Daerah  

Perjuangan Nenek Upit Selamat dari Terjangan Banjir Bandang

Ilustrasi banjir bandang
Ilustrasi banjir bandang

Bandung, SudutPandang.id-Cerita perjuangan diungkapkan Nenek Upit, (43), warga Kampung Lebak Sari, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, yang selamat dari terjangan banjir bandang. Ia sempat terjebak selama dua jam saat banjir menggenangi rumahnya, Selasa, (31/12/2019) lalu.

Nenek Upit mengaku, saat itu sedang menemani cucu pertamanya menonton televisi. Tidak lama, dia melihat air mulai masuk ke dalam rumahnya.

IMG-20220125-WA0002

Ia akhirnya bangun dari duduknya, dengan sigap mengambil kain, pakaian bekas untuk menyumbat lubang di bawah pintu rumahnya. Setelah itu, ia pun kembali menemani cucunya menikmati tayangan film kartun bersama cucunya.

Ternyata air yang masuk bukan air biasa, air bah itu tiba-tiba menerjang pintu rumah Nenek Upit. Air yang menerjang masuk, seketika itu ia berjuang keluar dari jebakan air. Selama dua jam, nenek Upit tejebak di dalam air yang menggenangi rumahnya, setinggi leher orang dewasa.

Beruntungnya, dalam situasi seperti itu, ia masih sadar dan berinisiatif untuk menaiki salah satu lemari di rumahnya. Sayang, lemari itu roboh tidak kuat menahan. Mungkin juga karena kekuatan kayu lemarinya sudah rapuh akibat air bah yang mengepung rumah.

“Ibu karendem 2 jam enggak bisa apa-apa. Mau kedalam enggak bisa. Cuma bisa manggil teteh-teteh (putri pertamanya),” tutur Nenek Upit dilansir dari pikiran-rakyat.com

Selama dua jam nenek Upit hanya berjuang dengan cucunya, namun cucunya pun tidak bisa apa-apa. Bisa dikatakan, kali ini nasib cucu Nenek Upit masih sangat beruntung. Cucunya selamat dari ganasnya air yang mengepung.

Padalarang banjir
Underpas Padalarang Bandung Barat saat terendam banjir/twitter

Tiga hari, banjir bandang berlalu, nenek Upit dan putri pertamanya, Lina Sugiarti (39) hanya bisa meratapi barang-barang perabotan rumahnya yang hancur, sebagian rusak tidak berfungsi lagi.

Tempat tidurnya pun rusak tergenang air, hanyut bahkan terbawa arus. Soal barang-barang elektronik, tidak usah dijelaskan lagi, kondisinya rusak, tidak berfungsi lantaran tergenang air.

Belum lagi, tiga motor yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-harinya rusak, dan harus menginap di bengkel.Bahkan kompor untuk memasak dan mendidihkan air untuk sekedar menghangatkan badan di malam hari pun tidak bisa lagi dipergunakan.

“Kulkas, kalau lemari sudah tidak mau ngomong lagi, buku tulis keperluan sekolah anak-anak semuanya rusak,” kata Lina sambil berkaca-kaca.

Saat ini, Nenek Upit dan putrinya Lina Sugiarti, berharap solusi kepada pemerintah terkait atas musibah air bah yang menerjang rumahnya.

“Kita rakyat kecil yang jadi korban. Enggak punya apa-apa mau makan gimana (susah). Trauma,” tutur Lina Sugiarti sambil terisak menangis.(red/yus/pr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.