“Keberanian dan kepercayaan diri menjadi modal penting dalam mempelajari bahasa apa pun, meskipun secara gramatikal kemampuan yang dimiliki belum sepenuhnya memadai.”
Oleh Taufik Hidayatullah
Pada kesempatan seminar di Naatiq international Arabiyyah terjadi diskusi yang cukup energik, kreatif sekaligus menarik terdapat beberapa sharing faham yang tentunya berkelindan perihal bahasa Nabi kita tercinta, yaitu bahasa Arab.
Penulis juga menjabarkan dalam memahami hadist nabi perlu bahkan penting untuk mendalami bahasa Arab sebagai alat guna memahami beragam kosa kata sebut saja perbedaan antara kata يَزْرَعُ dan يَغْرِسُyang disinyalir memiliki makna arti yang cukup penting untuk dibedakan karena mengandung makna yang berbeda.
Dari sini dengan bahasa Arab kita mampu membedakan antara kalimat مَكَانٌ dan مَكَانَةٌ yang memiliki arti berbeda yaitu ‘’tempat’ dan ‘’derajat’’. Sehingga kata yang berbeda sedikit saja bisa memiliki makna dan artikulasi yang berbeda dari segi penggunaanya.
Dalam diskusi tersebut juga terdapat beragam pertanyaan yang cukup menarik dari beragam segi aspek pembelajaran maupun praktik berbicara berbahasa Arab.
Bahkan, penulis juga mencontohkan bahwa dalam mempelajari bahasa Arab terdapat beragam metodologi yang dapat digunakan, salah satunya melalui metode bernyanyi dalam bahasa Arab. Metode tersebut dapat menumbuhkan rasa kecintaan dan ketertarikan dalam mempelajari bahasa Arab.
Langkah ini juga dinilai dapat mengembangkan kemampuan pedagogis seseorang dalam mempelajari sekaligus mengajarkan bahasa Arab. Penerapan beragam metode pembelajaran tersebut memberikan dampak positif terhadap proses belajar.
Dengan demikian, pembelajaran bahasa Arab melalui berbagai pendekatan dapat menjadi langkah yang progresif, kompeten, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, khususnya di era digitalisasi.
Muncul pula pertanyaan yang mengemuka, mana yang harus lebih dahulu didahulukan, menghafal mufradat (kosakata) atau kalam (berbicara)?.
Berdasarkan pengalaman yang disampaikan pemateri, mempelajari sedikit kosakata, satu atau dua kalimat setiap hari yang kemudian dibarengi dengan praktik berbicara justru lebih efektif dan cukup berdampak terhadap pencapaian maharah (kemahiran) berbahasa.
Pemateri sendiri lebih menyukai dan terbiasa berdebat di lingkungan kampus melalui berbagai lomba debat bahasa Arab. Pengalaman tersebut, menjadi salah satu cara untuk mengikis rasa insecure dalam berbahasa.
Pada akhirnya, keberanian dan kepercayaan diri menjadi modal penting dalam mempelajari bahasa apa pun, meskipun secara gramatikal kemampuan yang dimiliki belum sepenuhnya memadai.
*Penulis adalah pemateri Naatiq International Arabiyyah.






