Kemenpora Perkuat Penggerak Olahraga Disabilitas di Majalengka

Kemenpora RI menggelar Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas "Berdaya" di Majalengka sebagai upaya meningkatkan partisipasi olahraga penyandang disabilitas. (Foto: IST/SP)

MAJALENGKA, JAWA BARAT, SUDUTPANDANG.ID — Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan ekosistem olahraga yang inklusif, setara, dan berkeadilan.

Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas “Berdaya” di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Program yang berlangsung selama dua hari tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian sertifikasi kepelatihan, tetapi juga dirancang sebagai strategi jangka panjang untuk melahirkan pelatih, pendamping, sekaligus agen perubahan yang mampu mengembangkan budaya olahraga bagi penyandang disabilitas hingga ke tingkat komunitas.

Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus Kemenpora, Ahmad Arsani, saat membuka kegiatan ToT Penggerak Olahraga Disabilitas “Berdaya” di Hotel Fitra, Majalengka, Kamis (16/7/2026).

Menurut Arsani, peningkatan jumlah pelatih dan penggerak olahraga menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan angka partisipasi olahraga di kalangan penyandang disabilitas di Indonesia.

Berdasarkan data yang dipaparkan Kemenpora, Indonesia memiliki sekitar 22,9 juta penyandang disabilitas, namun hanya 11,6 persen di antaranya yang aktif berolahraga.

Rendahnya tingkat partisipasi tersebut salah satunya disebabkan masih terbatasnya jumlah tenaga kepelatihan yang memiliki kompetensi di bidang olahraga disabilitas.

Saat ini, Indonesia baru memiliki sekitar 92 pelatih olahraga disabilitas yang berasal dari lingkungan National Paralympic Committee Indonesia (NPC Indonesia). Jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan kebutuhan pembinaan olahraga adaptif di seluruh daerah.

BACA JUGA  Kemenpora Buka Peluang Sinergi Kelola GBK

“Untuk mendongkrak partisipasi berolahraga serta mencetak lebih banyak atlet disabilitas berprestasi, kita membutuhkan peningkatan jumlah pelatih, pendamping, dan penggerak olahraga disabilitas yang kompeten. Itulah yang melatarbelakangi dicetuskannya program ToT ‘Berdaya’ ini,” ujar Arsani.

Ia menjelaskan, program “Berdaya” disusun secara sistematis melalui empat tahapan agar mampu menghasilkan pelatih yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan pembinaan olahraga adaptif di masyarakat.

Tahap pertama adalah pembentukan master trainer yang telah dilaksanakan pada April 2026.

Pada fase tersebut, Kemenpora melibatkan 30 atlet elite internasional yang mengikuti proses seleksi secara komprehensif sebelum dibekali kemampuan menjadi instruktur bagi pelatih-pelatih di daerah.

“Fase pertama telah dilaksanakan pada April lalu dengan melibatkan 30 atlet elite internasional. Peserta yang lulus seleksi komprehensif ini digembleng untuk siap menjadi instruktur bagi para pelatih di daerah,” jelas Arsani.

Tahap kedua merupakan pelaksanaan pelatihan intensif bagi pelatih lokal yang memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan olahraga disabilitas di wilayah masing-masing.

Melalui fase ini, peserta dibekali berbagai pengetahuan teknis dan metodologi kepelatihan agar mampu menjadi penggerak olahraga di tingkat komunitas.

Selanjutnya, fase ketiga adalah tahap aktualisasi, yaitu implementasi langsung hasil pelatihan di lapangan.

Pada tahap ini, para pelatih diharapkan mulai menerapkan ilmu yang diperoleh melalui pembinaan kepada kelompok penyandang disabilitas di daerah masing-masing.

BACA JUGA  BRI Liga 1 Musim 2024/2025 Dinilai Sejumlah Pemilik Klub Lebih Baik

“Fase ketiga merupakan aktualisasi, yakni periode implementasi langsung ketika para pelatih menerapkan keterampilan yang didapat di tingkat komunitas atau kelompok disabilitas,” katanya.

Tahapan terakhir adalah monitoring dan evaluasi, yang bertujuan mengukur efektivitas program sekaligus mengevaluasi dampak pelatihan terhadap peningkatan partisipasi olahraga penyandang disabilitas.

Melalui proses evaluasi tersebut, Kemenpora akan menyusun laporan capaian sekaligus merumuskan langkah pengembangan program pada masa mendatang.

Program ToT “Berdaya” di Kabupaten Majalengka diikuti oleh 120 peserta yang berasal dari berbagai unsur penggerak olahraga disabilitas di wilayah tersebut.

Untuk menjamin kualitas pelatihan, Kemenpora menghadirkan para narasumber dan instruktur yang memiliki kompetensi di bidang olahraga adaptif, mulai dari praktisi, akademisi, hingga tenaga kepelatihan yang berpengalaman dalam pembinaan atlet disabilitas.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi yang disusun secara komprehensif guna memperkuat kemampuan teknis maupun pemahaman konseptual mengenai olahraga adaptif.

Materi yang diberikan mencakup konsep dasar olahraga adaptif dan para sport, pengenalan cabang olahraga paralimpik beserta sistem pembinaannya, hingga klasifikasi olahraga disabilitas berdasarkan karakteristik hambatan yang dimiliki atlet.

Selain itu, peserta juga memperoleh pembelajaran mengenai metode pelatihan adaptif yang menitikberatkan pada penyusunan program latihan yang aman, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan atlet penyandang disabilitas.

Kemenpora juga memberikan materi mengenai identifikasi bakat, yaitu teknik mengenali potensi olahraga adaptif sejak usia dini sehingga pembinaan atlet dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.

BACA JUGA  Reklame Besar Roboh Saat Hujan Landa Bogor, Lapak Satai-2 Motor Tertimpa

Menurut Arsani, peningkatan kapasitas sumber daya manusia merupakan fondasi penting dalam membangun sistem pembinaan olahraga disabilitas yang kuat.

Keberadaan pelatih dan penggerak olahraga yang kompeten di setiap daerah diharapkan mampu membuka akses yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, baik sebagai bagian dari gaya hidup sehat maupun sebagai atlet berprestasi.

“Melalui program ini, Kemenpora berharap dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi pemenuhan hak berolahraga yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Arsani.

Melalui program ToT Penggerak Olahraga Disabilitas “Berdaya”, Kemenpora menegaskan komitmennya dalam memperluas akses olahraga bagi penyandang disabilitas sekaligus memperkuat pembinaan atlet paralimpik nasional.

Dengan semakin banyaknya pelatih dan penggerak olahraga yang kompeten, diharapkan partisipasi masyarakat disabilitas dalam olahraga terus meningkat dan melahirkan lebih banyak atlet berprestasi yang mampu mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. (09/AGF).