Harga Minyak Bertahan di Atas US$ 100 di Tengah Serangan Houthi ke Arab Saudi

Avatar photo
Harga Minyak Mentah Dunia Indonesia Turun ke US$ 106,56 per Barel, Ini Penyebabnya. Selat Hormuz
Ilustrasi

SUDUT PANDANG.ID – Harga minyak mentah dunia masih bertahan di atas level US$100 per barel di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah Arab Saudi.

Dikutip dari Reuters, Senin (21/9/2026), harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$103 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di sekitar US$100 per barel.

Harga minyak tertekan oleh harapan bahwa Arab Saudi dapat memulihkan sebagian pasokan minyaknya, meski risiko gangguan pasokan masih menjadi perhatian pasar.

Serangan Houthi terjadi pada Sabtu (19/9/2026) dengan sasaran sejumlah lokasi di Riyadh.

Pemerintah Arab Saudi menyatakan pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal balistik yang diarahkan ke ibu kota.

BACA JUGA  Diduga Korupsi Ekspor CPO, 11 Terdakwa Diadili di Pengadilan Tipikor Jakarta

Serangan tersebut menjadi salah satu eskalasi terbaru dalam konflik antara Arab Saudi dan Houthi yang didukung Iran.

Selain Riyadh, upaya serangan juga dilaporkan menyasar infrastruktur sipil di Yanbu, Taif, Baysh dan Farasan.

Serangan-serangan tersebut disebut berhasil digagalkan oleh pihak Arab Saudi.

Di Riyadh, suara ledakan dan kepulan asap sempat terlihat di sekitar kawasan bandara. Pemerintah setempat kemudian mencabut peringatan bahaya serangan udara.

Tidak ada laporan mengenai korban jiwa dalam serangan tersebut.

Kelompok Houthi sebelumnya mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi yang disebut sensitif di Riyadh serta fasilitas Saudi Aramco di Yanbu.

Houthi juga mengklaim serangan tersebut menimbulkan kebakaran besar, tetapi tidak menyertakan bukti untuk mendukung klaim tersebut.

BACA JUGA  Klik di Sini, Arab Saudi Rilis Panduan Haji Online Berbahasa Indonesia

Aramco juga belum memberikan tanggapan terkait klaim serangan terhadap fasilitasnya. Yanbu merupakan salah satu pusat ekspor minyak penting Arab Saudi.

Di sisi lain, perkembangan tersebut menambah perhatian pasar terhadap keamanan infrastruktur dan jalur distribusi energi di kawasan Timur Tengah.

Arab Saudi disebut meningkatkan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz setelah sebagian pengiriman melalui Yanbu sebelumnya terganggu

Dengan kondisi tersebut, pasar minyak masih mencermati perkembangan konflik di kawasan, termasuk kemampuan Arab Saudi memulihkan aliran ekspor dan potensi gangguan terhadap jalur pelayaran serta infrastruktur energi.(Red)

Sumber: Reuters