Pimpinan LHIBS Lombok Barat Ajak Pesantren Berbenah dan Perkuat Perlindungan Santri

Avatar photo
Pimpinan LHIBS Lombok Barat Ajak Pesantren Berbenah dan Perkuat Perlindungan Santri
Pimpinan Lentera Hati Islamic Boarding School (LHIBS) Kabupaten Lombok Barat, NTB, Dr. Muazzar Habibi. (Foto: istimewa)

“Jadikan ujian sebagai momentum untuk perbaikan internal. Jangankan kita, Rasulullah SAW pun mendapatkan ujian berat saat pertama kali menyebarkan Islam. Ujian adalah cara agar kita terus memperbaiki diri menuju kebaikan.”

LOMBOK BARAT-NTB, SUDUTPANDANG.ID – Pimpinan Lentera Hati Islamic Boarding School (LHIBS) Kabupaten Lombok Barat, NTB, Dr. Muazzar Habibi, mengajak seluruh elemen pesantren menjadikan Hari Santri Nasional sebagai momentum untuk memperkuat komitmen menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), melakukan introspeksi, serta meningkatkan peran pesantren di tengah masyarakat.

Menurut Muazzar Habibi, Hari Santri Nasional tidak seharusnya diperingati sebatas seremoni untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan. Peringatan tersebut juga menjadi pengingat atas peran pesantren dalam membentuk karakter, moral, dan akhlak masyarakat.

Ia turut menyoroti berbagai persoalan yang sempat terjadi di lingkungan pesantren, khususnya di NTB. Muazzar mengajak para pengasuh pesantren untuk bersikap terbuka dan menjadikan setiap persoalan sebagai bahan evaluasi internal.

Menurutnya, lembaga pendidikan dengan jumlah penghuni ratusan hingga ribuan orang memiliki tantangan tersendiri dalam pengelolaannya. Karena itu, setiap persoalan harus ditangani secara serius dan tidak dibiarkan berlarut-larut.

Muazzar juga mengapresiasi peran lembaga swadaya masyarakat (LSM), Lembaga Perlindungan Anak (LPA), serta aparat penegak hukum (APH) yang mengungkap dugaan pelanggaran atau persoalan di lingkungan lembaga pendidikan keagamaan.

BACA JUGA  Pangdam XXX/Rinambora dan Forkopimda NTB Perkuat Sinergi Jaga Stabilitas Daerah

“Adanya persoalan kemarin jangan sampai menurunkan citra pesantren, tetapi harus memperkuat jati diri untuk kembali kepada fitrahnya. Jika ada persoalan, kita tidak boleh menunggu lama bertahun-tahun. Harus ada yang berani berbicara. Kami mengapresiasi LSM, LPA, dan APH yang berani mengungkap hal ini demi kebaikan bersama,” kata Muazzar dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).

Ia menegaskan, keterbukaan dan evaluasi diperlukan agar persoalan yang melibatkan oknum tidak menggeneralisasi atau merusak citra pesantren secara keseluruhan.

Libatkan UMKM dalam Peringatan Hari Santri

Dalam peringatan Hari Santri Nasional, LHIBS juga mengubah konsep kegiatan dengan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat.

Sejumlah pedagang lokal, antara lain penjual bakso, soto, dan siomay, diundang untuk berjualan selama kegiatan berlangsung. Inisiatif tersebut diharapkan dapat membuka ruang interaksi antara pesantren, santri, wali santri, dan masyarakat sekitar sekaligus memberikan kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan pendapatan.

Muazzar mengatakan, peringatan Hari Santri sebaiknya tidak hanya menjadi acara seremonial yang menempatkan santri dan wali santri sebagai penonton.

BACA JUGA  Masya Allah, Ternyata Ini Makna dari NTB Gemilang

“Kita ubah konsepnya. Jangan sampai acara Hari Santri hanya jadi ajang seremonial, di mana pejabat datang lalu santri dan wali santri hanya jadi penonton. Kami hadirkan UMKM lokal agar pesantren lebih dekat dengan masyarakat. Pesantren ini bukan hanya milik tuan guru, melainkan milik seluruh masyarakat sekitar,” ujarnya.

Tekankan Disiplin Tanpa Intimidasi

Selain memperkuat hubungan dengan masyarakat, LHIBS menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan bebas dari intimidasi. Muazzar menyebut pendekatan disiplin terhadap santri perlu mengedepankan metode yang humanis dan edukatif.

Ia menjelaskan, pelanggaran tetap perlu ditindaklanjuti dengan pembinaan. Namun, bentuk tindakan harus mempertimbangkan aspek pendidikan dan pembentukan karakter santri.

Muazzar mencontohkan kegiatan seperti piket membersihkan sampah atau push-up sebagai bentuk aktivitas fisik, serta menulis Surah Yasin atau menambah hafalan Juz Amma sebagai kegiatan yang melibatkan kemampuan kognitif.

“Jika ada kesalahan, tetap ada tindakan disiplin, tetapi harus yang mendidik. Ada keseimbangan antara hukuman motorik, seperti piket membersihkan sampah atau push-up, dengan hukuman kognitif, misalnya menulis Surah Yasin berulang-ulang atau menambah hafalan Juz Amma. Tanpa kekerasan, mereka secara tidak langsung justru akan hafal,” tuturnya.

Ingatkan Santri Bijak Bermedia Sosial

Menutup pesannya pada momentum Hari Santri, Muazzar mengingatkan para santri, khususnya generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, agar tidak mudah terprovokasi oleh potongan video di media sosial.

BACA JUGA  Pastikan Kondisi Prima, Dokkes Polres Bima Cek Kesehatan Personel Pospam Nataru

Ia mengimbau santri untuk menyikapi konten di Instagram Reels, TikTok, dan Facebook secara kritis serta tidak langsung menyimpulkan kondisi pesantren hanya berdasarkan video singkat yang beredar.

Muazzar juga berpesan kepada para masyayikh dan pengasuh pesantren agar menjadikan setiap persoalan sebagai bahan introspeksi dan perbaikan, bukan alasan untuk saling menyalahkan.

“Jadikan ujian sebagai momentum untuk perbaikan internal. Jangankan kita, Rasulullah SAW pun mendapatkan ujian berat saat pertama kali menyebarkan Islam. Ujian adalah cara agar kita terus memperbaiki diri menuju kebaikan,” pungkasnya.(ilham/01)