Dua Tokoh, Satu Dompet, Seribu Mimpi

Avatar photo
Dua Tokoh, Satu Dompet, Seribu Mimpi
Foto:Dok.Sudutpandang.id

“Semoga duet ini tak berakhir seperti pasangan sinetron penuh drama tapi tanpa pembangunan nyata. Kalau mereka berhasil, mungkin suatu hari nanti kita benar-benar bisa berkata dengan bangga: Indonesia, bukan cuma negara yang banyak mimpi, tapi juga tahu cara menabung dan menjemput rezeki.”

Oleh Kemal H Simanjuntak

Ketika politik ekonomi jadi panggung teater, dua tokoh utama muncul dengan gaya yang nyaris kontras seperti siang dan malam. Di satu sisi, Luhut Binsar Pandjaitan, pria yang tampaknya punya nomor WhatsApp semua miliuner dunia. Di sisi lain, Purbaya Yudhi Sadewa, sang penjaga dompet negara yang tiap pagi mungkin mengawali hari dengan doa: “Ya Tuhan, semoga defisit tetap di bawah 3 persen.”

Dua-duanya bicara tentang uang. Tapi kalau Luhut bicara seperti sales investasi internasional dengan presentasi bergaya TED Talk, Purbaya lebih seperti dosen akuntansi yang baru saja menolak proposal “kegiatan mahasiswa tanpa RAB yang jelas.”

Luhut dan Mimpi Rumah Orang Kaya

Luhut datang membawa kabar gembira bagi para sultan dunia: “Ayo pindahkan uangmu ke Indonesia!”. Ia memperkenalkan konsep family office, semacam “day care” untuk miliuner, tempat uang mereka bisa tumbuh dengan nyaman sambil menikmati matahari Bali. Dalam imajinasinya, jet pribadi parkir di Ngurah Rai, dana miliaran dolar mengalir masuk, dan ekonomi lokal menari-nari dalam cahaya investasi.

Bagi Luhut, ini bukan sekadar proyek ekonomi, tapi branding nasional. Indonesia tak boleh selamanya jadi tempat liburan orang kaya, tapi juga tempat mereka “menyimpan masa depan finansialnya”. Ia ingin menjadikan negeri ini Singapura versi tropis, minus harga apartemen yang bikin jantungan.

BACA JUGA  Presiden: Indonesia Siap Berkolaborasi Pengembangan Teknologi Hijau Tingkat Global

Namun, para skeptis mengernyit. Mereka bilang, “Pak, sebelum kita jadi surga uang global, pastikan dulu aturan mainnya jelas”. Soalnya, kalau pengawasan lemah, yang masuk bukan cuma modal bersih, tapi juga uang yang “sudah terlalu sering dicuci”.

Ada pula yang berkomentar: “Family office itu ide keren, asal bukan ‘family project’ baru”. Tapi Luhut bukan tipe yang mundur hanya karena gurauan sinis. Ia tahu, di dunia investasi, siapa yang lebih dulu pasang meja, dialah yang paling dulu dapat pelanggan.

Purbaya dan Mantra “Jangan Belanja Lebih dari Uang Saku”

Di ujung lain meja rapat, Purbaya Yudhi Sadewa datang dengan wajah tenang tapi tegas. Kalau Luhut bicara tentang uang yang ingin masuk, Purbaya bicara tentang uang yang tidak boleh keluar sembarangan. Ia mengibarkan bendera “disiplin fiskal” dan bersumpah menjaga defisit APBN di bawah 3 persen, batas sakral yang bahkan setan inflasi pun enggan melanggar.

Ia percaya, negara yang sehat adalah negara yang tahu kapan harus berkata: “Maaf, proyek bagus, tapi uangnya belum ada”.

Baginya, APBN bukan lembar keajaiban yang bisa mencetak kesejahteraan dari printer, tapi alat ukur tanggung jawab.

BACA JUGA  Ketika "No Viral No Justice" Dipandang Jadi Alat Mencari Keadilan

Tapi tentu saja, banyak yang gatal ingin mengetes kesabarannya. Ada proyek kereta cepat, ada proyek ibu kota baru, ada segudang janji pembangunan. Semuanya memandang APBN seperti ATM tanpa limit. Purbaya tetap bergeming. “Boleh ambisius,” katanya, “asal bukan nekat.”

Investor pun menyukainya. Disiplin fiskal membuat Indonesia tampak seperti siswa teladan di kelas makroekonomi global. Tapi di sisi lain, rakyat kecil berharap: “Pak, boleh dong sesekali kendor, asal buat kami.”

Dua Strategi, Satu Tujuan: Biar Negara Tak Ngutang untuk Bayar Ngopi

Meski terlihat berseberangan, sebenarnya Luhut dan Purbaya sedang memainkan harmoni yang sama. Luhut mencari cara agar uang swasta yang gemuk mau ikut main di meja ekonomi Indonesia. Purbaya memastikan, kalau uang itu sudah masuk, negara tak malah jadi boros dan lupa diri.

Yang satu mencari sumber dana baru tanpa utang, yang satu memastikan utang lama tak makin menumpuk. Dalam dunia ideal, ini seperti duet gitar dan biola, saling melengkapi. Tapi dalam praktik, kadang bunyinya lebih mirip gitar patah senar dan biola yang belum disetem.

Pihak pro-Luhut bilang: “Kalau mau tumbuh cepat, buka pintu lebar-lebar!”
Pihak pro-Purbaya membalas: “Kalau pintu terlalu lebar, maling juga ikut masuk”.
Begitulah ekonomi: seni menyeimbangkan antara membuka peluang dan menjaga kewarasan fiskal.

Dompet Bersama, Mimpi Bersama

Pada akhirnya, dua tokoh ini mewakili dua karakter penting dalam rumah tangga ekonomi bangsa. Luhut adalah pasangan yang optimistis, “Yuk beli rumah besar, nanti gajiku naik”.
Purbaya adalah pasangan realistis, “Tapi cicilannya jangan sampai makan uang sekolah anak”.

Keduanya dibutuhkan. Sebab, tanpa Luhut, Indonesia bisa stagnan dalam rasa takut berinvestasi. Tapi tanpa Purbaya, kita bisa bangkrut dalam semangat yang berlebihan.

BACA JUGA  Dewan Pers Apresiasi Pejabat Publik yang Mendukung Profesionalisme Pers

Jadi, semoga duet ini tak berakhir seperti pasangan sinetron penuh drama tapi tanpa pembangunan nyata. Kalau mereka berhasil, mungkin suatu hari nanti kita benar-benar bisa berkata dengan bangga:
Indonesia, bukan cuma negara yang banyak mimpi, tapi juga tahu cara menabung dan menjemput rezeki.

*Penulis adalah Senior Consultant, Asesor LSP Tata Kelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)


Disclaimer:
Pernyataan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan pandangan narasumber dan tidak mewakili sikap resmi redaksi. Redaksi hanya menyajikan opini ini sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan ruang dialog publik.