Iran Soroti Tekanan AS, Khamenei Kembali Peringatkan Washington

Avatar photo
Selat Hormuz Belum Dibuka, Iran Tunggu Komitmen AS Dipenuhi
Ilustrasi

SUDUTPANDANG.ID – Tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran meluas ke sektor penerbangan setelah Washington memberlakukan sanksi yang menargetkan maskapai Iran serta pihak-pihak yang menyediakan layanan bagi maskapai tersebut.

Tekanan AS terhadap maskapai Iran mendapat respons keras dari Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.

Ghalibaf pada Selasa (29/9/2026) menyebut kebijakan AS tersebut sebagai bagian dari blokade terhadap Iran, termasuk di sektor penerbangan. Ia mengatakan tekanan tersebut tidak akan membuat Iran mengubah sikapnya.

“Para pemimpin Gedung Putih harus tahu bahwa bangsa Iran yang pemberani tidak akan pernah mundur meski menghadapi blokade perdagangan dan penerbangan,” kata Ghalibaf dilansir dari Sputnik.

Ia menegaskan, Iran akan merespons setiap bentuk tekanan yang disebutnya sebagai tindakan penindasan dengan cara yang kuat, tepat dan cepat.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan bahwa maskapai Iran akan menghadapi larangan operasional serta kehilangan akses terhadap sejumlah layanan pendukung mulai 23 September 2026.

BACA JUGA  WHO: Akhir Pandemi COVID-19 Kemungkinan Semakin Dekat

Bessent sebelumnya mengatakan seluruh maskapai Iran akan terdampak kebijakan tersebut melalui penerapan sanksi sekunder terhadap pihak yang tetap memberikan layanan.

Penerbangan Iran

Tekanan terhadap sektor penerbangan Iran kemudian diikuti pembatasan dari sejumlah negara. Beberapa rute penerbangan Iran dihentikan atau dibatasi setelah negara-negara tersebut menghadapi konsekuensi dari kebijakan sanksi Amerika Serikat.

Iran, misalnya, membatalkan penerbangan menuju Baghdad dan Muscat mulai 23 September setelah pembatasan terhadap maskapai Iran diberlakukan.

Irak juga sempat menghentikan penerbangan Iran menuju Baghdad, sementara Uni Emirat Arab menangguhkan penerbangan Iran dari dan menuju bandar udara di negaranya.

Namun, tekanan tersebut tidak serta-merta membuat seluruh penerbangan maskapai Iran berhenti. Sejumlah penerbangan internasional masih beroperasi setelah batas waktu yang ditetapkan Washington, menunjukkan bahwa penerapan pembatasan tersebut berlangsung tidak seragam di seluruh jaringan penerbangan.

Perkembangan terbaru juga menunjukkan adanya upaya memberikan pengecualian terbatas.

Amerika Serikat disebut akan memberikan pembebasan sanksi sementara untuk penerbangan Iraqi Airways antara Iran dan kota Najaf di Irak selama satu bulan.

BACA JUGA  Iran Luncurkan Rudal, Balas Serangan AS dan Israel

Penjualan Minyak

Selain penerbangan, Ghalibaf menyinggung tekanan terhadap perdagangan dan ekspor minyak Iran.

Ia mengatakan, selama Iran tidak dapat menjual minyak, negara-negara lain di kawasan juga tidak akan dapat melakukan hal serupa.

Ghalibaf juga memperingatkan bahwa selama ancaman terhadap keamanan Iran masih ada, kawasan Timur Tengah tetap menghadapi risiko ketidakamanan, termasuk terhadap fasilitas infrastruktur.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Amerika Serikat mempertahankan tekanan ekonomi dan maritim terhadap Iran.

Pada 29 September, Departemen Keuangan AS kembali menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah individu dan entitas yang dituduh membantu rantai pasokan militer Iran.

Khamenei Peringatkan AS

Terpisah, Mojtaba Khamenei kembali menyampaikan pernyataan keras terhadap keberadaan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Senin waktu setempat, Khamenei mengatakan Amerika Serikat pada akhirnya akan meninggalkan kawasan tersebut setelah menerima apa yang disebutnya sebagai pukulan menyakitkan.

BACA JUGA  DKPP Siap Periksa Anggota KPU-RI Soal Verifikasi Parpol dan Dugaan Ancaman

Khamenei juga mengklaim bahwa pasukan musuh kini tidak berani bergerak melampaui Laut Arab setelah menghadapi tekanan dari pejuang Iran dan pihak yang menjaga Selat Hormuz.

“Tidak lama lagi Laut Arab pun akan terbebas dari kehadiran mereka,” kata Khamenei dalam pernyataannya.

Pernyataan Khamenei disampaikan ketika upaya diplomatik untuk meredakan konflik dan membahas kembali akses melalui Selat Hormuz masih berlangsung.

Perundingan tersebut menghadapi sejumlah hambatan, termasuk persoalan sanksi Amerika Serikat dan tuntutan terkait program nuklir Iran.(Red/Berbagai Sumber)