Revitalisasi PAUD Blora Capai Rp 800 Juta Lebih, Pembangunan Sudah 60 Persen

Avatar photo
Revitalisasi PAUD Blora Capai Rp800 Juta Lebih, Pembangunan Sudah 60 Persen
Revitalisasi PAUD di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (Foto: Teguh/Sudutpandang.id)

BLORA, SUDUTPANDANG.ID – Dua satuan pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mendapat program revitalisasi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 dengan nilai masing-masing lebih dari Rp800 juta.

Kedua lembaga tersebut yakni KB Aisyiyah Dologan di Kecamatan Japah yang memperoleh anggaran Rp869.348.538 dan TK Pertiwi Kedungwungu dengan anggaran Rp810.341.000.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, masing-masing proyek dikerjakan P2SP dengan durasi 120 hari kalender. Pembangunan KB Aisyiyah Dologan berlangsung 14 Juli-11 November 2026, sedangkan TK Pertiwi Kedungwungu dijadwalkan berlangsung 6 Juli-2 November 2026.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sandy, mengatakan, besaran bantuan ditetapkan berdasarkan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.

“Nilainya berdasarkan kebutuhan sekolah, dana yang didapat harus dipertanggungjawabkan,” kata Sandy, Senin (28/9/2026).

Menurut Sandy, besaran anggaran tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan apabila terdapat kebutuhan fisik yang memerlukan biaya lebih besar.

BACA JUGA  Respon Galiech Soal Curhatan Asri Welas di YouTube

“Kalau memang kebutuhan gedungnya segitu bisa saja,” ujarnya.

Ia mengatakan besaran bantuan revitalisasi TK/RA di Blora bervariasi. Menurut dia, nilainya rata-rata berkisar Rp200 juta hingga Rp600 juta.

“Nilainya variasi, rata-rata antara Rp200 juta hingga Rp600 juta,” katanya.

Pengawasan Pembangunan

Sandy mengatakan, pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan dilakukan melalui mekanisme yang telah ditetapkan pemerintah.

“Pengawasan di lapangan ada Tim Teknis Pengawas, dari kementerian ada fasilitator,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Blora, Subroto, mengatakan, pelaksanaan program revitalisasi perlu disertai keterbukaan informasi mengenai proses pengusulan dan penetapan penerima bantuan.

“Yang jelas revitalisasi ini keran dibuka lebar, sehingga di lapangan saling berebut klaim siapa yang mengusulkan,” kata Subroto.

Ia juga mempertanyakan besaran anggaran revitalisasi yang mencapai hampir Rp1 miliar untuk satu lembaga TK.

“Untuk TK yang nilainya hampir Rp1 miliar, mungkin gedungnya dilengkapi laboratorium bahasa dan komputer,” ujarnya.

Subroto mengatakan kondisi sarana pendidikan di Blora masih beragam. Ia menilai pemerintah perlu memperhatikan kebutuhan perbaikan sarana dan prasarana sekolah berdasarkan kondisi masing-masing satuan pendidikan.

BACA JUGA  Tangan Dokter Gemetar Saat Suntikan Vaksin Covid-19 ke Jokowi

“Masih banyak gedung SD yang tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar, kok TK malah dapat hampir Rp1 miliar,” katanya.

Pembangunan KB Aisyiyah Dologan Capai 60 Persen

Revitalisasi PAUD Blora Capai Rp800 Juta Lebih, Pembangunan Sudah 60 PersenKepala KB Aisyiyah Dologan, Herlina, mengatakan, jumlah peserta didik pada tahun pelajaran 2025/2026 sebanyak 33 siswa.

Menurut Herlina, progres pembangunan di sekolah tersebut telah mencapai sekitar 60 persen.

“Jumlah siswa 2025/2026 adalah 33 siswa. Ketua Pak Parwi. Sudah 60 persen,” kata Herlina.

Ia mengatakan, anggaran revitalisasi digunakan untuk sejumlah pekerjaan, antara lain rehabilitasi ruang kelas dan kantor, pembangunan kamar mandi, serta pembangunan ruang kelas B.

Herlina menyebut progres sejumlah pekerjaan tersebut bervariasi. Rehabilitasi kelas dan kantor masing-masing mencapai 67 persen, pembangunan kamar mandi 63 persen, sedangkan pembangunan ruang kelas B mencapai 67 persen.

Adapun pengadaan perabot untuk ruang kelas baru belum mencapai progres pekerjaan.

BACA JUGA  Usai Tinjau Lokasi, Wali Kota Bekasi Jenguk Korban Kecelakaan Kereta di RSUD Kota Bekasi

Ketika ditanya mengenai pihak yang menginformasikan atau membawa program tersebut ke sekolah, Herlina mengatakan dirinya belum mengetahui secara rinci.

“Kurang tahu ya, Pak. Dibawa teman saya, guru yang saya kenal,” ujarnya.

Herlina juga mengaku dirinya belum mengetahui secara teknis mekanisme pelaksanaan pembangunan, termasuk apakah pekerjaan dilakukan secara swakelola atau melalui pihak ketiga.

“Bentar ya, Pak. Saya soalnya kepala sekolah baru jadi belum terlalu paham dan mengerti,” katanya.(Teguh/01)