“Bagi penderita penyakit celiac, gluten memang berbahaya. Penyakit autoimun ini membuat sistem kekebalan menyerang lapisan usus halus ketika gluten masuk, sehingga penyerapan nutrisi terganggu”
Oleh: Dr.Kemal H Simanjuntak,MBA
Dalam beberapa tahun terakhir, gluten kerap dituding sebagai biang keladi berbagai keluhan kesehatan modern. Roti, mi, hingga tepung terigu dipandang seolah ancaman bagi tubuh. Padahal, penyederhanaan semacam ini lebih banyak menyesatkan daripada mencerahkan.
Memahami gluten secara proporsional
Gluten adalah kelompok protein, terutama gliadin dan glutenin, yang terdapat dalam gandum, jelai, dan gandum hitam (rye). Protein inilah yang membuat adonan roti elastis dan kenyal.
Bagi penderita penyakit celiac, gluten memang berbahaya. Penyakit autoimun ini membuat sistem kekebalan menyerang lapisan usus halus ketika gluten masuk, sehingga penyerapan nutrisi terganggu.
Satu-satunya terapi yang terbukti adalah menghindari gluten seumur hidup. Alergi gandum dan sensitivitas gluten non-celiac juga ada, meski mekanismenya berbeda dan lebih jarang ditemui.
Persoalannya ada pada generalisasi
Penderita celiac diperkirakan hanya sekitar satu persen populasi. Bahaya bagi satu persen orang tidak otomatis berarti bahaya bagi sembilan puluh sembilan persen lainnya.
Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa gluten merusak usus atau memicu penyakit kronis pada orang yang sehat. Jutaan orang mengonsumsinya sepanjang hidup tanpa masalah.
Menganggap semua makanan berbahan gandum sebagai penyebab penyakit adalah kekeliruan logika yang berisiko.
- Pertama, diet bebas gluten tanpa indikasi medis tidak otomatis lebih sehat. Produk bebas gluten kerap lebih rendah serat dan nutrisi, serta harganya lebih mahal.
- Kedua, menghindari gluten sebelum diperiksa justru dapat menyamarkan diagnosis, karena tes celiac hanya akurat bila seseorang masih mengonsumsinya.
- Ketiga, tudingan pada gluten dapat mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih nyata, seperti konsumsi gula berlebih, makanan ultra-olahan, dan minimnya aktivitas fisik.
Literasi kesehatan, bukan ketakutan
Fenomena ini mengingatkan bahwa informasi kesehatan perlu dicerna dengan kritis. Tren gaya hidup sering menyebar lebih cepat daripada bukti ilmiah, dan label “bebas ini” atau “tanpa itu” kerap menjadi strategi pemasaran ketimbang jaminan kesehatan.
Pesannya sederhana. Gluten adalah ancaman nyata bagi kelompok tertentu, tetapi bukan racun bagi semua orang. Jika Anda mengalami gejala seperti diare kronis, perut kembung berkepanjangan, atau anemia tanpa sebab jelas, periksakan diri ke dokter sebelum menghentikan konsumsi gluten. Keputusan diet sebaiknya didasarkan pada diagnosis, bukan sekadar ikut arus.
*Penulis adalah Kemal H Simanjuntak adalah Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)









