PPI Nagoya Bantu Kontingen Indonesia di Asian Para Games 2026

PPI Nagoya
Mahasiswa Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Nagoya membantu kebutuhan operasional kontingen Indonesia selama Asian Para Games 2026 di Jepang. (Foto: Kemenpora/SP).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Sekitar 30 mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia Nagoya (PPI Nagoya) mengambil peran penting dalam mendukung kontingen Merah Putih di Asian Para Games 2026, Jepang. Di tengah kesibukan kuliah dan penelitian, mereka membantu menyiapkan kebutuhan operasional atlet hingga memastikan akses fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas.

Dukungan tersebut dilakukan sejak sebelum kontingen tiba di Nagoya. Para mahasiswa membantu tim Chef de Mission (CdM) menentukan lokasi markas kontingen, mencari akomodasi, menyediakan layanan penerjemah, hingga berkoordinasi dengan warga lokal untuk memperlancar aktivitas tim Indonesia.

Ketua PPI Nagoya, Flady Faliyenco Franggaratz Abu bakar Pae, mengatakan penentuan lokasi headquarters menjadi salah satu pekerjaan awal yang membutuhkan perhatian khusus. Markas tersebut berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kebutuhan kontingen selama mengikuti Asian Para Games 2026.

“Pertama, kami harus menemani CdM untuk mencari lokasi headquarters yang pas. Karena ini strategis sekali, akan menjadi base camp untuk seluruh tim. Jadi, kami perlu memastikan aksesnya bisa cepat dan juga efisien,” kata Flady, dalam keterangan yang diterima Selasa (20/10/2026).

Setelah melalui proses pencarian, Gedung Meitetsu lantai 9 dipilih sebagai pusat komando kontingen Indonesia di Nagoya.

Mahasiswa Indonesia tidak hanya membantu urusan lokasi. Mereka juga menjadi penghubung antara tim CdM dan masyarakat setempat, termasuk dalam kebutuhan komunikasi, akomodasi, serta koordinasi layanan selama pertandingan berlangsung.

“Kami juga mencari warga-warga lokal yang nantinya akan membantu tim CdM selama berada di Nagoya. Kami juga membantu dari segi interpreter dan juga untuk akomodasi hotel bagi teman-teman di CdM. Kami juga perlu memastikan semua aksesnya terhubung dengan cepat,” ujar Flady.

Pengalaman tinggal di Jepang selama tujuh tahun membuat Flady memahami karakteristik lingkungan dan sistem layanan setempat. Mahasiswa program doktoral di Nanzan University tersebut juga telah terlibat dalam sekitar 20 kegiatan yang berkaitan dengan kunjungan berbagai institusi Indonesia ke Jepang, termasuk di Nagoya, Osaka, dan Tokyo.

BACA JUGA  Towel Soroti Masalah Teknis dan Jadwal Tak Adil Timnas Indonesia

Sebelum membantu di markas kontingen Asian Para Games 2026, Flady juga pernah bertugas di Rumah Indonesia pada ajang Asian Games 2026 di Nagoya.

Meski Jepang dikenal memiliki fasilitas yang relatif ramah bagi penyandang disabilitas, persiapan untuk kontingen para atlet tetap membutuhkan pemeriksaan terperinci. PPI Nagoya memastikan akses menuju lokasi, fasilitas hotel, restoran, hingga jalur perpindahan atlet sesuai kebutuhan pengguna kursi roda.

Flady menjelaskan, ukuran pintu kamar hotel, ketersediaan lift, serta ruang gerak menjadi sejumlah aspek yang harus diperiksa sebelum fasilitas digunakan.

“Jepang memang terkenal sebagai negara yang sudah sangat accessible untuk penyandang disabilitas. Namun, ada beberapa hal kecil yang perlu kita perhatikan, misalnya di trotoarnya, lalu di restorannya, apakah ada area khusus untuk kursi roda, apakah sudah ada elevator-nya,” jelasnya.

Menurut dia, ukuran kamar hotel yang relatif terbatas juga menjadi perhatian tersendiri. PPI perlu memastikan kursi roda dapat melewati pintu dan digunakan dengan nyaman di dalam kamar.

Selain fasilitas fisik, mahasiswa turut memperhitungkan akses kendaraan dan waktu tempuh antar lokasi. Pengetahuan mereka mengenai kondisi Nagoya membantu tim memperkirakan durasi perjalanan serta mengantisipasi kendala perpindahan antar lantai atau antar venue.

Tantangan lainnya adalah perbedaan kebiasaan kerja dan sistem reservasi di Jepang. Sejumlah fasilitas harus dipesan jauh hari sehingga kebutuhan mendadak tidak selalu dapat dipenuhi secara langsung.

“Kadang ada masalah yang sebenarnya seharusnya tidak bisa, tapi bagaimanapun harus bisa untuk tim Indonesia. Jadi, kami coba negosiasi, kami cari alternatif, dan kami diskusikan,” kata Flady.

Keterlibatan dalam Asian Para Games 2026 tidak membuat para mahasiswa meninggalkan kewajiban akademik. Sekitar 30 anggota PPI Nagoya membagi tugas melalui sistem sif yang disesuaikan dengan jadwal kuliah dan penelitian masing-masing.

BACA JUGA  MK Uji Aturan Izin Penangkapan Hakim, Mahasiswa UI Ajukan Gugatan KUHAP

Mahasiswa yang memiliki jadwal penelitian pada pagi hingga sore hari dapat bertugas pada malam hari. Sebaliknya, mereka yang melakukan penelitian pada malam hari mendapat giliran membantu kontingen pada pagi atau siang hari.

Flady menggambarkan bagaimana dirinya tetap berusaha menyelesaikan penelitian di sela-sela tugas pendampingan.

“Biasanya riset kita malam. Setelah semua tugas selesai, malam kita riset, lalu paginya kita submit ke Sensei. Sambil menunggu feedback, kita kerjakan tugas negara,” tuturnya.

PPI Nagoya juga berkoordinasi dengan tim CdM untuk memastikan pembagian tugas relawan memperhatikan ketentuan kerja yang berlaku di Jepang, termasuk batas jam kerja bagi mahasiswa yang bekerja paruh waktu.

Bagi Flady dan rekan-rekannya, kesempatan membantu atlet Indonesia menjadi pengalaman yang membanggakan. Antusiasme anggota PPI terlihat dari banyaknya mahasiswa yang ingin terlibat langsung di lokasi pertandingan maupun membantu kebutuhan operasional kontingen.

“Kami senang sekali bisa membantu atlet-atlet Indonesia yang sedang berjuang di Jepang. Teman-teman ini semuanya pada nanyain gimana caranya kami bisa bantu, kami perlu ke venue atau tidak, kapan kami bisa menonton. Banyak sekali pertanyaan seperti itu yang masuk,” ujarnya.

Dukungan PPI Nagoya turut membantu kelancaran pekerjaan tim CdM kontingen Indonesia. Anggota CdM, Aditia Aelman Ali, yang menangani operasional headquarters, mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dan warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Jepang.

Menurut Aditia, keberadaan komunitas Indonesia mempermudah koordinasi dan membantu tim memenuhi berbagai kebutuhan selama Asian Para Games berlangsung.

“Alhamdulillah tantangannya kecil, karena di sini banyak orang Indonesia yang membantu kita. Banyak WNI di sini yang istilahnya ikhlas membantu, jadi kita lebih gampang,” kata Aditia.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PPI Nagoya yang telah mendampingi tim sejak tahap persiapan, serta kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang dan masyarakat Indonesia di Nagoya.

BACA JUGA  Timnas Basket Putra Pangkas Skuad untuk SEA Games 2025

Dari markas di Gedung Meitetsu lantai 9, tim CdM mengoordinasikan empat bidang utama, yakni layanan medis yang didukung sembilan tenaga medis, analisis data pertandingan, media, serta dukungan logistik atlet.

Persiapan juga dilakukan sebelum kontingen tiba. Tim advance telah melakukan kunjungan lebih awal untuk memetakan kebutuhan, termasuk makanan, obat-obatan, dan dukungan dari komunitas Indonesia setempat.

“Kita juga menggandeng PPI Nagoya untuk membantu kami. Kita juga menggandeng beberapa rumah makan Indonesia di sini untuk men-support masalah konsumsi,” ujar Aditia.

Sejauh ini, menurut Aditia, kebutuhan kontingen dapat ditangani dengan baik. Salah satu barang yang perlu diupayakan ketersediaannya adalah hand warmer atau penghangat tangan untuk atlet cabang olahraga menembak dan panahan, mengingat suhu Nagoya mulai menurun.

Keterlibatan PPI Nagoya memperlihatkan bahwa dukungan bagi kontingen Indonesia tidak hanya datang dari atlet, pelatih, dan ofisial. Di balik perjuangan Merah Putih di Asian Para Games 2026, mahasiswa Indonesia turut mengambil bagian melalui kerja koordinasi, kemampuan beradaptasi, dan kepedulian terhadap kebutuhan atlet.

Di tengah tuntutan akademik, mereka berupaya memastikan para atlet dapat berkonsentrasi pada pertandingan demi membawa pulang prestasi bagi Indonesia. (AGF/04)