Opini  

Selamat Siang Teman FWK: Air Mata Kurban Sambut Idul Adha

Selamat Siang Teman FWK: Air Mata Kurban Sambut Idul Adha
Didin Maninggara (Foto: Dok. Pribadi)

“Tulisan ini kami persembahkan dari “negeri kata-kata”. Sebab kami percaya, suara wartawan lahir dari keringat, darah, dan air mata rakyat kecil yang tetap setia berjuang, bekerja, dan taat membayar pajak demi Indonesia.”

Catatan Didin Maninggara

Waktu terus berpacu bersama matahari menyongsong fajar Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Dengan penuh rasa syukur ke hadirat Ilahi Rabbi, Sang Pencipta semesta, kita kembali dipertemukan dengan momentum suci yang sarat makna pengorbanan dan keikhlasan.

Selamat beraktivitas bagi rekan-rekan seprofesi yang tergabung dalam Forum Wartawan Kebangsaan (FWK). Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua. Aamiin.

Umat Islam merayakan Hari Raya Kurban. Sebuah peristiwa agung untuk mengenang ketaatan Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, demi menjalankan perintah Allah SWT. Namun, atas kehendak-Nya, pengorbanan itu kemudian digantikan dengan seekor kambing.

BACA JUGA  Mengutip Tak Lagi Gratis: Menuju Era Royalti Karya Jurnalistik

Dari peristiwa tersebut, kita belajar tentang arti keikhlasan, kesetiaan, dan keteguhan iman. Bahwa seseorang diuji bukan hanya melalui apa yang dimiliki, melainkan melalui kerelaannya melepas sesuatu yang paling berharga dan paling dicintai.

Pertanyaannya, mampukah kita bersikap seikhlas itu ketika harus melepaskan sesuatu yang berharga dalam hidup?

Sebagai insan pers, mata pena yang kita miliki semestinya tidak pernah padam. Ia harus terus menyala menjadi semangat yang mengalir, mengisi ruang-ruang hampa, sekaligus menyirami karya-karya jurnalistik yang mampu menginspirasi dan mencerdaskan masyarakat.

Mata pena adalah pisau nurani yang digerakkan oleh hati. Di sanalah profesi ini menemukan maknanya, menjadi jalan pengabdian yang digenggam hingga batas kemampuan terakhir.

BACA JUGA  Tantangan Berat Pers di Masa Mendatang

Meski batin kerap terasa pilu menyaksikan wajah Indonesia hari ini korupsi yang menggurita, kemiskinan yang membelit, nilai rupiah yang melemah, hingga harga kebutuhan pokok yang terus meroket, kita masih diberi ruang untuk berdiskusi, bercanda, dan menyeruput kopi sambil memikirkan arah perjalanan bangsa ini ke depan.

Kita ditakdirkan berkontribusi bagi negeri melalui tulisan. Merekam jejak peristiwa, mengungkap tabir persoalan, sekaligus menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan.

Karena itu, ada harapan besar agar FWK tetap menjadi “permata yang hakiki”.

Permata yang jernih memantulkan cahaya harapan, bahkan di tengah gelapnya keadaan.

Permata yang menguatkan jiwa dan nurani profesi agar tetap berpikir kritis dengan hati dan akal sehat.

Permata yang tetap tegar menghadapi badai zaman, sembari terus menjaga keberanian menyuarakan kebenaran.

BACA JUGA  Mitigasi Korupsi Dana Desa Melalui Program Desa Digital

Dan permata yang menjadikan daya kritis sebagai bentuk kepedulian terhadap rakyat dan negeri ini.

Duhai para penguasa negeri, tulisan ini kami persembahkan dari “negeri kata-kata”. Sebab kami percaya, suara wartawan lahir dari keringat, darah, dan air mata rakyat kecil yang tetap setia berjuang, bekerja, dan taat membayar pajak demi Indonesia.(*)