Fajar/Fikri Tersingkir di Indonesia Open 2026

Fajar/Fikri Tersingkir di Indonesia Open 2026
Langkah Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri di Polytron Indonesia Open 2026 harus terhenti pada babak pertama setelah dikalahkan pasangan China, Chen Bo Yang/Liu Yi, dengan skor 13-21, 14-21. (Foto: ist/SP)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Langkah pasangan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, harus terhenti lebih awal pada ajang Polytron Indonesia Open 2026. Bermain di hadapan pendukung sendiri di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026), Fajar/Fikri gagal melewati babak pertama setelah dikalahkan pasangan China, Chen Bo Yang/Liu Yi, dalam dua gim langsung.

Pada pertandingan tersebut, Chen/Liu tampil dominan sejak awal laga dan berhasil mengamankan kemenangan dengan skor 21-13, 21-14. Kemenangan itu sekaligus mengantarkan wakil China melaju ke babak kedua turnamen BWF World Tour Super 1000 tersebut.

Sejak gim pertama dimulai, pasangan China menunjukkan permainan yang solid baik dalam bertahan maupun menyerang. Chen/Liu mampu mengontrol tempo pertandingan dan membuat Fajar/Fikri kesulitan mengembangkan pola permainan yang biasa mereka tampilkan.

Fajar/Fikri beberapa kali mencoba menekan melalui permainan cepat di depan net dan serangan-serangan tajam dari lini belakang. Namun, rapatnya pertahanan lawan membuat berbagai upaya tersebut tidak berjalan efektif.

Akibatnya, pasangan Indonesia kerap melakukan kesalahan sendiri saat berusaha mematikan reli. Kondisi itu dimanfaatkan dengan baik oleh Chen/Liu untuk terus menjaga keunggulan hingga menutup gim pertama dengan skor 21-13.

Memasuki gim kedua, Fajar/Fikri berusaha bangkit dan mengubah strategi permainan. Tim pelatih juga memberikan sejumlah instruksi untuk mencari celah dari pertahanan pasangan China yang sangat disiplin.

Meski demikian, perubahan strategi yang diterapkan belum mampu mengubah jalannya pertandingan. Chen/Liu tetap tampil konsisten dan tidak memberikan banyak ruang bagi pasangan Indonesia untuk berkembang.

BACA JUGA  Putri KW Bidik Revans atas Michelle Li di Indonesia Open

Pertahanan kokoh yang dipadukan dengan serangan balik cepat menjadi senjata utama pasangan China dalam pertandingan tersebut. Situasi itu membuat Fajar/Fikri semakin sulit menemukan ritme permainan terbaik mereka.

Pada akhirnya, Chen/Liu kembali mengamankan gim kedua dengan skor 21-14 sekaligus memastikan kemenangan straight game atas pasangan tuan rumah.

Usai pertandingan, Fajar mengakui lawan tampil jauh lebih siap dan mampu menjalankan strategi dengan sangat baik. Menurutnya, salah satu faktor utama kekalahan adalah kegagalan mereka menembus pertahanan rapat yang diperagakan pasangan China.

“Terima kasih untuk yang sudah mendukung kami. Mohon maaf kami belum bisa melaju ke babak selanjutnya. Lawan bermain sangat siap dan sangat baik. Mereka bermain defense balik serang dan mempunyai pertahanan yang sangat rapat,” ujar Fajar.

Ia menambahkan bahwa serangan yang dibangun bersama Fikri tidak mampu menghasilkan poin secara efektif. Sebaliknya, keinginan untuk segera mematikan lawan justru berujung pada banyaknya kesalahan sendiri.

“Serangan kami tidak bisa menembus pertahanan mereka. Kami ingin cepat-cepat mematikan, malah jadi boomerang buat kami sendiri. Kami banyak melakukan kesalahan sendiri,” katanya.

Shohibul Fikri juga mengungkapkan bahwa dirinya dan Fajar sebenarnya telah berusaha melakukan berbagai perubahan selama pertandingan berlangsung. Namun, lawan mampu menjaga konsistensi permainan sehingga sulit ditembus.

BACA JUGA  Laskar Rencong Patahkan Taring Macan Kemayoran 1-0

“Usaha untuk mengubah pola permainan pasti ada. Dari awal kami selalu berusaha. Tetapi ketika kami mencoba mencari cara, mereka juga bermain sangat solid dan pertahanannya sangat kuat,” ujar Fikri.

Hal senada disampaikan Fajar yang menyebut tim pelatih telah memberikan beberapa opsi strategi untuk menghadapi permainan Chen/Liu. Meski sejumlah instruksi berhasil diterapkan, hasilnya belum cukup untuk membalikkan keadaan.

“Pelatih sudah memberikan beberapa opsi untuk mengubah strategi dan kami sudah mencoba menerapkannya. Tapi memang permainan kami bukan tipe yang mengandalkan defense. Kami sudah mencoba, namun serangan lawan juga sangat bagus,” tuturnya.

Kekalahan ini cukup mengejutkan mengingat performa Fajar/Fikri sedang menunjukkan tren positif dalam beberapa pekan terakhir. Sebelum tampil di Indonesia Open 2026, pasangan ini berhasil melangkah hingga partai final Singapore Open yang berstatus turnamen Super 750.

Penampilan impresif di Singapura sempat memunculkan optimisme bahwa mereka dapat melangkah jauh di Istora Senayan. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Fajar menilai kekalahan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh jadwal turnamen yang padat.

Menurutnya, faktor utama adalah kualitas permainan lawan yang tampil sangat baik serta buruknya performa mereka sendiri sepanjang pertandingan.

“Soal efek back-to-back turnamen sudah biasa. Itu tergantung bagaimana pemain menjaga kondisi. Tapi memang hari ini lawan bermain sangat baik dan mungkin ini bisa dibilang penampilan paling buruk sejak awal saya berpasangan dengan Fikri,” ungkap Fajar.

BACA JUGA  Menpora Amali Minta Timnas Indonesia Tetap Semangat

Selain itu, pasangan Indonesia juga menyadari bahwa pola permainan mereka tampaknya sudah dipelajari dengan baik oleh lawan. Chen/Liu mampu membaca arah serangan dan menutup berbagai ruang yang biasa dimanfaatkan Fajar/Fikri untuk mencetak poin.

Tekanan yang terus diberikan pasangan China membuat Fajar/Fikri bermain terburu-buru dan kesulitan keluar dari situasi sulit. Akibatnya, mereka gagal menemukan solusi untuk membalikkan keadaan hingga pertandingan berakhir.

Hasil ini menjadi evaluasi penting bagi Fajar/Fikri dalam menghadapi turnamen-turnamen berikutnya. Sebagai salah satu andalan Indonesia di sektor ganda putra, keduanya dituntut segera bangkit dan memperbaiki sejumlah aspek permainan agar mampu kembali bersaing di level tertinggi bulu tangkis dunia.

Meski langkah mereka terhenti di babak pertama Indonesia Open 2026, pengalaman menghadapi pasangan yang memiliki pertahanan kuat seperti Chen/Liu diharapkan menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan performa pada kompetisi mendatang. (09/AGF).