Daerah  

Perang Topat, Simbol Perdamaian dalam Keberagaman di Lombok Barat

Perang Topat/Dok: Kemenparekraf

Lombok Barat, Sudut Pandang.id-Bila mendengar kata perang, tentu yang terlintas kesan menyeramkan. Namun “Perang Topat” yang digelar di Kompleks Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), jauh dari kesan seram. Justru sebaliknya, rasa damai muncul setelah “perang” digelar.

‘Perang’ yang dimaksud dilakukan dengan saling melempar ketupat di antara masyarakat Muslim dan Hindu. Ketupat yang telah digunakan untuk berperang juga seringkali diperebutkan, karena dipercaya bisa membawa kesuburan bagi tanaman agar hasil panennya bisa maksimal. Kepercayaan ini sudah berlangsung ratusan tahun, dan masih terus dijalankan

IMG-20220125-WA0002

Ratusan peserta perang antara umat Muslim dan Hindu serta suku Sasak dan Bali hadir berbaur menjadi satu. Mereka datang untuk menghadiri sebuah tradisi masyarakat Lombok Barat yang sudah berlangsung ratusan tahun.

Penari saat acara tradisi Perang Topat di Lombok Barat/Dok: Kemenparekraf

Tradisi Perang Topat ini menceritakan kedamaian masyarakat Lombok Barat saat mempraktikkan hidup dalam keberagaman. Islam dan Hindu menyatu tanpa ada gesekan dan konfrontasi. Yang muncul justru tradisi Perang Topat yang lestari hingga sekarang.

“Perang Topat bukan merupakan perang sungguhan, melainkan sebuah tradisi masyarakat Lombok Barat yang sudah berlangsung ratusan tahun,” ujar Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid, saat puncak Perang Topat, Rabu (11/12/2019.

Ia mengatakan, tradisi ini melambangkan kedamaian masyarakat di daerahnya saat mempraktikkan hidup dalam keberagaman. Islam dan Hindu tetap hidup rukun harmonis saling menjaga toleransi.

“Rangkaian kegiatan Perang Topat adalah salah satu bukti kehidupan keberagamaan, yang didasari oleh kebersamaan serta nilai-nilai sepenanggungan. Ini sangat hidup di Kabupaten Lombok Barat,” kata Fauzan.

Suasana saat Perang Topat di Lombok Barat/Dok: Kemenparekraf

Menurut Bupati Fauzan, gambaran keharmonisan umat beragama tersebut bisa disaksikan sebelum puncak acara yang dimulai dengan ritual mengarak kerbau. Tokoh agama dari perwakilan umat Muslim dan Hindu memegang tali kerbau saat mengarak keliling taman Pura Lingsar.

“Kerbau merupakan simbol penghormatan kepada umat Islam dan Hindu. Alangkah indahnya kenyataan yang dibungkus dengan kesadaran total bahwa kita semua mahluk Allah SWT, guna merajut persaudaraan dan perdamaian. Jadi filosopi Perang Topat yakni mempertahankna tradisi menjaga toleransi,” tuturnya.

“Saya minta Dinas Pariwisata untuk bisa mendiskusikannya dengan seluruh pemangku adat supaya tanggal penyelenggaraan tradisi Perang Topat bisa dipastikan lebih awal,” tambah Fauzan.

Sementara itu, Asisten Deputi Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Muh Ricky Fauziyani mengatakan, tradisi Perang Topat menjadi pelajaran tentang cara menjaga toleransi dan silaturahmi di antara dua suku dan agama di Lombok Barat.

“Lombok Barat beruntung punya tradisi adiluhung yang tinggi. Itu yang harus kita lestarikan, serta dipromosikan sehingga banyak wisatawan yang tertarik dengan budaya yang ada di sini. Terlebih Lombok memiliki kawasan destinasi super prioritas Mandalika, harus dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Ricky.(bmg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.