Opini  

Bangsa Besar Tak Boleh Hidup dalam Kemunafikan

Heru Riyadi: Bangsa Besar Tak Boleh Hidup dalam Kemunafikan
Heru Riyadi, S.H., M.H. (Foto: Dok. Pribadi)

“Bangsa yang besar membutuhkan masyarakat yang berani berkata benar, termasuk ketika kebenaran itu tidak selalu menyenangkan untuk didengar.”

Oleh: Heru Riyadi, S.H., M.H.

Tidak semua orang yang tersenyum di depan kita benar-benar mendukung kita. Ada orang yang berani menyampaikan ketidaksetujuannya secara langsung. Meski terkadang tidak nyaman didengar, sikap seperti itu justru lebih jujur.

Dari ketidaksetujuan yang disampaikan secara terbuka, kita masih dapat berdiskusi, memahami perbedaan.dan memperbaiki kesalahan jika memang ada.

Masalah sering kali muncul ketika ketidaksetujuan disimpan dalam diam. Seseorang tidak menyampaikan apa yang dipikirkannya secara langsung, tetapi mengeluhkan persoalan tersebut kepada orang lain. Kritik tidak disampaikan secara terbuka, tetapi rasa tidak suka justru berkembang di belakang.

Kondisi seperti itu dapat memperbesar kesalahpahaman karena persoalan tidak pernah dibicarakan secara langsung.

Kejujuran membutuhkan keberanian. Mengatakan “saya tidak setuju” sering kali lebih sulit daripada berpura-pura setuju. Namun, hubungan yang sehat, baik dalam pertemanan, pekerjaan maupun organisasi, membutuhkan keterbukaan.

BACA JUGA  Bagaimana Puasanya?

Ketidaksetujuan sebenarnya bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Yang perlu dihindari adalah ketidaksetujuan yang disembunyikan di balik sikap manis dan kepura-puraan.

Kritik yang disampaikan secara terbuka masih memberikan kesempatan bagi seseorang atau sebuah organisasi untuk melakukan evaluasi dan perbaikan. Sebaliknya, ketidakjujuran dapat memicu persoalan yang tidak terlihat sejak awal.

Catatan Mochtar Lubis

Mochtar Lubis, jurnalis dan novelis, pernah mengulas karakter manusia Indonesia dalam pidato kebudayaannya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 6 April 1977. Pidato tersebut kemudian dibukukan dengan judul “Manusia Indonesia”.

Dalam pidato tersebut, Mochtar Lubis menguraikan sejumlah karakter manusia Indonesia. Salah satu yang ditempatkannya sebagai karakter pertama adalah sifat hipokrit atau munafik.

Hipokrit dalam konteks tersebut merujuk pada kecenderungan menampilkan sikap yang berbeda antara apa yang disampaikan di depan dan apa yang dilakukan di belakang.

BACA JUGA  Analisis Terhadap Dugaan Kasus Pengeroyokan Oleh Ormas Pemuda Pancasila Terhadap AKBP Dermawan Karosekali

Sikap tersebut juga berkaitan dengan ketidakjujuran terhadap diri sendiri, yakni menampilkan diri seolah-olah benar atau suci, tetapi melakukan hal yang bertentangan secara diam-diam.

Mochtar Lubis juga mengaitkan kecenderungan tersebut dengan akar feodalisme. Menurutnya, tekanan dalam sistem sosial masa lalu dapat mendorong seseorang untuk berpura-pura demi keselamatan, mendapatkan kedudukan, atau mencari muka.

Kejujuran sebagai Bagian dari Etika

Dalam kehidupan bermasyarakat, keberanian menyampaikan pendapat secara terbuka merupakan bagian dari etika komunikasi.

Berbeda pendapat bukan berarti bermusuhan. Kritik juga tidak selalu berarti menjatuhkan. Sebaliknya, kritik yang disampaikan dengan argumentasi dan itikad baik dapat menjadi sarana untuk memperbaiki kesalahan.

Karena itu, kita perlu membangun kebiasaan untuk menyampaikan ketidaksetujuan secara langsung, santun, dan berdasarkan alasan yang jelas.

Dalam organisasi, keterbukaan menjadi semakin penting. Pemimpin membutuhkan masukan yang jujur, sedangkan anggota membutuhkan ruang untuk menyampaikan kritik tanpa harus menyembunyikan pendapatnya.

BACA JUGA  Memaknai Ketidakhadiran Prabowo Subianto di HPN 2026

Bangsa yang besar membutuhkan masyarakat yang berani berkata benar, termasuk ketika kebenaran itu tidak selalu menyenangkan untuk didengar.

Menghindari kemunafikan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Justru perbedaan pendapat perlu ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Yang terpenting adalah adanya kejujuran antara apa yang dikatakan, apa yang diyakini, dan apa yang dilakukan.

*Penulis adalah Dosen Etika Profesi Fakultas Hukum Universitas Pamulang (FH Univpam), Penasihat Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat