Karhutla di Hulu Sungai Selatan, 12 Kematian Satwa Bekantan Dikonfirmasi BKSDA Kalsel

bekantan
Tim BKSDA Kalsel menunjukkan seekor bekantan yang tewas dari total 12 ekor yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Senin (14/9/2026). FOTO: HO-BKSDA Kalsel

BANJARMASIN-KALSEL, SUDUTPANDANG.ID – Sekurangnya 12 ekor satwa bekantan mengalami kematian akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di habitatnya di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), demikian terkonfirmasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Penjelasan itu disampaikan Kepala BKSDA Kalsel, Agus Ngurah Krisna dalam pernyataan yang dikutip di Banjarmasin, Selasa (15/9/2026)

“Dari keterangan Kepala Desa Balimau terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan tersebut, namun jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan setelah kebakaran melanda habitat satwa dilindungi tersebut,” katanya.

Pihaknya menerima laporan pada Ahad (13/9) dari petugas pemadam kebakaran Hulu Sungai Selatan dan masyarakat mengenai bekantan yang terdampak kebakaran di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau.

“Jadi, ada 12 ekor bekantan ya, kurang lebih, serta satu ekor ular piton dan satu ekor king kobra ikut terbakar,” katanya.

BACA JUGA  Koramil Wonomerto Laksanakan Pendampingan Dan Pengawasan Ketahanan Pangan

Ia menambahkan selain satwa endemik Kalimantan itu, bahwa kawasan tersebut juga menjadi habitat satwa lain, seperti lutung atau hirangan dalam bahasa lokal, serta monyet ekor panjang yang masih dipantau keberadaannya oleh tim BKSDA Kalsel.

Tim penyelamatan BKSDA Kalsel telah mendatangi lokasi untuk memeriksa kondisi habitat yang terbakar, luas kawasan terdampak, serta memastikan kemungkinan masih terdapat satwa yang selamat dan membutuhkan penyelamatan atau evakuasi.

Hasil pengecekan menunjukkan habitat bekantan di lokasi tersebut terdiri atas dua kawasan terpisah yang masing-masing memiliki luas sekitar dua hingga tiga hektare dan dipisahkan oleh jalan, dengan satu kawasan merupakan tanah desa dan kawasan lainnya milik masyarakat.

Dikemukakannya bahwa kebakaran, terutama terjadi di kawasan milik masyarakat dengan sekitar 80 persen lahan terbakar, sedangkan kawasan tanah desa aman dari kebakaran, sementara bekantan yang mati ditemukan berada di kawasan milik masyarakat tersebut.

BACA JUGA  Kebakaran Hutan dan Lahan 10,5 hektare di Aceh Dipadamkan Tim Manggala Agni

Kedua kawasan itu, kata dia, menjadi bagian dari wilayah jelajah bekantan, karena satwa menggunakan area tersebut sebagai jalur pergerakan, meskipun habitatnya terfragmentasi dan tidak membentuk satu hamparan ekosistem yang menyatu.

“Habitatnya memang terfragmentasi, jadi tidak satu hamparan habitat atau satu ekosistem yang menyatu, tetapi terpisah-pisah,” katanya.

Kondisi habitat yang terbatas, katanya, kemudian kebakaran dengan api cukup besar dan disertai angin kencang, diduga menyebabkan bekantan yang berada di kawasan tersebut tidak sempat menyelamatkan diri dari kobaran api.

BKSDA Kalsel telah menangani seluruh bangkai bekantan yang ditemukan dengan menguburkan, dan apabila ditemukan indikasi kematian akibat faktor lain, seperti penembakan, bangkai akan dibawa untuk diperiksa oleh dokter hewan.

Selanjutnya, pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa dan kecamatan serta mengajak masyarakat menjaga habitat satwa dilindungi tersebut, sembari melanjutkan pemantauan terhadap kemungkinan adanya satwa yang masih membutuhkan evakuasi.

BACA JUGA  Bupati Asahan Dampingi Presiden Resmikan Tol Tebingtinggi-Indrapura-Limapuluh-Kisaran

“Tim BKSDA masih mengecek kondisi bentang alam dan status lahan di kawasan APL tersebut untuk menentukan langkah penanganan berikutnya serta memastikan kondisi habitat dan satwa liar yang terdampak kebakaran,” katanya.

Kawasan yang menjadi habitat bekantan dikepung kabut asap akibat terdampak karhutla di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, demikian Agus Ngurah Krisna. (red/Ant/02)