kami memantau agar petani mitra mendapatkan pendampingan agronomis dan akses penyerapan,” kata Suhendri.
Menurutnya, peningkatan produktivitas tersebut turut memperkuat kelembagaan koperasi dan meningkatkan Sisa Hasil Usaha (SHU) bagi petani. Kondisi itu diharapkan mendorong terbentuknya ekosistem agribisnis yang lebih mandiri.
Di sisi hilir, PalmCo juga mengembangkan sejumlah produk turunan industri kelapa sawit, mulai dari biodiesel, minyak goreng, shortening, cocoa butter substitutes (CBS), hingga compressed biomethane gas (CBG).
“PalmCo berupaya menjawab kebutuhan domestik dan ekspor secara bersamaan dengan memperkuat ekosistem secara menyeluruh, yaitu melalui peningkatan produktivitas hulu, percepatan hilirisasi, dan kemitraan petani,” kata Suhendri.(red)










