SUDUTPANDANG.ID – Selat Hormuz masih belum dibuka kembali untuk pelayaran setelah Iran menyatakan menunggu Amerika Serikat (AS) memenuhi komitmen dalam kesepakatan yang dicapai kedua negara pada Juni 2026.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengatakan, Teheran telah menyampaikan persyaratan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut kepada pihak AS melalui para perantara.
Pernyataan itu disampaikan Qalibaf dalam pidatonya di hadapan parlemen Iran, Minggu (20/9/2026), sebagaimana dilaporkan Anadolu mengutip stasiun penyiaran pemerintah Iran, IRIB.
Menurut Qalibaf, Iran tidak akan kembali pada kondisi perundingan sebelumnya ataupun membuka Selat Hormuz sebelum persyaratan yang diajukan Teheran dipenuhi dan hak-hak yang disebut sebagai hak sah rakyat Iran diakui.
“Selama persyaratan ini tidak dipenuhi, hak-hak sah rakyat Iran tidak diakui, dan komitmen Amerika tidak dipenuhi, tidak akan ada peluang untuk kembali ke kondisi perundingan sebelumnya atau membuka kembali Selat Hormuz,” kata Qalibaf.
Kesepakatan Juni Belum Tuntas
Persoalan pembukaan Selat Hormuz berkaitan dengan kesepakatan sementara yang dicapai AS dan Iran pada Juni 2026.
Kesepakatan tersebut mencakup penghentian operasi militer serta pengaturan untuk memastikan pelayaran komersial dapat kembali melintasi selat tersebut.
Pakistan dan Qatar sebelumnya berperan sebagai mediator dalam proses pembicaraan kedua negara.
Dalam kesepakatan itu, kedua pihak juga menyepakati sejumlah mekanisme untuk mencegah insiden dan kesalahpahaman, termasuk jalur komunikasi serta pembentukan mekanisme dekonflikasi.
Namun, implementasi kesepakatan tersebut kemudian menghadapi perselisihan, termasuk terkait pengaturan pelayaran dan keamanan di Selat Hormuz.
Sebelumnya, Qalibaf juga menyatakan Iran tidak akan membuka kembali selat tersebut selama komitmen AS dalam kesepakatan belum dijalankan.
Komitmen yang disebut Iran antara lain berkaitan dengan pencabutan blokade, pembebasan aset yang dibekukan, pencabutan sanksi minyak, serta penghentian ancaman dan operasi militer.
Selat Strategis
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran strategis dunia yang menjadi rute penting bagi pengiriman minyak dan gas.
Penutupan jalur tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS, Israel, dan Iran. Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang kemudian diikuti respons Iran terhadap sejumlah negara di kawasan yang menjadi lokasi aset militer AS.
Kondisi tersebut membuat status Selat Hormuz menjadi bagian penting dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran.
Hingga Minggu (20/9/2026), pernyataan Qalibaf menunjukkan bahwa Iran masih mengaitkan pembukaan kembali jalur tersebut dengan pemenuhan komitmen AS dan persyaratan yang telah disampaikan melalui perantara.(Red)











