Iran Siap Perang dan Negosiasi dengan AS, Selat Hormuz Tetap Ditutup

Avatar photo
Iran Siap Perang dan Negosiasi, Selat Hormuz Tetap Ditutup
Ilustrasi

SUDUTPANDANG.ID – Iran menyatakan siap menghadapi kemungkinan perang sekaligus melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat, tetapi tetap menutup Selat Hormuz hingga tujuh syarat yang diajukan Teheran terpenuhi.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, Teheran tidak gentar menghadapi tindakan Amerika Serikat. Menurut dia, Iran tetap memiliki kekuatan untuk menghadapi kemungkinan kembali perang sekaligus menggunakan jalur diplomasi.

“Posisi Republik Islam Iran sangat jelas dan tegas. Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh syarat kami berdasarkan Memorandum Islamabad terpenuhi,” kata Ghalibaf dalam sidang parlemen, Minggu (4/10/2026), seperti dikutip kantor berita Iran.

Ghalibaf menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menyampaikan sejumlah proposal melalui mediator setelah Iran sebelumnya mengajukan peta jalan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.

Menurut dia, Teheran tidak akan menerima tekanan maupun tuntutan sepihak dalam proses tersebut.

Ia juga kembali menegaskan bahwa Iran tidak gentar menghadapi tekanan Amerika Serikat, termasuk perang.

“Kami hadir di medan tempur militer dengan segenap kekuatan kami dan akan menghadapi mereka dengan kejutan-kejutan baru. Kami menggunakan instrumen diplomasi untuk menegaskan keunggulan kami di bidang militer dan memperjuangkan hak-hak rakyat Iran,” ujarnya.

BACA JUGA  Putri Ariani Dapat Rp 7 Triliun dari Simon Cowell, Ternyata Ini Faktanya

Ghalibaf juga menegaskan Iran siap menjalankan dua pendekatan secara bersamaan, yakni menghadapi kemungkinan konflik dan tetap bernegosiasi dengan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran masih membuka ruang diplomasi, meskipun pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz tetap dikaitkan dengan pemenuhan persyaratan Iran.

Tujuh Syarat Iran

Iran sebelumnya menyampaikan sejumlah persyaratan kepada Amerika Serikat melalui mediator Qatar untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari.

Persyaratan yang disampaikan Teheran antara lain penghentian menyeluruh permusuhan di seluruh lini, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Iran kemudian mengajukan peta jalan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila persyaratan tersebut dipenuhi.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam pembicaraan Iran dan Amerika Serikat karena jalur tersebut merupakan rute penting bagi perdagangan energi dunia.

BACA JUGA  Mary Jane Akan Dipulangkan ke Filipina, OC Kaligis: Jadi Kado Spesial Natal

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran serius mencari solusi diplomatik, tetapi tetap siap mempertahankan diri jika Amerika Serikat kembali melakukan tindakan militer.

Pemerintah Iran juga menyatakan fokus utamanya saat ini adalah mencapai penyelesaian terkait Selat Hormuz dan memulihkan keamanan serta stabilitas di jalur pelayaran tersebut.

Dua Delegasi Iran Diusir AS

Di tengah kebuntuan diplomatik tersebut, Amerika Serikat mengusir dua anggota delegasi Iran yang sebelumnya menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan kedua anggota delegasi tersebut tetap berada di Amerika Serikat setelah diperintahkan meninggalkan negara itu.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada AFP bahwa kedua anggota delegasi tersebut ditemukan masih berada di New York setelah Sidang Majelis Umum PBB berakhir. Keduanya kemudian dikeluarkan dari Amerika Serikat.

BACA JUGA  Bertemu UAS, PM Malaysia Anwar Ibrahim: Ulama Lengkapi Umara

Media AS melaporkan Departemen Luar Negeri sebelumnya telah meminta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan delegasinya meninggalkan Amerika Serikat pada Senin (28/9/2026).

Pemerintah AS kemudian mengambil langkah pengusiran setelah mendapat informasi bahwa dua anggota delegasi Iran masih berada di negara tersebut pada Jumat (2/10/2026).

Namun, pihak Iran membantah narasi bahwa seluruh delegasinya diperintahkan meninggalkan Amerika Serikat lebih awal. Araghchi menyatakan sebagian besar diplomat Iran telah meninggalkan AS sesuai jadwal.(Red/Reuters)