Ribuan Warga Berebut Gunungan Tumpeng Tahu dalam Tradisi Sedekah Bumi Toyoresm

Saat ribuan warga berebut gunungan tumpeng tahu pada tradisi Sedekah Bumi di Desa Toyoresmi. (Foto: Chandra Nurcahyo)

KEDIRI, SUDUT PANDANG.ID – Ribuan warga memadati jalan raya di depan Makam Syeh Zaenal Abidin (Mbah Kabul), Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, untuk mengikuti tradisi tahunan Sedekah Bumi, Jumat (3/7/2026). Tradisi yang digelar setiap Bulan Suro ini menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus upaya melestarikan budaya warisan leluhur.

Sejak pukul 07.00 WIB, masyarakat mulai berdatangan ke lokasi. Sebanyak 14 gunungan berisi tumpeng tahu kuning khas Kediri serta aneka hasil bumi, seperti cabai, terong, kacang panjang, tomat, dan berbagai jenis sayuran maupun buah-buahan, disiapkan untuk dikirab.

Kirab gunungan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB menuju Makam Mbah Kabul. Setibanya di lokasi, seluruh peserta mengikuti doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur atas hasil panen dan rezeki yang diterima masyarakat.

Belum usai doa bersama berlangsung, ribuan warga langsung berebut isi gunungan. Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh tumpeng tahu dan hasil bumi ludes dibawa pulang warga yang meyakini hasil bumi tersebut membawa keberkahan.

BACA JUGA  DPD AMPI Asahan Masa Bakti 2026–2031 Resmi Dilantik

Kepala Desa Toyoresmi, Gatot Siswanto, mengatakan tradisi Sedekah Bumi telah dilaksanakan secara turun-temurun setiap Bulan Suro dan menjadi agenda rutin masyarakat Dusun Besuk.

Menurut Gatot, kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Paguyuban Budi Luhur diketuai Mbah Sulis, sedangkan Pemerintah Desa Toyoresmi memberikan dukungan agar tradisi tetap terjaga dan terus dilestarikan.

“Kegiatan ini merupakan rutinitas yang dilaksanakan setiap tahun, tepatnya setiap Bulan Suro. Masyarakat Dusun Besuk, Desa Toyoresmi, terus menjaga dan melestarikan tradisi warisan leluhur yang dikenal sebagai Sedekah Bumi,” ujar Gatot yang juga pengusaha Tahu Takwa GTT khas Kediri.

Ia menambahkan, tradisi Sedekah Bumi tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakat.

“Seluruh masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Harapannya masyarakat diberikan keselamatan, kesehatan, rezeki yang lancar, hasil pertanian yang melimpah, serta usaha masyarakat semakin maju,” katanya.

BACA JUGA  Gunung Merapi Luncurkan Guguran Lava 13 Kali Selama Sepekan

Gatot menjelaskan, seluruh gunungan yang dikirab merupakan hasil swadaya masyarakat. Gunungan disiapkan oleh kelompok RT, kelompok tani dari hasil panen, kelompok pemuda, hingga kelompok swadaya masyarakat.

“Sebagian biaya kegiatan juga berasal dari iuran sukarela warga yang dikumpulkan secara rutin sesuai kemampuan masing-masing,” ungkapnya.

Beragam gunungan yang dikirab terdiri atas tumpeng tahu, tumpeng sayur, hingga tumpeng cabai berukuran besar. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata, Camat Ngasem, Danramil, Kapolsek, tokoh masyarakat serta sejumlah tamu undangan lain.

Gatot berharap tradisi Sedekah Bumi sebagai warisan budaya Desa Toyoresmi terus mendapat dukungan dari berbagai pihak agar tetap lestari.

“Kami berkomitmen untuk terus mendukung tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini. Semoga usaha masyarakat Desa Toyoresmi semakin berkembang sehingga pelaksanaan Sedekah Bumi pada tahun-tahun mendatang dapat berlangsung lebih meriah lagi,” pungkasnya.

BACA JUGA  Sidoarjo Mendapatkan 80 Ton Bantuan Pangan Beras, H.Subandi : Gunakan Dengan Sebaik Mungkin

Sementara itu, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Toyoresmi, Mohamad Aksonul Huda, mengatakan tradisi Bersih Desa merupakan warisan budaya yang harus dijaga bersama.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga mempererat persatuan dan semangat gotong royong masyarakat.

“Kami berharap tradisi ini tetap dilestarikan oleh seluruh elemen masyarakat sebagai bagian dari identitas Desa Toyoresmi. Semoga melalui kegiatan ini persatuan warga semakin kuat, budaya leluhur tetap terjaga, serta Desa Toyoresmi senantiasa diberikan keberkahan dan kemajuan,” ujarnya. (CN)