Marciano Puji Prestasi Berkuda Memanah Indonesia

Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman menerima kepulangan tim nasional berkuda memanah Indonesia yang meraih tujuh medali emas, tiga perak, dan tiga perunggu serta menjadi juara umum IHAA Greater Asian Championship 2026 di Moskow, Rusia. (Foto: AGF/SP)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Tim nasional berkuda memanah Indonesia mencatat prestasi gemilang pada ajang IHAA Greater Asian Championship 2026 di Moskow, Rusia.

Kontingen Indonesia membawa pulang 13 medali yang terdiri atas tujuh emas, tiga perak, dan tiga perunggu sekaligus mengantarkan Merah Putih menjadi juara umum.

Prestasi tersebut disampaikan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Marciano Norman saat menerima kepulangan atlet binaan Federasi Nasional Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (FN Pordasi) Berkuda Memanah atau Indonesian Horseback Archery Federation (IHAF), Kamis (1/10/2026).

Dalam kejuaraan yang berlangsung pada 25-27 September 2026 itu, Indonesia mengoleksi 519.491 poin.

Raihan tersebut menempatkan Indonesia di posisi teratas, mengungguli tuan rumah Rusia dan Kazakhstan.

Marciano menyampaikan apresiasi kepada para atlet, pelatih, ofisial, federasi, serta orang tua yang turut mendukung perjalanan tim Indonesia hingga mampu mencatatkan prestasi di level internasional.

Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman menerima kepulangan tim nasional berkuda memanah Indonesia yang meraih tujuh medali emas, tiga perak, dan tiga perunggu serta menjadi juara umum IHAA Greater Asian Championship 2026 di Moskow, Rusia. (Foto: AGF/SP)

“Penghormatan yang tinggi kepada atlet-atlet kita yang meraih tujuh medali emas, tiga medali perak, dan tiga medali perunggu dalam kejuaraan yang besar ini,” ujar Marciano.

Menurut dia, keberhasilan tersebut dapat menjadi salah satu catatan penting dalam perkembangan olahraga berkuda memanah Indonesia.

Marciano juga meminta pembinaan atlet terus diperkuat. Menurutnya, prestasi internasional harus diikuti dengan sistem kompetisi nasional yang berjalan secara berjenjang agar regenerasi atlet tetap terjaga.

Ia menyebut pembinaan dapat dilakukan melalui berbagai kompetisi, mulai dari Liga Santri, kejuaraan nasional, kejuaraan daerah, hingga Pekan Olahraga Provinsi.

BACA JUGA  Marciano Lepas 15 Atlet Tenis Meja ke Taiwan

Rangkaian kompetisi tersebut dinilai penting untuk memberikan pengalaman bertanding kepada atlet sebelum tampil di level internasional.

“Untuk bisa kita tidak saja jadi juara Asia, tetapi juga juara dunia, tata gelar kompetisi nasionalnya itu yang harus kita atur sebaik-baiknya,” kata Marciano.

Perkembangan berkuda memanah, lanjut dia, juga terlihat dari semakin banyaknya peserta yang berasal dari lingkungan pesantren.

Liga Santri dan berbagai kejuaraan menjadi bagian dari ekosistem pembinaan olahraga tersebut.

Berkuda memanah sebelumnya juga telah tampil sebagai cabang olahraga ekshibisi pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara 2024.

Marciano berharap cabang olahraga tersebut dapat terus berkembang dan memperoleh ruang kompetisi yang lebih luas pada penyelenggaraan PON berikutnya.

Ia juga mengingatkan para atlet agar tidak cepat berpuas diri dengan pencapaian di Moskow.

Menurut Marciano, tantangan berikutnya akan semakin besar karena perkembangan berkuda memanah juga berlangsung di berbagai negara.

“Event-event besar yang akan diikuti masih banyak lagi. Jangan cepat berpuas diri,” ujarnya.

Persaingan Ketat di Rusia

Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman menerima kepulangan tim nasional berkuda memanah Indonesia yang meraih tujuh medali emas, tiga perak, dan tiga perunggu serta menjadi juara umum IHAA Greater Asian Championship 2026 di Moskow, Rusia. (Foto: AGF/SP)

Salah satu atlet Indonesia, Arsa Wening Arrosyad, mengungkapkan persaingan pada IHAA Greater Asian Championship 2026 berlangsung ketat.

Atlet yang memperkuat kontingen DKI Jakarta itu turun di kategori youth bersama Hammas Syauqi Syahid.

Selain kategori youth, Indonesia juga mengirim atlet untuk kategori junior dan senior.

BACA JUGA  Tetap Berprestasi di Tengah Pandemi, Ini Harapan Ketua Umum KONI Pusat

Dzaakir Al Hanif tampil di kategori junior, sedangkan Tio Fawaz Ananta berlaga pada kategori senior.

Arsa mengatakan persaingan antaratlet semakin kompetitif karena olahraga panahan berkuda terus berkembang di berbagai negara.

“Persaingannya cukup ketat karena sekarang semua negara berkembang tentang panahan berkuda ini. Jadi kita tetap harus berkembang juga dan jangan berpuas diri,” kata Arsa.

Menurut dia, pencapaian di Rusia tidak boleh menjadi tolok ukur akhir. Atlet Indonesia masih memiliki target yang lebih jauh dan harus terus meningkatkan kemampuan, termasuk menghadapi kondisi pertandingan yang berbeda di setiap negara.

Salah satu tantangan utama adalah kemampuan beradaptasi dengan kuda yang disediakan panitia.

Atlet tidak selalu dapat bertanding menggunakan kuda yang biasa digunakan dalam latihan di Indonesia.

Arsa menjelaskan, peserta mendapatkan kesempatan mencoba sejumlah kuda yang disiapkan panitia sebelum menentukan pilihan.

Dari sekitar 10 kuda yang tersedia, atlet memilih kuda yang dinilai paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Proses adaptasi tidak berhenti setelah pemilihan kuda. Atlet juga membangun kedekatan dengan kuda yang akan digunakan agar tercipta hubungan dan koordinasi yang baik ketika bertanding.

Selain kuda, kondisi cuaca juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan.

Perbedaan suhu antara Indonesia dan Rusia membuat atlet perlu menyesuaikan perlengkapan, termasuk pakaian yang digunakan selama berada di arena pertandingan.

Tiga Kali ke Rusia, Tiga Kali Bawa Emas

Bagi Arsa, keberhasilan di Moskow juga memiliki arti tersendiri. Ia mengungkapkan bahwa keikutsertaan pada 2026 merupakan kali ketiganya tampil di Rusia.

BACA JUGA  Rakernas dan Musornaslub KONI 2026 Hasilkan Sejumlah Keputusan Strategis

Sebelumnya, Arsa juga pernah bertanding di Rusia pada 2023 dan 2024. Dari tiga keikutsertaannya tersebut, ia mengaku selalu berhasil membawa pulang medali emas.

Meski demikian, pencapaian tersebut tidak membuatnya ingin berhenti berkembang. Ia justru menilai persaingan internasional menjadi tantangan untuk meningkatkan kemampuan atlet dan tim Indonesia.

Ke depan, Marciano berharap seluruh pemangku kepentingan olahraga memberikan dukungan berkelanjutan terhadap atlet berkuda memanah.

Dukungan tersebut mencakup federasi, pelatih, ofisial, orang tua, KONI di tingkat pusat dan daerah, perguruan tinggi, hingga media.

“Kita harus bersatu untuk kita bisa meraih prestasi dunia,” tegas Marciano.

Dengan tujuh medali emas, tiga perak, dan tiga perunggu di Moskow, berkuda memanah Indonesia kini memiliki modal prestasi untuk melanjutkan pembinaan dan memperluas kompetisi nasional.

Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi prestasi sekaligus menyiapkan atlet menghadapi persaingan internasional yang semakin kompetitif. (AGF/09)