Catatan: Didin Maninggara
_________
Waktu berpacu bersama matahari menyongsong fajar Hari Raya Idul Adha 1447 H dengan senyum penuh syukur keharibaan Ilahi Robbi pencipta semesta.
Selamat beraktifitas teman seprofesi yang bergabung di Forum Wartawan Kebangsaan (FWK). Semoga Allah SWT selalu meberikan limpahan rahmatNya kepada kita semua. Aamiin
Dua hari lagi kita kembali dipertemukan dengan Hari Raya Qurban. Hari untuk memperingati ketaatan seorang Nabi Allah SWT, (Ibrahim AS) yang menyembelih putranya (Ismail AS) kemudian diganti oleh Allah SWT dengan seekor kambing.
Lewat peristiwa ini kita bisa ambil pelajaran, sebuah keikhlasan seseorang yang diuji lewat ketaatan dan kesetiaan dengan iman dan takwanya, rela memberikan dan mengorbankan apa yang paling berharga, dan paling disayang.
Bisakah dan mampukah kita sedemikian ikhlas melepas sesuatu yang berharga?
Sentuhan mata pena kita yang tak pernah pupus, semoga menjadi kekuatan menyala semangat bagai air yang mengalir mengisi ruang hampa menyirami karya-karya kita yang menginspirasi dan mencerdaskan.
Mata pena kita adalah pisau di tangan yang dikendalikan hati yang bersemayam di kolong langit batin: bahwa kita dalam pasungan cinta profesi. _Profesi yang digenggam sampai batas tak mampu menggenggam.
Walau air mata batin kita terus menetes menyaksikan pilu INDONESIA NEGERI KASIHAN yang mengemis ke Asing. Korupsi menggurita. Kemiskinan membelit. Rupiah anjlok. Harga kebutuhan pokok meroket. Namun, kita masih bebas canda ria menyeruput kopi ketika diskusi tentang negeri mau bawa ke mana?
Kita ditakdirkan berkontribusi untuk negeri lewat mata pena merekam jejak semua apa yang terjadi. Tabir misteri pun kita ungkap dengan segala tantangan yang sangat menantang.
Ada harapan: FWK akan selalu menjadi “permata yang hakiki.”
Yakni:
_ Permata yang jernih melukis senja dipagi hari.
_ Permata jiwa raga menusuk kalbu profesi, kita akan mampu menggapai mimpi terus berpikir kritis dengan hati dan jiwa.
_ Permata yang terus mengisahkan rintik-rintik berkisah di serenade hujan, pasti ada badai di lingkaran waktu.
_ Permata meraih satu yang bermakna bahwa daya kritis kita adalah sikap peduli selalu menyatu: Dengan bunga melati menebar aroma, pasti kita temukan harumnya. Pasti kita dapatkan alirannya.
Duhai! penguasa negeri. Kami persembahkan ini dari “negeri kata-kata” karena kami adalah keringat, darah dan air mata yang Insya Allah mewakili keringat, air mata dan darah anak-anak negeri yang marginal, tapi tulus berkurban: taat bayar pajak.


