JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Dokter ahli penyakit saraf (neurolog) klinisi Indonesia, dr Andreas Harry Lilisantosa, Sp.S(K) mengemukakan bahwa penanganan bagi anak autis membutuhkan pendekatan secara holistik.
“Bimbing pasien dan orang tua agar tidak menggunakan pengobatan yang tidak relevan,” katanya dalam penjelasan di Jakarta, Senin (22/12/2025).
Dengan pengalaman 40 tahun di Tanah Air dan internasional, Andreas Harry — lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta pada tahun 1984 dan melanjutkan pendidikan ahli saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jawa Timur dan lulus pada tahun 1992 itu menjelaskan — dibutuhkan upaya untuk menelaskan dan memahami implikasi autisme bagi individu dan keluarga, baik pada masa lalu, sekarang, dan masa depan.
“Jangan terlalu khawatir dan jangan pula terlalu protektif,” katanya.
Sebelumnya, pada Kamis (18/12), ia melakukan bedah buku dan seminar atas buku karyanya berjudul “Individual Autistik” guna memberikan wawasan yang dapat mengubah cara orang tua mendampingi anak, dari hanya mengenali gejala menjadi mendukung kekuatan alami mereka, dengan tujuan menggali potensi spesifik anak autis.
Ia kemudian menjelaskan tentang kasus autis yang terjadi pada Albert Einstein.
Einstein adalah seorang fisikawan teoretis kelahiran Jerman (1879-1955) yang dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar abad ke-20, paling terkenal karena mengembangkan teori relativitas dan rumus kesetaraan massa-energi \(E=mc^{2}\) yang ikonik, serta berkontribusi besar pada fisika kuantum, mendapatkan Nobel Fisika 1921 untuk hukum efek fotolistrik. Namanya identik dengan “jenius” dan karyanya mengubah pemahaman kita tentang ruang, waktu, dan alam semesta.
Andreas Harry menjelaskan bahwa Einstein mengidap autisme yang ditandai dengan masalah kesulitan berkomunikasi, emosional dan cacat interaksi sosial.
Ayah tiga putri — yang semuanya kini juga dokter spesialis itu — menemukan sindrom autistik pada putri bungsunya, Martini Lilisantosa, yang saat ini adalah dokter spesialis radiologi, sejak usia di bawah lima tahun (balita).
“Mulai saat itu, saya giat menekuni serta menyebarluaskan pemahaman autisme bagi publik,” katanya.
Hingga saat ini, kata dia, masih banyak orang tua tidak menyadari bahwa anak autis memiliki pola kekuatan, minat khusus, dan potensi luar biasa yang bisa muncul sejak usia sangat dini.
“Namun, talenta itu hanya bisa berkembang jika orang tua tahu cara mengenalinya,” katanya.
Untuk itu, ia menjelaskan bahwa diperlukan terapi perilaku intensif di rumah dan sekolah dan juga psikoterapi secara teratur dan berulang kepada anak autis.

“Autistic Savant”
Pada bagian lain Andreas Harry juga memaparkan apa yang disebut dengan “Autistic Savant” terkait dengan tingkat kecerdasan seseorang, yakni fenomena yang paling unik.
“Autisme, termasuk mereka yang mengalami keterbelakangan intelektual yang memilik keterampilan atau bakat khusus dalam bidang tertentu,” katanya.
“Disebut ‘Savant Autistic’ atau fenomena yang paling unik di mana mereka memiliki bakat luar biasa dan kemampuan kognitif khusus, yaitu kemampuan khusus dalam satu bidang tertentu,” katanya.
Ia memberi contoh pada kasus yang disebut sebagai “Tom Buta”.
Tom, dapat memainkan piano yang sulit setelah mendengarnya hanya sekali. Suatu kali ia memainkan satu lagu dengan satu tangan dan lagu kedua dengan tangan lainnya sambil menyanyikan lagu ketiga.
Lalu, Tom juga mampu mengulang daftar dengan benar sebanyak 300 angka setelah mendengarnya hanya sekali
“Sekotak korek api jatuh ke lantai ‘Seratus Sebelas’ Mereka segera berteriak bersama ‘Mereka adalah 111’,” katanya menceritakan munculnya bakat luar biasa, termasuk bakat untuk menggambar dan lainnya,” katanya.
Dahulu, katanya, autis ini diposisikan sebagai penyakit jiwa atau emosional, yaitu ketidakmampuan menyesuaikan diri. ” Namun, sekarang adalah gangguan neurobiologi sebagai perkembangan berbasis otak dan manisfestasi masalahnya adalah fungsi kognitif,” katanya.
Mengenai data anak autis di Indonesia, sejauh ini dirinya belum mendapatkan secara rinci, namun di Amerika Serikat (AS) pada 2008 angkanya adalah 6,6/1.000 kelahiran.
Saat ini diprediksi terjadi peningkatan sangat pesat (epidemic autism) di mana hampir kasusnya terjadi sebelum usia 3 tahun dan bahkan bisa seumur hidup, demikian Andreas Harry. (Red/02)


