LUMAJANG-JATIM, SUDUTPANDANG.ID – Dengan tinggi kolom letusan berkisar 700 meter hingga 1.100 meter di atas puncak, Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, meletus sebanyak tujuh kali pada Kamis (16/7/2026).
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto dalam laporan tertulis yang dikutip di Lumajang menjelaskan bahwa tujuh kali letusan pada Kamis itu terjadi sejak pukul 00.42 WIB hingga 06.15 WIB.
Menurut dia, aktivitas Gunung Semeru asih didominasi oleh gempa erupsi/letusan dengan status Level III atau Siaga.
Pada pengamatan kegempaan periode Kamis pukul 00.00-06.00 WIB tercatat Gunung Semeru mengalami 15 kali gempa erupsi/letusan dengan amplitudo 13-22 mm dengan lama gempa 71-158 detik, kemudian 5 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-4 mm dengan lama gempa 37-87 detik.
“Semeru juga mengalami 3 kali gempa embusan dengan amplitudo 3-8 mm, satu kali harmonik dengan amplitudo 5 mm, dan dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 8-11 mm,” katanya.
Gempa erupsi juga masih mendominasi aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada pengamatan Rabu (15/7) pukul 00.00-24.00 WIB yakni sebanyak 66 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-23 mm, bahkan setiap hari jumlah gempa erupsi juga tercatat puluhan kali.
“Awan panas guguran terjadi satu kali dengan amplitudo 22 mm dan lama gempa 187 detik, kemudian 16 kali gempa guguran dengan amplitudo 1-6 mm dan lama gempa 32-91 detik,” katanya.
Gunung Semeru mengalami 11 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 2-8 mm, delapan kali harmonik dengan amplitudo 1-15 mm, tiga kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 11-13 mm, S-P 17-21 detik dan lama gempa 31-64 detik.
Berdasarkan data petugas, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu mengalami erupsi sebanyak tujuh kali pada Kamis sejak pukul 00.42 WIB hingga 06.15 WIB dengan tinggi kolom letusan berkisar 700 meter hingga 1.100 meter di atas puncak.
Saat ini aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, kata dia, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
“Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” katanya.
Ia meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” demikian Liswanto. (Red/Ant/02)










