Marciano Norman Minta PB ABTI Satukan Indonesia Lewat Bola Tangan

PB ABTI
Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman mengukuhkan Zulfydar Zaidar Mochtar sebagai Ketua Umum PB ABTI periode 2026–2030 di Jakarta, Kamis (5/11/2026). (Foto: KONI/SP).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Marciano Norman mengajak Pengurus Besar Asosiasi Bola Tangan Indonesia (PB ABTI) menjadikan olahraga sebagai sarana memperkuat persatuan bangsa sekaligus meningkatkan prestasi Indonesia di tingkat internasional.

Pesan tersebut disampaikan Marciano saat mengukuhkan dan melantik Zulfydar Zaidar Mochtar sebagai Ketua Umum PB ABTI masa bakti 2026–2030 di The Tavia Heritage Hotel, Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Pelantikan tersebut menandai dimulainya periode kedua kepemimpinan Zulfydar di PB ABTI. Momentum ini diharapkan menjadi pijakan bagi organisasi untuk memperkuat pembinaan atlet, memperluas jangkauan bola tangan di daerah, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam berbagai kejuaraan internasional.

Dalam periode sebelumnya, PB ABTI mencatat sejumlah hasil positif. Tim Indonesia meraih satu medali perak dan dua perunggu pada Women’s IHF Nations Trophy Asia Zone IB 2026.

Selain itu, tim bola tangan indoor putra Indonesia juga berhasil menyumbangkan medali perunggu pada SEA Games ke-33 Thailand.

Pencapaian tersebut menjadi modal bagi PB ABTI untuk meningkatkan kualitas pembinaan dan menargetkan prestasi lebih tinggi pada periode kepengurusan 2026–2030.

Zulfydar menegaskan, bola tangan tidak hanya diarahkan untuk mengejar prestasi, tetapi juga menjadi olahraga yang mampu menyatukan masyarakat Indonesia di tengah keberagaman.

“Melalui bola tangan, kita ingin menyatukan Indonesia. Dalam olahraga tidak ada perbedaan, karena olahraga menjadi ruang bagi seluruh masyarakat untuk bersatu, berjuang, dan mengukir prestasi,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, PB ABTI saat ini telah memiliki kepengurusan di 28 provinsi. Organisasi tersebut akan terus memperluas jangkauan pembinaan sekaligus memperkuat fondasi kompetisi nasional.

BACA JUGA  DKI Keluarkan Rp17,8 Triliun Untuk Bantuan

Salah satu langkah yang disiapkan adalah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) untuk merumuskan program kerja dan kebijakan organisasi pada 2027.

PB ABTI juga memprioritaskan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan pelatih dan wasit. Pengembangan kompetisi berjenjang, termasuk liga pelajar yang dimulai dari daerah, menjadi bagian dari strategi pembinaan jangka panjang.

Menurut Zulfydar, kompetisi di tingkat pelajar dan daerah memiliki peran penting dalam menemukan atlet potensial. Mereka nantinya dipersiapkan untuk memperkuat Indonesia dalam ajang SEA Games, Asian Games, hingga kejuaraan internasional lainnya.

PB ABTI juga berharap dukungan berkelanjutan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), KONI Pusat, dan Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), terutama dalam pengembangan SDM, penyediaan sarana dan prasarana, serta peningkatan kualitas kompetisi.

Agenda Youth Women Junior Asia pada tahun mendatang turut menjadi perhatian organisasi. Persiapan atlet dan kesinambungan program pembinaan dinilai penting untuk menghadapi kompetisi tersebut.

Zulfydar optimistis bola tangan Indonesia dapat berkembang apabila seluruh pemangku kepentingan bersinergi.

“Kita harus mampu memanfaatkan seluruh fasilitas dan potensi yang dimiliki. Dengan kerja sama dan dukungan seluruh pemangku kepentingan olahraga, saya yakin bola tangan Indonesia dapat berkembang dan bersaing di tingkat dunia,” katanya.

Marciano Norman mengapresiasi perkembangan bola tangan Indonesia serta upaya PB ABTI dalam meningkatkan popularitas dan prestasi cabang olahraga tersebut.

BACA JUGA  Pemkot Bekasi Siapkan Lomba Teknologi Tepat Guna 2024

Ia menekankan, keberhasilan olahraga tidak hanya bergantung pada kemampuan atlet, tetapi juga membutuhkan sistem pembinaan berkelanjutan, dukungan organisasi, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga atau sport science.

“Prestasi PB ABTI tidak akan tercapai tanpa dukungan pembinaan yang baik. Perguruan tinggi juga memiliki peran penting, khususnya dalam penerapan sport science untuk meningkatkan kualitas atlet,” tutur Marciano.

Menurutnya, pembinaan bola tangan perlu dimulai dari lingkungan sekolah dan dilanjutkan melalui kompetisi berjenjang di tingkat daerah hingga nasional.

Marciano juga mendorong pemerintah daerah memanfaatkan berbagai momentum, termasuk peringatan hari jadi daerah, untuk menyelenggarakan kejuaraan bola tangan. Kompetisi tersebut diharapkan melibatkan atlet kelompok usia youth, junior, hingga senior.

Ia menilai bola tangan memiliki potensi besar untuk berkembang di Indonesia karena karakteristiknya yang dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

“Bola tangan merupakan cabang olahraga yang cukup merakyat. Apabila potensi ini tidak kita manfaatkan dengan baik, tentu kita akan rugi. Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk yang sangat banyak. Potensi tersebut harus kita optimalkan melalui olahraga,” ungkapnya.

Marciano menegaskan, olahraga memiliki fungsi strategis sebagai sarana memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, bukan sekadar mengejar medali.

Ia berharap bola tangan dapat berkontribusi terhadap pembangunan olahraga nasional sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia melalui prestasi internasional.

Dukungan terhadap penguatan organisasi PB ABTI juga disampaikan perwakilan Kemenpora RI melalui Plt. Sekretaris Deputi.

Kemenpora mendorong organisasi olahraga menerapkan tata kelola profesional, transparan, dan berorientasi pada prestasi. Sinergi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta perguruan tinggi juga dinilai penting untuk memperkuat pembinaan atlet.

BACA JUGA  Pemkab Asahan Gelar Upacara Peringatan Hari Pahlawan

Kepengurusan PB ABTI periode 2026–2030 diharapkan mampu memperluas pembinaan hingga ke daerah, meningkatkan kualitas kompetisi, serta memperkuat sumber daya manusia.

Dalam waktu dekat, bola tangan Indonesia akan menghadapi sejumlah agenda sebagai bagian dari persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028 di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Agenda tersebut meliputi PON Pantai I di DKI Jakarta dan kejuaraan Youth Women Junior Asia.

Marciano berharap seluruh pemangku kepentingan dapat menjadikan olahraga sebagai kekuatan pemersatu bangsa sekaligus mendukung visi pembangunan nasional.

Melalui kolaborasi PB ABTI, KONI, NOC Indonesia, Kemenpora, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait, bola tangan Indonesia diharapkan semakin berkembang serta mampu melahirkan atlet yang mengharumkan nama Merah Putih di panggung internasional.(AGF/04)