Untuk Bertahan Hidup, Satwa Liar Perluas Wilayah Jelajah Saat El-Nino-Kemarau Panjang

satli elnino
Petugas memeriksa satu individu anak orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang akan dipindahkan di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat, Jumat (21/8/2026). Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melakukan pemindahan atau translokasi tiga individu orang utan kalimantan di Kabupaten Ketapang, sebagai bentuk mitigasi dan perlindungan dari dampak puncak musim kemarau. FOTO: HO-Kemenhut

MATARAM-NTB, SUDUTPANDANG.ID – Kemarau panjang yang beriringan dengan fenomena El Nino mendorong satwa liar harus menyesuaikan perilaku untuk bertahan hidup, yakni memperluas wilayah jelajah agar bisa terus mencari air dan pakan, demikian dikemukakan Guru Besar Bidang Ekologi Hewan dari Universitas Mataram (Unram), Prof Dr I Wayan Suana, S.Si, M.Si.

Dalam pernyataan yang dikutip di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (16/9/2026), ia menyatakan kondisi kekeringan akibat kemarau panjang membuat satwa harus menyesuaikan perilaku untuk bertahan hidup, termasuk mengubah waktu aktivitas serta meningkatkan pergerakan untuk mencari sumber air, makanan, dan tempat yang lebih teduh.

“Pada kondisi yang ekstrem, tekanan kekeringan dapat menyebabkan home range atau wilayah jelajah menjadi lebih luas, karena sumber daya yang biasanya tersedia di satu lokasi menjadi semakin terbatas,” katanya.

Disampaikannya bahwa kondisi tersebut juga mempengaruhi pola makan satwa, terutama kelompok pemakan rumput, daun, buah, dan biji.

BACA JUGA  Malam hingga Pagi Hari di Bali Terasa Lebih Dingin, BMKG Ungkap Penyebabnya

Kekeringan, tambahnya, menyebabkan tumbuhan bawah mengering serta produksi daun muda dan buah menurun sehingga satwa harus mencari sumber pakan alternatif.

“Interaksi antarhewan juga dapat meningkat di sekitar sumber air yang tersisa, sehingga berpotensi meningkatkan kompetisi untuk memperebutkan sumberdaya yang terbatas,” katanya.

Ia memberi contoh pada perubahan produksi buah dan biji pada pohon pakan burung kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea occidentalis), yang dapat mendorong satwa tersebut meningkatkan pergerakan antarlokasi untuk menemukan sumber makanan yang masih tersedia.

Selain itu, kata dia, kemarau panjang turut mempengaruhi reproduksi satwa. Ketika ketersediaan pakan menurun dan kondisi tubuh induk melemah, maka satwa cenderung menunda perkembangbiakan karena energi lebih diprioritaskan untuk mempertahankan hidup.

Ia menjelaskan kelompok hewan yang dinilai rentan terhadap kemarau antara lain satwa hutan yang bergantung terhadap jenis pohon tertentu, pemakan buah dan biji, amfibi, satwa kecil dengan wilayah jelajah terbatas, serta satwa yang hidup di kawasan hutan terfragmentasi.

BACA JUGA  Hadapi Ancaman Kemarau, PTPN IV PalmCo Perkuat Deteksi Dini Karhutla dan Strategi Agronomi

Untuk itu, ia mengingatkan ketersediaan sumber air alami di habitat perlu dipertahankan untuk mengurangi tekanan terhadap satwa selama periode musim kering.

“Jika diperlukan, sumber air buatan dapat disediakan secara terbatas dan dikelola agar tidak menimbulkan konsentrasi satwa yang terlalu tinggi,” katanya.

Selain sumber air, kata dia, pohon besar, pohon pakan, dan pohon yang memiliki lubang sarang perlu dipertahankan untuk memastikan satwa tetap memiliki tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak.

Berbagai upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan, menurut dia, menjadi langkah penting karena vegetasi yang mengering selama kemarau meningkatkan risiko kebakaran yang dapat menyebabkan hilangnya habitat satwa dalam waktu singkat.

BACA JUGA  Keretakan Terjadi di Terowongan Tol Cisumdawu dan RSUD Akibat Gempa Sumedang

“Intinya jangan hanya menyelamatkan hewannya ketika kemarau sudah terjadi. Kita harus meningkatkan ketahanan ekosistemnya sebelum kekeringan datang,” katanya.

Hutan yang sehat dengan vegetasi beragam, pohon pakan yang cukup, sumber air, dan konektivitas habitat akan memberikan peluang lebih besar bagi hewan untuk beradaptasi terhadap El Nino dan perubahan iklim, demikian I Wayan Suana. (red/ant/02)