SUDUTPANDANG.ID – Pemerintah Tiongkok merespons rencana Bank Dunia yang akan mengakhiri pinjaman pembiayaan pembangunan bagi negara tersebut secara bertahap hingga 2031.
Dilansir dari Qianlong Wang, Sabtu (25/7/2026), Beijing menyatakan bahwa hubungan dengan Bank Dunia akan tetap berlanjut melalui kemitraan strategis yang berfokus pada kerja sama pengetahuan, penanganan tantangan global dan pembangunan bersama.
Pernyataan tersebut disampaikan Kementerian Keuangan Tiongkok melalui situs resminya pada 1 Juli 2026 dan dilansir sejumlah media daring, belum lama ini.
Dalam keterangannya, pemerintah menyebut hubungan Tiongkok dan Bank Dunia yang telah terjalin lebih dari 40 tahun memberikan kontribusi terhadap reformasi ekonomi, keterbukaan, pengentasan kemiskinan, serta pembangunan global.
Kementerian Keuangan Tiongkok menjelaskan, nilai pinjaman Bank Dunia kepada negaranya terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut pemerintah, penurunan tersebut merupakan konsekuensi dari meningkatnya kapasitas ekonomi nasional sekaligus berubahnya kebutuhan pembangunan di dalam negeri.
Pemerintah Tiongkok menilai perubahan pola kerja sama tersebut juga sejalan dengan praktik yang diterapkan Bank Dunia terhadap negara-negara anggota yang telah mengalami kemajuan ekonomi. Karena itu, hubungan kedua pihak diarahkan pada penguatan kemitraan strategis dibandingkan pembiayaan pembangunan.
“Skala pinjaman Bank Dunia kepada Tiongkok secara bertahap menurun dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan pertumbuhan signifikan kekuatan nasional Tiongkok secara keseluruhan,” demikian pernyataan Kementerian Keuangan Tiongkok.
Beijing menegaskan statusnya sebagai negara berkembang terbesar di dunia tidak mengurangi komitmen untuk memperkuat kerja sama dengan Bank Dunia.
Kolaborasi ke depan akan difokuskan pada pertukaran pengetahuan, peningkatan kualitas pembangunan, serta penanganan berbagai isu global.
Kerja Sama Berbasis Pengetahuan
Pemerintah Tiongkok juga menyatakan kerja sama berbasis pengetahuan dinilai lebih relevan dengan kebutuhan pembangunan saat ini.
Pendekatan tersebut diharapkan mendukung pembangunan domestik sekaligus mendorong kemakmuran bersama di kalangan negara-negara berkembang.
Sementara itu, Bank Dunia berencana mengakhiri pinjaman pembiayaan pembangunan kepada Tiongkok secara bertahap hingga 2031.
Setelah proses tersebut selesai, Tiongkok tidak lagi berstatus sebagai negara peminjam Bank Dunia.
Rencana tersebut mendapat perhatian sejumlah negara anggota Bank Dunia, termasuk Amerika Serikat, yang selama beberapa tahun terakhir mendorong penghentian pinjaman kepada Tiongkok.
Mereka menilai pertumbuhan ekonomi Tiongkok telah meningkatkan kemampuan negara tersebut untuk membiayai pembangunan secara mandiri.
Usulan penghentian pinjaman itu telah diajukan kepada dewan direksi eksekutif Bank Dunia dan dijadwalkan dibahas pada pekan keempat Juli 2026. Keputusan yang diambil nantinya akan menentukan kelanjutan kebijakan pembiayaan Bank Dunia terhadap Tiongkok.(red)










