MATARAM-NTB, SUDUTPANDANG.ID – Kemarau panjang yang beriringan dengan fenomena El Nino mendorong satwa liar menyesuaikan perilakunya untuk bertahan hidup, antara lain dengan memperluas wilayah jelajah guna mencari sumber air dan pakan.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Bidang Ekologi Hewan Universitas Mataram (Unram), Prof Dr I Wayan Suana, S.Si, M.Si, dalam pernyataan yang dikutip di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (16/9/2026).
Menurut I Wayan Suana, kekeringan akibat kemarau panjang membuat satwa liar menyesuaikan perilaku, termasuk mengubah waktu aktivitas serta meningkatkan pergerakan untuk mencari sumber air, makanan dan tempat yang lebih teduh.
“Pada kondisi yang ekstrem, tekanan kekeringan dapat menyebabkan home range atau wilayah jelajah menjadi lebih luas, karena sumber daya yang biasanya tersedia di satu lokasi menjadi semakin terbatas,” katanya.
Kondisi kekeringan juga memengaruhi pola makan satwa, terutama kelompok pemakan rumput, daun, buah dan biji.
Kekeringan menyebabkan tumbuhan bawah mengering serta produksi daun muda dan buah menurun sehingga satwa perlu mencari sumber pakan alternatif.
“Interaksi antarhewan juga dapat meningkat di sekitar sumber air yang tersisa, sehingga berpotensi meningkatkan kompetisi untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas,” katanya.
I Wayan Suana mencontohkan perubahan produksi buah dan biji pada pohon pakan burung kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea occidentalis).
Kondisi tersebut dapat mendorong satwa meningkatkan pergerakan antarlokasi untuk menemukan sumber makanan yang masih tersedia.
Selain perilaku mencari makan, kemarau panjang juga dapat memengaruhi reproduksi satwa.
Ketika ketersediaan pakan menurun dan kondisi tubuh induk melemah, satwa cenderung menunda perkembangbiakan karena energi lebih diprioritaskan untuk mempertahankan hidup.
Ia menyebut sejumlah kelompok hewan yang rentan terhadap kemarau, antara lain satwa hutan yang bergantung pada jenis pohon tertentu, pemakan buah dan biji, amfibi, satwa kecil dengan wilayah jelajah terbatas, serta satwa yang hidup di kawasan hutan terfragmentasi.
Untuk mengurangi tekanan terhadap satwa selama musim kering, I Wayan Suana mengatakan ketersediaan sumber air alami di habitat perlu dipertahankan.
“Jika diperlukan, sumber air buatan dapat disediakan secara terbatas dan dikelola agar tidak menimbulkan konsentrasi satwa yang terlalu tinggi,” katanya.
Selain sumber air, pohon besar, pohon pakan, dan pohon yang memiliki lubang sarang perlu dipertahankan untuk menyediakan tempat berlindung, mencari makan dan berkembang biak bagi satwa.
Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan juga diperlukan selama kemarau. Vegetasi yang mengering dapat meningkatkan risiko kebakaran yang berpotensi menyebabkan hilangnya habitat satwa dalam waktu singkat.
“Intinya jangan hanya menyelamatkan hewannya ketika kemarau sudah terjadi. Kita harus meningkatkan ketahanan ekosistemnya sebelum kekeringan datang,” katanya.
Menurut I Wayan Suana, hutan dengan vegetasi beragam, ketersediaan pohon pakan dan sumber air, serta konektivitas habitat dapat memberikan ruang bagi satwa untuk beradaptasi terhadap El Nino dan perubahan iklim.(red/ant/02)











