JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penampilan tim Indonesia usai tampil pada Asia Junior Championships (AJC) 2026.
Evaluasi tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju World Junior Championships (WJC) 2026, dengan fokus memperbaiki aspek taktikal, mental bertanding, serta meningkatkan pengalaman internasional para atlet muda.
Manajer Tim Indonesia di AJC 2026, Eskar Denatara, mengatakan hasil yang diraih di kejuaraan junior tingkat Asia menjadi bahan evaluasi penting bagi PBSI.
Meskipun target membawa pulang gelar juara belum tercapai, kejuaraan tersebut memberikan banyak pelajaran yang akan menjadi dasar pembenahan sebelum menghadapi WJC 2026.
Menurut Eskar, salah satu tantangan terbesar di AJC 2026 adalah format pertandingan beregu menggunakan sistem game 55 poin yang menuntut setiap tim mampu memanfaatkan momentum dalam waktu singkat.
“Ketika menghadapi Korea di fase grup, anak-anak mampu memanfaatkan momentum dengan baik sehingga berhasil meraih kemenangan. Sebaliknya saat melawan Malaysia dan Thailand, kami kehilangan beberapa poin penting pada momen-momen krusial. Secara kualitas kami mampu bersaing, tetapi lawan tampil lebih tenang karena memiliki pengalaman internasional yang lebih banyak,” ujar Eskar dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Ia menjelaskan secara umum kualitas teknik, kondisi fisik, serta mental para atlet Indonesia sudah menunjukkan perkembangan positif.
Namun, sejumlah aspek masih membutuhkan perhatian serius agar mampu bersaing secara konsisten di level dunia.
Salah satu pekerjaan rumah terbesar adalah meningkatkan kemampuan taktikal para pemain ketika menghadapi tekanan dalam pertandingan penting.
Selain itu, pengalaman bertanding di ajang internasional dinilai masih menjadi faktor pembeda dibandingkan negara-negara pesaing.
“Beberapa atlet bahkan baru menjalani debut internasional di AJC. Pengalaman menghadapi tekanan pada pertandingan besar menjadi hal yang harus terus dibangun agar mereka semakin matang,” katanya.
Pada nomor perorangan, Indonesia mencatat hasil yang cukup menjanjikan dengan menempatkan tujuh wakil di babak perempat final.
Prestasi terbaik datang dari sektor tunggal putra melalui Fardhan Joe yang sukses merebut medali perak, meningkat dibandingkan capaian medali perunggu pada edisi sebelumnya.
Meski demikian, PBSI menilai pencapaian tersebut belum cukup untuk memenuhi target yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, evaluasi dilakukan secara menyeluruh terhadap seluruh sektor.
Di sektor tunggal putri, Eskar menilai peningkatan kekuatan fisik menjadi prioritas utama.
Atlet-atlet putri dinilai masih memerlukan peningkatan pada aspek strength dan power endurance agar mampu menjaga performa sepanjang pertandingan melawan pemain-pemain terbaik Asia.
Sementara itu, sektor ganda putra mendapat perhatian khusus terkait kemampuan mengelola tekanan serta pengambilan keputusan pada poin-poin kritis.
Menurut Eskar, kualitas teknik pasangan Indonesia sebenarnya sudah mampu bersaing, tetapi ketenangan dalam situasi menentukan masih harus ditingkatkan.
“Sektor ganda putri menunjukkan perkembangan dengan meloloskan dua pasangan ke babak perempat final. Di sektor ganda campuran, pasangan-pasangan nonpelatnas juga mampu memberikan perlawanan yang cukup baik. Namun secara keseluruhan masih banyak detail yang harus kami benahi agar hasilnya lebih maksimal,” jelasnya.
Selain mengevaluasi performa atlet Indonesia, PBSI juga mencermati perkembangan kekuatan negara-negara peserta AJC 2026.
Eskar menyebut persaingan bulu tangkis junior Asia kini semakin merata dan kompetitif.
Jika sebelumnya dominasi hanya datang dari China, Jepang, dan Korea Selatan, kini negara-negara seperti Thailand, Hong Kong China, dan Chinese Taipei juga menunjukkan peningkatan signifikan.
Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa Indonesia harus terus meningkatkan kualitas pembinaan atlet usia muda agar tidak tertinggal dalam persaingan internasional.
“Karena itu kami tidak bisa hanya melihat hasil akhir. Kami harus terus meningkatkan kualitas pembinaan agar mampu mengikuti perkembangan persaingan yang semakin ketat,” katanya.
PBSI memastikan seluruh hasil evaluasi akan dijadikan dasar penyusunan program latihan menuju World Junior Championships 2026.
Fokus pembinaan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan teknik, tetapi juga memperkuat aspek fisik, strategi permainan, serta mental bertanding melalui lebih banyak keikutsertaan dalam turnamen internasional.
Jam terbang bertanding dinilai menjadi salah satu faktor penting agar para atlet terbiasa menghadapi tekanan pertandingan besar.
Pengalaman tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri sekaligus kemampuan mengambil keputusan pada situasi krusial.
Menutup evaluasinya, Eskar menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Indonesia karena tim belum mampu memenuhi target pada AJC 2026.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia karena belum berhasil meraih gelar juara di AJC 2026. Hasil ini tentu menjadi tanggung jawab kami. Ke depan kami akan menjadikan seluruh catatan dari AJC sebagai bahan pembenahan, baik dari sisi taktikal, peningkatan fisik, maupun penambahan jam terbang internasional. Kami berharap para atlet dapat menunjukkan penampilan yang lebih baik pada World Junior Championships nanti,” ujar Eskar.
Dengan evaluasi yang dilakukan sejak dini, PBSI optimistis para pebulu tangkis muda Indonesia mampu tampil lebih kompetitif di WJC 2026.
Perbaikan di berbagai sektor diharapkan menjadi modal penting untuk mengembalikan tradisi prestasi Indonesia di level junior dunia sekaligus melahirkan generasi penerus bulu tangkis nasional yang mampu bersaing di panggung internasional. (09/AGF).










