PB PSOI Perkuat Pembinaan Atlet Lewat Liga Surfing Indonesia 2026

PB PSOI
Grand Final Liga Surfing Indonesia 2026 di Pantai Pererenan, Bali, menjadi bagian dari upaya PB PSOI dan ASC memperkuat pembinaan serta kompetisi selancar ombak nasional. (Foto: IST/SP)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Pengurus Besar Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PB PSOI) memperkuat pembinaan atlet melalui Grand Final Liga Surfing Indonesia (LSI) 2026 yang berlangsung di Pantai Pererenan, Bali, pada 20–22 Oktober 2026. Kompetisi ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem persaingan nasional yang terstruktur sekaligus membuka jalan bagi peselancar Indonesia untuk menembus level internasional.

Diselenggarakan oleh Asian Surf Cooperative (ASC) dengan dukungan PB PSOI, ajang tersebut diikuti 123 peselancar yang bersaing dalam delapan divisi. Peserta berasal dari berbagai kelompok usia dan kategori, mulai dari atlet junior hingga peselancar senior, termasuk nomor longboard putra dan putri.

Delapan divisi yang dipertandingkan meliputi Open Men, Open Women, Junior Men U-18, Junior Women U-18, Under 10, Master Over 40, Open Men Longboard, dan Open Women Longboard.

Grand Final LSI 2026 memiliki nilai 10.000 poin dalam sistem peringkat surfing Indonesia. Poin tersebut menjadikan kompetisi ini sebagai salah satu agenda penting bagi atlet untuk meningkatkan posisi mereka dalam pemeringkatan nasional.

Penyelenggara juga menggunakan platform LiveHeats untuk mendukung pengelolaan kompetisi dan penilaian pertandingan secara profesional. Sistem tersebut memungkinkan hasil pertandingan dan perkembangan kompetisi dipantau secara langsung, sekaligus membantu pencatatan pencapaian atlet secara lebih terstruktur.

BACA JUGA  Pemkab Asahan Raih Penghargaan Bergengsi di CNN Indonesia

Ketua Umum PB PSOI Pandu Sjahrir menegaskan, kompetisi nasional memiliki peran strategis dalam membangun fondasi prestasi selancar ombak Indonesia. Menurut dia, potensi atlet, karakteristik ombak, dan pertumbuhan komunitas selancar di Tanah Air perlu didukung melalui kompetisi yang konsisten dan berkelanjutan.

“PB PSOI mendukung penuh Liga Surfing Indonesia sebagai bagian penting dari pengembangan olahraga surfing atau selancar ombak nasional. Indonesia memiliki potensi luar biasa, baik dari sisi atlet, kualitas ombak, maupun komunitas selancar ombak yang terus berkembang. Potensi ini harus didukung dengan sistem kompetisi yang kuat, terstruktur, dan berkelanjutan,” ujar Pandu.

Ia berharap semakin banyak peselancar muda mendapatkan kesempatan untuk mengasah kemampuan melalui kompetisi berjenjang. Pembinaan yang dimulai dari klub dan daerah, kemudian berlanjut ke tingkat nasional hingga internasional, dinilai penting untuk mempersiapkan atlet menghadapi persaingan yang lebih tinggi.

Kehadiran sejumlah peselancar Indonesia yang telah berkiprah dalam kompetisi internasional turut menjadi perhatian dalam Grand Final kali ini. Mereka antara lain Bronson Meidy, Pajar Ariana, Oney Anwar, Ketut Agus, Arip Nurhidayat, dan Dea Natasya.

Pengalaman para atlet tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peselancar muda untuk meningkatkan kemampuan dan membangun mental bertanding. Partisipasi atlet dari berbagai kelompok usia juga memperlihatkan pentingnya menyediakan ruang kompetisi yang mampu mengakomodasi proses pembinaan sejak dini.

BACA JUGA  Sinergi TNI-Polri di TMMD ke-129, Polres Lumajang Laksanakan Pengecoran Jalan di Ledoktempuro

Direktur ASC sekaligus Sekretaris Jenderal PB PSOI, Tipi Jabrik, menekankan bahwa Liga Surfing Indonesia tidak semata-mata berorientasi pada perebutan gelar juara. Lebih dari itu, kompetisi ini dirancang untuk mendukung perkembangan atlet melalui sistem yang memberikan kesempatan bertanding secara berkelanjutan.

“Liga Surfing Indonesia bukan hanya tentang mencari juara, yang ingin kami bangun adalah sistem kompetisi nasional yang memberikan kesempatan kepada atlet selancar ombak Indonesia untuk terus berkembang hingga mampu bersaing di kancah internasional,” kata Tipi.

Kolaborasi PB PSOI dan ASC diharapkan mampu memperkuat ekosistem selancar ombak nasional, memperluas kesempatan bagi atlet muda, serta membangun jalur pembinaan yang lebih jelas menuju kompetisi internasional.

Selain berorientasi pada prestasi, penyelenggaraan Grand Final di Pantai Pererenan juga berpotensi mendukung pengembangan sport tourism dan industri olahraga. Kehadiran atlet, ofisial, komunitas, serta penonton diharapkan memberikan dampak positif bagi aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Dengan kompetisi yang semakin terstruktur dan dukungan berbagai pemangku kepentingan, Liga Surfing Indonesia diharapkan menjadi salah satu fondasi pembinaan peselancar Indonesia. Keberlanjutan ajang ini menjadi penting agar potensi atlet dari berbagai daerah dapat berkembang dan memiliki peluang bersaing di tingkat dunia.

BACA JUGA  Erick Thohir Apresiasi Sumaya Raih Perak Asian Games 2026

Dari total 123 peselancar yang berpartisipasi, divisi Open Men menjadi kategori dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 39 atlet atau 31,7 persen. Posisi berikutnya ditempati Junior Men U-18 dengan 32 atlet atau 26 persen.

Berikut rincian peserta berdasarkan divisi:

  • Open Men: 39 atlet (31,7 persen).
  • Junior Men U-18: 32 atlet (26 persen).
  • Open Women: 12 atlet (9,8 persen).
  • Master Over 40: 12 atlet (9,8 persen).
  • Junior Women U-18: 10 atlet (8,1 persen).
  • Under 10: 8 atlet (6,5 persen).
  • Open Men Longboard: 6 atlet (4,9 persen).
  • Open Women Longboard: 4 atlet (3,3 persen).

Komposisi peserta tersebut menunjukkan besarnya partisipasi pada kategori putra dan junior. Melalui kompetisi lintas usia dan divisi, LSI diharapkan dapat memperluas basis pembinaan serta mendorong regenerasi peselancar Indonesia secara berkelanjutan. (AGF/04)